Tags

, , , , , , , , , , ,


WebGIS Sijampang

WebGIS Sijampang

Pemetaan partisipatif (partisipatory mapping) adalah suatu kegiatan dalam pemetaan yang semakin banyak diterapkan diberbagai bidang saat ini.

Pemetaan ini adalah suatu aksi yang melibatkan pemangku kepentingan dalam membangun informasi keruangan.

Metoda pelaksanaan sangat beragam dan sangat situasional.

Contoh: saat akan diadakan pengembangan kawasan pantai maka para nelayan dilibatkan dalam  menentukan zona yang direncanakan sebelumnya oleh pengembang atau pelaksana (pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat). Ketidaktahuan nelayan dalam hal pemetaan dijembatani dengan mengajak mereka berdiskusi kemudian meminta mereka menggambarkan dengan coret-coretan pada kertas yang disediakan sesuai dengan keinginan atau pemikiran mereka. Apakah coretan itu berupa titik, garis, atau poligon, dalam praktiknya dapat mempunyai istilah beragam disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan istilah yang dimengerti masyarakat lokal tersebut.

Karena pada dasarnya pengetahuan keruangan dimiliki oleh semua orang, jadi tinggal bagaimana memberikan pengarahan untuk hal yang lebih fokus untuk satu tema tertentu, seperti yang dilakukan nelayan ini dalam menggambar “denah kampung nelayan masa depan” yang mereka harapkan. Hasil coretan ini adalah hasil dari pemetaan partisipatif pada nelayan, yang kemudian diterjemahkan kembali oleh “orang-peta” dalam suatu SIG, misalnya, untuk kepentingan selanjutnya.

Pemetaan partisipatif semakin memberi ruang yang lebar terhadap komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat, dan juga antarpemangku kepentingan pada daerah pengembangan. Bukankah komunikasi yang semakin baik dapat menghasilkan sesuatu yang lebih bagi semua pihak?

Pendekatan pemetaan partisipatif juga terdapat pada “Sistem Informasi Hujan dan Genangan berbasis Keruangan” yang sedang dikembangkan oleh rekan-rekan di Neonet. Sistem ini, yang diberinama Sijampang, menggabungkan berbagai informasi tentang hujan dan genangan yang didapat dari berbagai sumber. Sumber utama adalah hasil dari radar cuaca yang terpasang di Puspitek Serpong, Tangerang. Dari radar cuaca ini dihasilkan peta hujan yang terjadi pada ketinggian hujan tertentu (2 km dan 500 meter) pada radius efektif tertentu.

Selain dari data radar cuaca, Sijampang juga menggunakan data curah hujan dari stasiun cuaca otomatis  daring milik BMKG, dan juga data muka air pada beberapa pintu air di Jakarta dan sekitarnya yang diinformasikan oleh Pemda DKI. Dan, kemudian, adalah informasi hujan yang diberikan oleh para kontributor.

Pelibatan kontributor sebagai pemberi informasi mengenai hujan dan genangan pada lokasi mereka masing-masing adalah sisi dimana pemetaan partisipatif dilakukan. Pemberian informasi ini memperkaya kondisi realitas yang terjadi pada banyak lokasi, dan hal ini tidak harus dilakukan oleh orang yang memahami SIG atau pemetaan.

Yang dilakukan kontributor adalah mengirimkan informasi ke sistem melalui SMS dengan kode tertentu. Kode ini adalah kode yang telah dikenali oleh sistem, sehingga sistem dapat menerjemahkannya dalam kepentingan sistem keruangan, yaitu “meletakkan” informasi tadi pada tempat atau lokasi tertentu dalam peta. Pengirim informasi tidak perlu mengetahui arti dari istilah “atribut titik” pada SIG, tetapi mereka sudah secara otomatis mengisikan atribut tadi, yaitu berupa informasi hujan, genangan, dan di lokasi mana terjadinya.

Kontributor membuat peta hujan dengan sendirinya, dengan informasi yang bersifat “near real time” atau mendekati saat kejadian sebenarnya, dan disinilah pemetaan partisipatif telah berjalan.

Dari sekitar 40-an orang kontributor yang terdaftar (sampai dengan tulisan ini saya buat), hanya sekitar 50% yang memahami pemetaan dalam arti sesungguhnya. Yang lain adalah benar-benar masyarakat non-pemetaan.

Apakah yang mendorong kontributor melakukan hal ini? Meluangkan waktu dan “pulsa” untuk mengirimkan informasi hujan?

Saya berkeyakinan bahwa rekan-rekan kontributor menyadari pentingnya informasi cuaca yang handal, terpercaya, dan mendekati kondisi sebenarnya (terkait posisi dan waktu kejadian).

Dan “mencoba membangun bersama informasi” ini adalah sesuatu yang berguna dan “menyenangkan”. Dengan satu SMS kontributor telah dapat “meletakkan” simbol hujan diposisi tertentu pada peta secara otomatis, dan sekaligus “mengabarkan pada dunia” bahwa di lokasi tersebut terjadi hujan.

Gampang dan cepat ‘kan..? : )

Dan Sijampang adalah kendaraan yang dapat digunakan oleh pemangku kepentingan terkait dengan kondisi cuaca. Dan sekaligus merupakan penghubung antara agen penghasil informasi cuaca (pemerintah) dan pengguna (masyarakat).

Pemetaan partisipatif, boleh juga ‘kan..?

: )

*/ terimakasih untuk semua rekan yang bersedia menjadi kontributor Sijampang, yakinlah: kita selalu bisa berbagi..!

*/tulisan menarik mengenai participatory mapping oleh Robert Chambers  dapat diunduh dari:  The Electric Journal on Information Systems in Developing Countries.