Tags

, , , ,


 

Afghan girl

"Afghan girl" by Steve McCurry (National Geographic)

She remembers the moment. The photographer took her picture. She remembers her anger. The man was a stranger. She had never been photographed before. Until they met again 17 years later, she had not been photographed since.

Seorang jurnalisfoto Amerika, Steve McCurry, terkenal dengan fotonya di sampul National Geographic yang bertajuk “Afghan girl“, bertemu lagi dengan si-“Afghan girl”  17 tahun kemudian. Cathy Newman menceritakan pencarian dan pertemuan kembali antara si jurnalis dan “Afghan girl”-nya (dipublikasikan pada April 2002 di National Geographic).

Afghan girl

Afghan girl

Foto “Afghan girl” diambil saat Steve McCurry mengunjungi camp pengungsi Afgansitan di Pakistan pada tahun 1984, dan tampil sebagai foto sampul National Geographic pada edisi Juni 1985. Pada foto tersebut, mata si “gadis Afgan” terlihat berwarna hijau laut, dan sang fotografer tidak tahu nama dari modelnya tersebut untuk selama 17 tahun…

Januari 2002, Steve dan tim NG mencari si Afghan girl, dengan mengunjungi camp pengungsi tempat dulu mereka bertemu, di Peshawar, Pakistan. Tapi si gadis sudah kembali ke Afganistan. Steve dan tim bergerak ke perkampungan yang diduga tempat si gadis, di desa pegunungan dekat Tora Bora. Perjalanan pencarian cukup jauh, enam jam dengan kendaraan dan 3 jam berjalan kaki, setelah melewati perbatasan Pakistan – Afganistan.

Saat pertemuan, ketika si perempuan memasuki ruang, maka Steve segera mengenalinya. Baru saat itulah Steve tahu namanya, Sharbat Gula. Sharbat adalah dari suku Pashtun, dan saat itu mungkin berusia 28, 29, atau bahkan 30. Sharbat sendiri, dan juga orang-orang disana, tak tahu umur mereka berapa. Peperangan tampaknya telah menghilangkan beberapa jejak penting kehidupan, seperti catatan saat kelahiran dan kematian.

Time and hardship have erased her youth. Her skin looks like leather. The geometry of her jaw has softened. The eyes still glare; that has not softened. “She’s had a hard life,” said McCurry.

Pertemuan kembali antara fotografer dan obyeknya, dalam situasi kehidupan peperangan di tempat yang berkondisi tidak bersahabat, dan setelah belasan tahun, tentulah sangat langka.

Reuni antara perempuan bermata hijau dan sang fotografer berjalan sunyi. Menurut tradisi dan budaya setempat, perempuan yang telah menikah tidak boleh memandang, dan tentunya tersenyum, pada seorang pria yang bukan suaminya. Dia tidak tersenyum pada Steve McCurry. Ekspresinya datar. Dia tidak bisa memahami bagaimana fotonya telah menyentuh begitu banyak orang. Dia tidak tahu kekuatan matanya pada foto tersebut.

Ketika ditanya bagaimana ia dapat selamat dalam kondisi peperangan tak menentu itu..?

Sharbat, sang perempuan bermata hijau laut, menjawab dengan mantap…

“It was the will of God.”

Sumber: A Life Revealed oleh Cathy Newman, National Geographic, April 2002.