Tags

, ,


Mendapatkan amanah membesarkan makhluk-makhluk cerdas dari Nya adalah tantangan yang luar biasa. Kedatangan mereka yang diantar oleh burung bangau ke dalam pelukan kami menjadikan kamipun merasa terpacu untuk cerdas. Mendapatkan putra-putra yang dalam kondisi normal, tanpa perlu permak sana-sini, sudah suatu kebahagiaan tak terkira. Apalagi ternyata mempunyai sesuatu yang bisa diolah lebih jauh lagi… tentunya semua menjadi tak ternilai lagi rasa di hati.

Dinobatkan menjadi “bapak” oleh “nasib yang baik” menuntut kemampuan pengolahan diri yang lebih lagi. Saat anak-anak beranjak ke masa dimana mereka memulai mengenal dunia di luar rumah, maka itulah saat yang sangat tepat untuk mendampingi dengan benar. Kebenaran disini adalah kebenaran versi saya, berdasar pengalaman mengolah rasa dari berbagai peristiwa kehidupan sejak masa kecil tentunya. Kebenaran yang tidak perlu harus mencari dari buku teks bagaimana menjadi orang tua yang baik, tidak pula dari seminar-seminar mahal yang menjual kata-kata sederhana yang sebenarnya sudah pula saya lakukan selama ini.

Saat si sulung berusia awal dan meminta waktu untuk bermain mobilan, maka saya (harus) menyediakan waktu untuk ikut “menikmati” permainan itu. Asal ikut bermain dan tertawa saja..? Ooo… tidak la yaw… Saat bermain mobilan, masukkan unsur pendidikan dan pengenalan teknologi, sesederhana apapun bentuknya. Mobilan tidak hanya dilempar atau didorong keras kesana kemari, tetapi dibuatkan trek yang rapi dari alat yang sederhana. Cukup sampai disitu..? Untuk beberapa waktu kemudian, tingkatkan lagi dengan membuat “pertandingan” antarmobilan yang ada. Beri nama untuk tiap mobil, adu kecepatannya, catatkan di kertas, dan biarkan si sulung mencatat dan menghitung angkanya. Maka, sambil asyik bermain, dia juga belajar menulis angka, menulis huruf, dan juga sekaligus berhitung (menghitung nilai peringkat dari tiap mobil yang ikut lomba tersebut).

Sampai disana saja..? Ah… saya kembangkan lagi. Saat ia sudah mampu mengenal komputer, maka permainan “lomba mobil” tadi tetap dilanjutkan. Pendekatannya kemudian adalah semua bentuk perhitungan yang tadinya ia lakukan di secarik kertas maka dipindahkan ke perangkat lunak lembar-kerja di komputer. Permainan tetap dilangsungkan, dengan berbagai variasi trek balap, dan… saatnya si sulung mengoperasikan perangkat lunak pengolah angka. Semua nama mobil dan angka nilai dimasukkan dalam perangkat lunak itu. Tentunya juga pengenalan pembuatan formula sehingga perihitungan kelasemen akan bisa otomatis.

Bagaimana jika adik si sulung bukan cowok, tapi cewek yang cantik (tentunya)..? Mmmm… sama saja. Saat ia mengajak bermain masak-masakan, waktu akan selalu (harus) tersedia. Ikuti keasikannya dengan sepenuh hati. Ikut memesan “masakan” yang ia masak, dan… memasukkan unsur kehati-hatian dalam bekerja. Air atau minyak panas adalah perhatian yang perlu dia ingat. Jadi, saat bermain, kadang-kadang seolah terkena air panas, dan berpura meniup-niup tangan dengan mimik muka yang kesakitan, tetapi semua harus dengan konteks yang menyenangkan tentunya…

Pengembangan selanjutnya adalah dengan memulai ngajari si cewek ini bagaimana menjual hasil masakannya itu. Pisang goreng, atau teh manis panas, yang imajiner tentunya, dihargai per-item-nya, kemudian ia harus menghitung berapa bisa dijual dan berapa bisa mendapat keuntungan. Ah… ada berhitung disana..! Tapi… tentunya tidak menakutkan… bahkan menyenangkan…

Saat si sulung dan adiknya mempunyai waktu luang bersama, saatnya mengolah mereka dengan permainan yang lain lagi, tetapi… dapat dinikmati sekaligus bersama. Permainan yang bisa mengakomodir “perbedaan” mereka. Permainan ini adalah bermain dengan kata dan logika, yang sangat sederhana dan tanpa biaya tambahan apapun. Nama “permainan” ini mind mapping, katanya. Si sulung dan adiknya, dan juga saya harus terlibat, bermain dengan rangkaian kata yang saling bersambung. Contohnya adalah: saat si sulung menyebut “ayam”, maka si adik harus meneruskan dengan kata yang terkait dengan “ayam”, seperti “sate”, misalnya. Saya dalam giliran berikutnya, dan bisa dengan menyebut kata “padang”. Pada giliran berikutnya si sulung bisa meneruskan dengan kata “gempa”, dan seterusnya.

Hanya diucapkan saja..? Mmmm nggak juga… Semua harus digambarkan sesuai dengan kata yang diucapkan. Digambarkan dalam papan tulis dan dituliskan katanya di dekat obyek yang digambar. Untuk menghindari kebosanan dalam perulangan permainan mind mapping ini, dilakukan variasi dengan berbagai cara. Misalnya dengan mengundi giliran menggunakan permen warna-warni. Si sulung pegang warna merah, si adik memilih warna kuning, dan saya memilih warna hijau, serta ibunya memilih warna coklat misalnya. Saat warna permen yang dipilih (secara random) muncul, maka ialah yang harus meneruskan permainan…

Permainan ini dapat dikembangkan lagi dengan membuat pohon dan cabang serta ranting yang semua terkait dengan “kata benda” sebelumnya. Keuntungannya apa sih..? Ah… gak perlu banyak teorilah… yang penting anak-anak senang, mampu berpikir kreatif, dan… memperbanyak waktu saya bersama mereka.

Waktu bersama anak-anak” adalah hal yang termahal dan termewah yang mampu saya berikan. Dan diperlukan pula “kecerdasan” dalam “bercinta” dengan mereka. Saya yakin kebersamaan dengan kuantitas disertai kualitas yang tinggi ini akan berbuah manis pada mereka kelak.

Saya tidak pernah berharap anak saya menjadi “abnormal” apalagi “paranormal”… hehehe… Biarlah mereka menjadi diri mereka sendiri… dengan kemampuannya sendiri… yang berkualitas… : )

Tetapi jika kemudian mereka menjadi fasih dalam berhitung (atau berlogika) karena pengalaman masa kecilnya, maka itu hanyalah bonus saja, dan patut disyukuri bersama.

Pesan yang selalu saya berikan pada mereka, sambil ngobrol santai tentunya: “Kamu bukanlah yang terbaik nak, tapi camkan bahwa kamu harus menjadi yang terbaik. Tentunya terbaik bagi semua, bukan untuk diri mu sendiri saja…”.

Semoga iapun bisa mendapatkan hal serupa di lingkungan “bermain” keduanya… lingkungan pendidikan formal di sekolah…

———-

*/ Artikel fiksi dalam rangka Blogor Chain Posting, tema Kisah cinta di Bogor;