Tags

, , , , , ,


twitter httsan

berkisah dengan 140 huruf

Berawal dari mengamati beberapa rekan yang pulang kampung (sejak dua tahun lalu) dan bercerita asik dengan microblog-nya apa yang dialami selama dalam perjalanan dengan menggunakan Plurk, ada keinginan untuk berceloteh dengan cara yang sama.

Akhirnya dicoba juga saat berkesempatan berjalan ke negeri paman Charles. Untuk mengakses internet melalui PC Tablet yg dibawa, memerlukan free hotspot. Setelah memasuki wilayah UK, urusan ini bukan perkara mudah. Sehingga report on the spot sulit dilakukan. Saat itu yang digunakan adalah microblog Plurk.

Pernah juga dicoba untuk bercerita tiap momen yg “dialami saat itu juga”. Kali ini waktu berkunjung ke Khon Kaen, kota di utara Bangkok. Plurk masih menjadi andalan. Dan enaknya adalah akses ke free hot spot sangat mudah didapat waktu di bandara Soeta, KLIA, ataupun Svarnabhumi, dan juga saat di Khon Kaen. Jadi berceloteh dengan mudah dilakukan.

Kali ini mencoba microblog Twitter yg kondang itu. Yang katanya “telah mengubah dunia hanya dengan 140 karakter”…

Saya tergolong sangat awam dg microblog yg satu ini. Tapi keinginan mencoba berceloteh on the spot semakin kuat setelah mengikuti beberapa pemain twitter melakukan hal serupa.

Dengan berbekal persenjataan minimalis, hanya mengandalkan SonyEricsson K618i yang dilengkapi dengan OperaMini, maka dicobalah berkicau. Kali ini tentang perjalanan di “bumi minyak” alias Riau.

Kicauan sepanjang jalan terdiri dari dua bagian. Pertama adalah celoteh on the spot, yaitu ngomentarin apa saja yg dilihat di jalan. Sedangkan yg kedua adalah “melaporkan” pekerjaan sesungguhnya kepada tim kerja nun jauh disana.

Pada bagian pertama, ini adalah hal ringan-ringan yang dapat dipahami semua yg baca (semoga, hehe). Tentang jalan, kendaraan, kondisi cuaca, makanan, dll. Pokoke yg ringan-ringan saja.

Sedangkan bagian kedua, khusus dengan bahasa teknis. Tujuannya adalah memberitahukan pada tim yang ikut serta secara virtual, kondisi khusus yang dialami (dilihat dan diukur) di lapang, agar tim tersebut dapat langsung cek pada peta/lokasi (menggunakan perangkat lunak khusus) yg ada pada komputernya, untuk dilakukan pengeditan atau perubahan. Jadi antara cek lapang dengan data di pusat pengolahan dapat sinkron.

Kicauan on the spot tadi dapat diikuti di akun twitter @httsan.

Sayang sekali, mungkin karena keawaman, lupa memberi hashtag pada kicauan ini. Hashtag (yang dibahasakan sebagai tagar, tanda pagar) adalah fasilitas unik di Twitter untuk mencirikan kicauan kita, agar dapat dengan mudah dicari (search).

Setelah menyadari, akhirnya dibuatlah tagar #htt untuk kicauan perjalanan, dan tagar #htf untuk keperluan fieldwork. Sangat mungkin tagar ini telah dipakai pengguna twitter lainnya, tetapi tetap mempermudah pencarian yang telah dikicaukan…😀

Sila coba mampir di @httsan dengan tagar #htt atau #htf.

: )