Tags

, , ,


Libur tengah tahun, saat kenaikan kelas, telah tiba belas hari lalu. Sampai hari ini krucil masih di rumah, belum ada tanda-tanda Bapaknya ngajak jalan-jalan, walaupun gaji ke-13 sudah masuk rekening… Seribu satu alasan pembenaran “liburan di rumah” akan terucap jika ditanyakan. Permasalahan ini selalu muncul enam-bulanan, saat libur panjang ataupun pendek: karena libur adalah saatnya jalan-jalan, mendapatkan suasana lain dari suasana keseharian.

Persoalan ortu adalah: kalau setiap liburan harus “keluar rumah”, maka RAB (Rencana Anggaran Berlibur) akan meningkat. Kemanapun lokasi dituju, RAB akan meningkat, karena semua harga tanda masuk (jika ke wahana rekreasi) atau biaya akomodasi (jika ke situs tertentu) naik diatas rerata saat liburan tiba.

Libur kali ini, setidaknya sampai tulisan ini di-publish, krucil mampu bertahan di rumah dengan berbagai kegiatan ringan yang (semoga) menyenangkan. Apa yang bisa dilakukan di rumah..? Wah banyak sekali.

Yang pertama adalah menguasai komputer dari pagi hingga malam. Aktifitas di komputer adalah 20% main games, sisanya main internet (games juga). Kekuasaan ini menyingkirkan pengguna lain yang sudah antri… bapak dan ibunya… hehehe… Mengingat penguasaan ini juga bisa berakibat negatif dari sisi kegiatan motorik, verbal, dan juga radiasi monitor, maka pengalihan pun dilakukan. Ini bukan akal-akalan dalam rangka mengembalikan hegemoni terhadap satu-satunya komputer PC di rumah, tetapi murni untuk “bermain” dengan krucil dengan memanfaatkan banyak hal.

Permainan pertama adalah tiap hari krucil menuliskan kata dalam bahasa Inggis beserta artinya dalam Bahasa Indonesia. Beban si kakak adalah “enam kata per hari”, sedangkan untuk si adik adalah setengahnya, yaitu “tiga kata per hari”. Penulisan pada sebuah buku tulis yang khusus untuk permainan ini, yang dimulai dari halaman bagian muka. Halaman dibagi dua, sisi kiri adalah untuk Inggris, sedangkan sisi kanan untuk Bahasa Indonesia. Kewajiban 6-3 tadi adalah minimum, jika mau ditambahkan sendiri oleh mereka diperbolehkan. Yang penting adalah semua kata yang ditulis tadi adalah kata yang mereka hapal dan tahu artinya. Dan tentunya tidak boleh ada kata yang ditulis ulang. Sehingga jika diakhir minggu ditanyakan arti dari salah satu kata yang telah ditulis, harus bisa mengucapkan, menuliskan, sekaligus mengartikan dengan benar.

Jika kakak selesai mengerjakan, menuliskan 6 buah kata beserta artinya, maka berhak mendapatkan poin 2 (dua). Demikian juga adik, saat selesai dengan 3 kata beserta artinya maka juga berhak mendapatkan poin yang sama, 2 (dua). Poin ini diisikan pada Buku Poin yang serupa dengan buku Kas, dimana ada kolom debet dan kredit. Para poin dituliskan dalam kolom debet.

Berikutnya adalah permainan membaca koran. Di rumah berlangganan koran dan saya juga sering membeli Koran di simpang lampu merah. Kedua merek Koran ini menjadi bahan permainan. Caranya adalah, mari kita buka koran (kalau bisa, bersama-sama) terus pilihlah (judul) berita yang kamu mengerti, dan sebaiknya yang ada gambar/fotonya. Tuliskan di buku “permainan bahasa” tadi, tapi dimulai dari bagian tengah buku, nama koran dan tanggal terbitnya, kemudian judul berita, dan satu atau dua kalimat yang utama. Kalau ada fotonya maka cukup tuliskan kalimat yang menerangkan tentang foto tersebut. Untuk setiap judul yang dituliskan maka akan mendapat poin 2 (dua).

Selesai menulis, maka krucil memasukkan lagi saldonya pada buku kas miliknya.

Apakah selalu tiap hal yang termasuk “perhitungan poin” selalu menghasilkan poin positif sehingga terus bertambah..? Mmm…, biar seru ada juga poin negatifnya. Pada beberapa item permainan, jika tidak dipenuhi kewajibannya maka poin akan bernilai negatif. Dengan mempertimbangkan nilai negatif tadi maka krucil terpacu untuk selalu mendapatkan nilai positif.

Permainan lain lagi adalah menulis cerita (atau apapun) pada blog, poinnya lumayan besar. Blog kakak ada di  altair.wordpress.com dan blog adiknya ada di aquila.wordpress.com. Sebagian dari tulisan mereka di blog tersebut adalah hasil dari permainan ini. Membaca buku yang mengasyikkan, seperti buku petualangan Lima Sekawan misalnya, juga mendatangkan poin.

Item permainan tidak melulu tentang hal yang “biasa” tetapi juga memasuki ranah hal yang “wajib”, seperti misalnya beribadah lima waktu, membaca/mengaji setelah sholat Maghrib/Isya, membantu kegiatan ibu dan neneknya saat di dapur ataupun saat di kebun/halaman rumah.

Lalu poin tadi untuk apa bagi krucil..? Poin tadi adalah tabungan mereka yang bisa mereka tukarkan kelak saat mereka memerlukan. Setiap poin disetarakan dengan nilai seribu rupiah dan tidak boleh ditukarkan dengan uang. Bagaimana menukarkannya..? Saat mereka jalan ke toko mainan, misalnya, mereka boleh membeli yang mereka suka sejauh harganya masih terjangkau oleh saldo poin mereka. Bagaimana jika saldo tidak atau belum memenuhi..? Ya harus menunggu hingga saldo mencapai setara dengan harga mainan yang mereka idamkan. Tidak boleh berhutang poin… ehm…

Lha gimana kalau pas krucil meminta suatu barang yang harganya sesuai dengan jumlah saldo mereka tetapi sang ortu “lagi bokek”..? Tunggulah nak, kalau bapak dapat rejeki kelak insya Allah yang kamu inginkan akan diberikan… Diharapkan anak juga akan bisa belajar memahami kondisi ekonomi keluarga, sehingga tidak ada yang merasa paling penting untuk dikabulkan keinginannya jika kondisi keluarga memanglah belum memungkinkan.

Alhamdulillah, suasana Berpacu dalam Poin ini sudah berlangsung beberapa tahun, dan selalu menyenangkan bagi semua pihak: krucil dan ortunya.

: )