Tags

, , , , , ,


 

Berani Coba

Tantangan: "Berani Coba?!"

Bencana kehidupan manusia karena fenomena alam biasa kita bahasakan dengan “bencana alam”. Kata “bencana alam” sendiri sangat populer ditelinga kita, setidaknya, sejak peristiwa gempa dan tsunami yang melanda pantai barat Sumatera pada Desember 2004. Peristiwa itu begitu dahsyat sehingga sangat memengaruhi banyak kehidupan, tidak hanya di Provinsi NAD dan Sumatera Utara saja, tetapi juga di seluruh Indonesia.

Saat ini, kita sedang menerima pemberitaan dahsyat dari bencana dahsyat juga. Dahsyat bagi yang mengalami, dan juga bagi para pemerhati alam dan kemanusiaan. Dan walaupun saat ini saya belum pernah terlibat langsung dengan penanganan tanggap darurat ataupun pascabencana (rehab-rekon), saya ikut merasakan (secara virtual) kedahsyatan alam dan juga kedahsyatan semua insan yang terlibat didalamnya.

Pertengahan November ini, saya berkesempatan untuk ke Yogyakarta, yang sedang menjadi pusat perhatian karena meletusnya Gunung Merapi. Walau kepergian kali ini untuk keperluan keluarga, saya sempatkan juga untuk melakukan hal “diluar urusan keluarga”.

Saya inap di dusun Paten Kebondalem, desa Tridadi, yang bersebelahan dengan rumah-rumah penduduk yang digunakan oleh pengungsi dari desa Kinahrejo, Cangkringan. Desa Kinahrejo menjadi terkenal karena pemberitaan besar mengenai mbah Maridjan, tokoh masyarakat setempat yang telah meninggal karena “wedhus gembel” dari Merapi. Di dekat tempat saya inap, terdapat GOR Kab Sleman, dimana lokasi tersebut juga digunakan untuk penampungan pengungsi.

Dari obrolan dengan banyak pihak, ada seribu-satu cerita yang beragam tentang peristiwa yang terkait dengan pengungsian ini. Beberapa diantaranya saya coba tuliskan.

Pengungsi yang berasal dari desa-desa yang relatif dekat dengan Merapi, dalam radius 10 km, mempunyai perasaan yang lebih mantap mengungsi dibandingkan dengan yang berasal dari desa-desa antara radius 10-20 km. Hal ini karena desa yang dalam radius 10 km langsung merasakan akibat dari semburan abu dan pasir (juga kerikil), dan sebagian dihantam wedhus gembel. Kerusakan tersebut (dan bahaya yang ditimbulkan) benar-benar memaksa mereka untuk “tidak berpikir kembali” pada waktu singkat. Selain masih dalam lokasi yang dilarang, sebagian juga tidak lagi mempunyai harta banda karena sudah hancur.

Sedangkan pada radius 10-20 km, ada sebagian yang merasa desanya masih aman, karena memang tidak terlalu rusak oleh material yang disemburkan Merapi. Beberapa masih mempunyai ternak yang ditinggalkan disana. Sehingga hampir tiap hari sebagian dari mereka pulang untuk membersihkan rumah, memberi makan hewan, kemudian kembali ke tempat pengungsian. Desa-desa yang masih utuh, tetapi sepi sekali karena penduduknya telah mengungsi, meninggalkan rasa yang menyedihkan saat saya berkesempatan kesana seperti di dusun Wonorejo, desa Hargobinangun, kecamatan Pakem, hari Minggu pagi 14 November 2010.

SDN Pandanpuro II

SDN Pandanpuro II di Hargobinangun

SDN Pandanpuro II, di desa Selorejo Hargobinangun, tampak terkunci gerbangnya. Di halaman sekolah yang tertutup abu tebal tersebut masih terpancang tenda-tenda pengungsian. Lokasi ini sebelumnya adalah lokasi pengungsian, dan setelah ditetapkan daerah aman adalah diluar radius 20km, maka semua penduduk desa (dan pengungsi yang ada di desa ini) “terpaksa” berpindah juga.

Dari obrolan dengan petugas setempat, saat di desa Tridadi, ada cerita mengenai pengungsi yang kelaparan di suatu pos pengungsian. Ketika ditanya petugas, mengapa ia kelaparan padahal makanan tersedia. Pengungsi tersebut cerita, bahwa dia tidak bisa makan daging, sedangkan semua masakan ada dagingnya. Ia tidak bisa memakannya, dan juga sungkan untuk meminta yang lain.

Hal ini menimbulkan keprihatinan juga, dari segala sisi, dimana suplai pangan yang mencukupi ternyata tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan “setiap individu”. Bukan karena kekurangan atau ketiadaan makanan, melainkan melayani ratusan orang sekaligus adalah tidak memungkinkan untuk memenuhi semua kondisi personal yang ada. Apalagi orang yang dihadapi adalah masyarakat yang tidak biasa “minta” atau “protes”, sehingga komunikasi tidak nyambung. Tidak ada yang salah, tetapi untuk perhatian bagi semua.

Pengungsi di GOR Sleman

Pengungsi di GOR Sleman sedang memilah pakaian pantas.

Sumbangan pakaian pantas dari para dermawan sangat mencukupi, setidaknya untuk banyak wilayah di Yogyakarta (demikian salah satu dari tweet @jalinmerapi). Tetapi ternyata ada yang kurang juga, yaitu kebutuhan untuk manula. Pakaian pantas yang ada kebanyakan adalah pakaian untuk orang dewasa dan anak-anak, bukan untuk manula. Sedangkan manula (perempuan) lebih memerlukan jarik/kain untuk salin dibandingkan dengan T-shirt, misalnya.

Keterlibatan pemerintah dan nonpemerintah dari sisi “nonteknis” sangat terasa. Kebutuhan pengungsi tidak hanya sandang dan pangan, tetapi juga hiburan. Oleh karena itu di beberapa lokasi pengungsian, seperti di GOR Sleman ini, sering diadakan acara hiburan. Hal ini, semoga, mampu memberi hiburan bagi para pengungsi melupakan sejenak kesedihan dan kepenatan mereka.

Kembali ke perjalanan di sekitar desa-desa di lereng Merapi.

Saat saya mengarah ke bukit Turgo, di lereng barat daya Merapi, hari Minggu pagi, hujan abu tipis menyapu daerah tersebut. Keasyikan mengambil gambar beberapa spot dengan kamera poket, terasa aneh, saat kamera dipenuhi butiran putih. Hujan abu tipis ini memberikan sensasi tersendiri. Terbayang saat hujan abu lebat dan disertai kerikil yang telah dialami saudara-saudara kita disaat sebelumnya di lokasi yang tidak jauh dari desa tempat saya berdiri.

Sesampai di cekdam Kali Boyong, terlihat pemandangan yang “mengerikan”. Bukan dari apa yang sedang dilihat, tetapi dari apa yang “bakal terjadi”. Hal ini terkait dengan penuhnya kali Boyong dengan material dari Merapi berupa pasir dan batu-batu gunung yang besar. Kedalaman sisi utara dam (yang mengarah ke Merapi) sekitar 20 meter, telah rata. Artinya cekungan yang digunakan untuk “menghambat” lahar dingin ini telah penuh, hingga ke puncak dam. Air yang seharusnya melewati lubang di dinding dam, tidak terlihat mengalir lagi dari lubang tersebut karena telah buntu oleh material.

Cekdam di kali Boyong, Hargobinangun

Cekdam di kali Boyong, Hargobinangun, 14 Nov 2010

Kemungkinan yang dapat terjadi adalah tidak kuatnya dam tersebut dalam menahan beban material terutama saat hujan lebat terjadi, dan hal ini bisa membahayakan semua yang ada di daerah hilir. Lahar dingin adalah bahaya laten setelah letusan gunung berapi. Material yang terlontar dan mengendap sementara di cekungan-cekungan yang ada menjadi bahaya saat datang hujan yang dapat membawa material ini ke lokasi yang lebih rendah. Kali Code di kota Yogyakarta adalah terusan dari kali Boyong ini. Antisipasi sipil semoga segera dilakukan dengan baik.

Apapun yang terjadi, termasuk bencana Merapi ini, adalah saatnya kita belajar banyak hal.

Pelajaran bagi ilmuwan kebumian dan kegunungapian, bagi manajemen pemerintahan, bagi organisasi massa dan kemasyarakatan, bagi manusia yang beragama dan mengaku mempunyai agama, dan bagi semua insan di nusantara. Hal teknis dan nonteknis ada sejuta macam yang terjadi disana. Banyak korban jiwa dalam proses “pembelajaran” ini. Tetapi jika kita mampu mengambil satu poin saja sesuai dengan kemampuan kita, dalam menyikapi secara positif peristiwa ini, maka beruntunglah kita.

Seperti iklan di gambar atas, apakah anda “Berani Coba?!“…

*/ Salut untuk semua rekan relawan di Wasior, Mentawai dan Merapi. Tetap semangat..!

*/ Album foto dapat dilihat dengan klik Album Merapi.