Tags

, , , , , , ,


top - attaufiq

TOP di SDIT At-Taufiq

Undangan (atau pemberitahuan) datang tiba-tiba, dalam bentuk sebuah surat resmi, dari sekolah Alta. Biasanya, undangan untuk hadir di sekolah Alta, SDIT At-Taufiq Bogor, pada hari Sabtu adalah untuk temu antara guru (ustadz/ustadzah) wali kelas dan orang tua murid, untuk menjalin komunikasi agar orang tua mendapat masukan apa yang “terjadi” dengan anak sehari-hari, dan guru pun akan mendapat masukan dari orang tua murid bahwa si anak mempunyai kebiasaan demikian demikian demikian di rumah atau lingkungan rumah. Informasi dua pihak ini dirasa sangat penting untuk membimbing si anak agar sinkron. Pertemuan dilakukan beberapa kali dalam satu semester dan biasanya juga sekalian membahas mengenai prestasi si anak dalam keseharian, kegiatan ekstra kurikuler, hasil ujian formatif, ataupun hasil ujian tengah semester.

Undangan yang datang kali ini beda. Diberitahukan bahwa orang tua murid (bapak atau ibu, salah satu saja) diwajibkan mendampingi anaknya (khusus yang kelas enam) saat acara TOP, Try Out with Parent. Pada acara TOP ini ortu harus duduk semeja dengan putra/putrinya dan diberi soal/pertanyaan layaknya try out dan dikerjakan bersama. Yang akan diujikan adalah mata pelajaran IPA, Matematika dan Bahasa Indonesia. Wow…!!!

Yang kepikir pertama: what..? berduet untuk mengerjakan soal-soal..? Sudah berkepala empat (umurnya, maksudnya) mesti berduet dengan anak kelas enam SD untuk urusan pelajaran SD..? Sekolah Dasar..?

Mmm… ini tantangan asik. Malam sebelum acara segera berbagi tugas dengan Alta. Dia bagian belajar dengan menghafal dan berlatih soal, saya bagian nonton… eh salah… saya membantu menguliti kisi-kisi yang akan diujikan. Singkat saja… kemudian tidur.

Sabtu pagi, dengan berkendara Angkot 08 jurusan Citeureup – Pasar Anyar, dan disambung lagi dengan Angkot 32 jurusan Cibinong – Bubulak, datanglah kami ke sekolah Alta, yang terletak di Jalan CImanggu Permai, daerah Tanah Sareal Bogor.

Alta langsung lihat daftar ruang dan nomor meja, lalu kami langsung menuju ke ruang dan meja yang telah ditentukan, yaitu di ruang kelas IV B dan meja nomor dua dari depan di sisi bagian kiri ruang. Di ruang kelas sudah diatur ada 15 meja, dengan sepasang kursi pada tiap meja. Tidak lama ruang sudah penuh dengan pasangan ortu-anak, dan yang datang tidak seragam, alias ada yang didampingi oleh bapak, ada juga yang didampingi oleh ibunya, mungkin ada juga yang didampingi oleh orang lain/wali saya nggak tau.

Jam 8:00 ustadzah Dewi masuk, membawa lima belas soal dan lembar jawaban. Setelah membuka hari, lalu ustadzah membagikan soal dan lembar jawab, dan Alta segera mengisi keterangan lembar jawab dengan pensil (nama, mata pelajaran, dll). Bagian pertama dari ujian ini adalah Bahasa Indonesia. Soal berjumlah 30, dan tak lama mulailah kami khusyuk mengerjakannya.

Segera terasa muda lagi… saat jaman baheula mengerjakan hal serupa di meja dan kursi dan kelas dan… udah deh stop ngelamunnya dan terus mengerjakan soal…😀

Soal cerita, menentukan kalimat utama, ada juga puisi, dan penyusunan kalimat yang sesuai… banyak lagi…

Waktu mengerjakan hanya sejam, dan ustadzah selalu memberi tahu sisa waktu yang ada. Alhamdulillah… sebelum waktu selesai semua jawaban sudah terisi dan sudah pula dilakukan cek ulang. Yakin benar semua…? Entahlah… hehe…

Waktu selesai, kemudian saatnya istirahat, dan ada pembagian kotak yang berisi makanan ringan empat macam plus satu gelas air mineral. Alta menghabiskan 3, bapaknya kebagian satu, minum bareng…

Ujian berikutnya adalah Matematika, dan untuk yang satu ini kelas diawasi oleh ustadzah Amel. Sama seperti yang pertama, setelah selesai mengisi data pada lembar jawaban maka segera tancap gas untuk mengerjakan soal yang berjumlah 25. Pembagian dan perkalian dalam pecahan dan dalam soal cerita… fuih… tambah lagi dengan KPK (bukan Komisi yang sedang diramaikan, tetapi kependekan dari kelipatan persekutuan terkecil), menghitung luas dan keliling bidang tak beraturan…

Waktu belum habis, segera cek lagi semua soal dari awal, lalu lapor ke ustadzah Amel, bahwa Alta akan mengikuti kegiatan lain (yang juga diselenggarakan oleh sekolah pada jam 11:00) sehingga minta langsung soal untuk IPA untuk menghemat waktu. Setelah menyerahkan lembar jawaban, kami lalu diarahkan untuk ke ruang guru, dan kemudian mengerjakan soal-soal IPA disana.

Di ruang guru, kami segera mendapat soal IPA dan kerjasama segera berlangsung kembali dengan kecepatan tinggi. Selesai nomor akhir, kemudian diulang untuk beberapa nomor yang masih meragukan isinya, dan kemudian dicek ulang lagi dari awal. Jam 10:45 selesai, masih ada waktu 15 menit untuk Alta istirahat, sebelum melanjutkan kegiatan Qira’aty di Masjid At-Taufiq yang berlokasi di halaman depan Sekolah.

Saat Alta bersama rombongannya berkegiatan di Masjid, saatnya si ortu kumpul-kumpul ngobrol-in apa yang telah terjadi beberapa saat sebelumnya. Kegiatan TOP ini ternyata cukup mengagetkan sebagian ortu. Kenapa..? Karena kewajiban untuk ber-duet dengan anaknya dan kali ini adalah: mengerjakan soal bersama. Banyak yang tidak siap dengan segala macam soal mata pelajaran si anak. Banyak yang “mendisposisikan” dirinya ke orang lain saat waktunya si anak belajar di rumah. “Disposisi” ini bisa ke orang lain (saudara yang diminta mengasuh anak) atau pada kakaknya si anak. Alasannya..? Wuah ada seribu satu macam tentunya… Akibatnya adalah ketidaktahuan ortu akan mata pelajaran si anak. Jadi boro-boro untuk berduet mengerjakan soal, lha wong mata pelajaran nya aja gak pernah tau apa… haha…

Dari per-kongkow-an ortu ini terungkap banyak peristiwa lucu yang terjadi. Pak Budi (nama samaran, takut anaknya mengenali…) dengan penuh keyakinan membantu sang putri dalam pengerjaan soal. Saat mana ada soal yang membingungkan, maka Pak Budi segera mengeluarkan ajian serat jiwa masa lalu. Dengan trik khusus, tanpa si anak tahu, ia menghitung kancing. Betul, menghitung kancing yang ada di bajunya. Saat hitungan kancing selesai dan jatuh pada pilihan tertentu, maka ia dengan pasti memberi tahu putrinya bahwa jawabannya adalah anu (pilihan a sd d). Wooo jadi inget masa lalu… hehehe…

Lain lagi dengan pak Dadi (samaran juga nih). Ada beberapa soal yang menanyakan tentang istilah dalam Ilmu Pengetahuan Alam. Si anak lalu diminta untuk memikirkan jawabannya dahulu. Sementara itu ia segera mengeluarkan BlackBerry smartphone-nya dan… googling…!!! Tentunya tanpa si anak menyadari kelakuan canggih si Bapak… Tak lama ditemukanlah jawaban yang diinginkan, dan dengan segera sang Bapak memberi tahu putra tercintanya untuk mengisikan sesuai “pilihan jawaban” si Bapak… Weee… manstaffff…

Berbagai kelakuan ortu yang terceritakan dalam kongkow itu menjadikan semua tersenyum dan senang sekaligus bisa menilai ternyata ortu sangat perhatian pada anaknya, sampai-sampai segala cara dilakukan demi sang anak. Apakah contoh yang dilakukan oleh kedua rekan ortu diatas adalah kecurangan? Secara eksplisit sih nggak juga, karena tidak sebutkan dalam peraturan tentang larangan menghitung kancing ataupun googling di lembar soal. Tapi secara mental… bagaimana…? Entahlah, mungkin kami saling menilai sendiri-sendiri, tanpa perlu dilontarkan pada yang lain… ehm ehm…

Seminggu setelah acara, keluarlah hasilnya. Dari tiga mata pelajaran yang di-TOP-kan maka pasangan Alta dan bapaknya mendapat dua nilai teratas yaitu untuk Matematika dan IPA, walau bukan nilai sempurna.

Sementara itu, untuk nilai Bahasa Indonesia… mmm… begitulah… mesti banyak belajar…

: )