Tags

, , , ,


Earth Hour

Logo Earth Hour


Gerakan pemadaman lampu telah dilaksanakan di seluruh permukaan bumi. Dari belahan Utara hingga Selatan, dan dari Dunia Timur hingga Barat. Gerakan ini, seperti kita ketahui, adalah kampanye yang dimotori oleh WWF dalam mengemas inisiatif tentang perubahan iklim global. Tentang gerakan ini dapat kita baca lebih detil di situs web Earth Hour.

Saya sendiri tidak terlalu melihat hubungan langsung (dalam hitungan matematis) antara mematikan lampu dan perubahan iklim global. Saya hanya melihat gerakan ini sebagai momen mengingatkan untuk menghemat energi. Berhubung “hanya” sebagai momen pengingat, dan tidak mengikat, maka setelah pemadaman lampu selama satu jam apa yang sebaiknya kita lakukan..?

Jaman ini adalah jaman pemakaian energi (listrik) yang semakin luar biasa. Listrik sudah mendekati Oksigen pentingnya. Seakan tanpa listrik kita tidak dapat bernapas. Hampir 24 jam sehari kita bersanding dengan listrik. Tetapi jarang terpikirkan oleh kita (ehm, maaf, “oleh saya” lebih tepatnya) dari mana listrik berasal. Bagaimana proses pembangkitan listrik yang terjadi (masalah di hulu). Dan bagaimana penggunaan listrik pada akhirnya (masalah di hilir).

Tanpa kampanye oleh WWF dengan Earth Hour-nya pun, sejak kecil saya selalu diajarkan oleh orang tua dan guru tentang berhemat energi, antara lain dengan memerhatikan penggunaan listrik di rumah. Sejak saat listrik di rumah dibangkitkan oleh “genset” karena memang belum terjangkau oleh jaringan listrik PLN, hingga akhirnya menggunakan listrik PLN, suasananya sama saja, harus menghemat dalam pemakaian. Lampu yang tidak “sedang bertugas” maka harus dimatikan. Saat sinar matahari mulai menguasai permukaan bumi, segera lampu teras dan sekitar dimatikan, beberapa lampu di dalam rumah pun tidak luput dari pemadaman. TV pun seharian tidak dihidupkan, ehm, karena memang tidak ada siaran siang hari hehehe. AC pun tidak perlu dihidupkan sama sekali, karena memang belum terinstall di rumah… (crispy mode on).

Saat ini tampaknya agak berbeda, jika saya terapkan hal-hal tersebut di rumah, maka akan akan bersinggungan dengan banyak kepentingan. Antara lain kenikmatan hidup dalam menikmati hiburan di TV, plus banyak lagi peralatan rumah tangga yang tergantung dengan kehadiran listrik dalam penggunaannya, tidak hanya sekedar satu atau sepuluh lampu penerang rumah. Belum lagi “gaya hidup Saykoji” yang semakin merasuk: online online… online online… hehe

Jadi, apakah dengan mematikan lampu selama satu jam (dalam kegiatan Earth Hour ini) mampu mengubah dunia..? Tidak lah yaw… Warga dunia akan semakin rakus dengan energi (listrik), karena memang itulah yang disodorkan oleh siapapun penghasil produk penunjang kehidupan. Semua alat memerlukan listrik. Dan kita semakin tergantung pada penggunaan alat yang berlistrik.

Saya hanya merasakan, pemadaman lampu selama satu jam tadi malam hanya sebagai pengingat dan semangat (bagi yang telah ingat) akan pentingnya perhatian pada penggunaan (energi) listrik dengan baik dan benar. Artinya, akan kembali ke diri kita lagi, sejauh mana kita menerapkan dengan bijak dalam kehidupan pribadi dan lingkungan keluarga kita akan kesadaran penghematan dalam penggunaan listrik.

Pemadaman (sejenak) untuk menghidupkan (kembali) semangat berhemat.

: )