Tags

,


Mimpi selalu dimunculkan sebagai titik tolak seseorang dalam mencapai keinginannya yang lain daripada orang lain. Banyak buku yang menceritakan hal ini, termasuk salah satu novel fiksi yang terkenal seperti Laskar Pelangi. Hal-hal yang luar biasa, atau diluar pencapaian orang biasa, didapat dengan diawali oleh mimpi. Hanya mimpi..? tentunya nggak lah… Ada hal lain lagi yang sangat menentukan, yaitu semangat mewujudkan mimpi itu sendiri.

Suatu saat di kota Lumajang, Jawa Timur, ada seorang anak Tionghoa ditanya oleh gurunya: apa cita-cita mu..? Ia dengan mantap menjawab: turis..! Jawaban yang terkesan nyeleneh ini terbukti sekian tahun kemudian, ia benar-benar menjadi “turis” yang mampu menyerap, mengendapkan, melukiskan, dan membagikan apa yang ia lihat dan alami selama menjadi “turis” di mancanegara.

Malam ini, sekitar dua jam, saya sempat mengikuti perjalanan sang “turis” tadi yang mempunyai nama Agustinus Wibowo. Berlokasi di Taman Kencana Bogor (thx untuk galeribogor atas undangannya), Ia menceritakan “kegilaannya” dalam menempuh perjalanan membelah gurun nan luas dan pegunungan puncak dunia dari Beijing menuju Kabul, Afganistan. Jurnalis perjalanan ini membawa senjata sepanjang perjalanan. Senjata yang dibawanya adalah kamera, buku catatan, dan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa lokal.

Yang menarik tentunya adalah bagaimana mas Agus ini dapat berkomunikasi dengan bahasa lokal (Pastho dan Dari) yang ia pelajari otodidak, dan kemampuan ia dalam merekam detik perjalanannya dengan bantuan kamera dan buku catatannya.

Kemampuan berkomunikasi adalah mutlak, dan penggunaan bahasa lokal akan sangat membantu dalam melakukan pendekatan pada masyarakat setempat. Dengan penggunaan bahasa lokal, maka kedekatan dan keakraban dapat terjalin dengan cepat, sehingga tugas jurnalis akan dapat lebih tajam karena obyek liputan dapat teraih.

Catatan ringkas atas segala yang terjadi ditorehkan pada buku notes, dan detil lain direkam menggunakan kamera dijital yang dibawa. Catatan berupa teks dan gambar tentunya sangat baik untuk merekam banyak sekali hal dalam perjalanan.

Perjalanan ke Mongolia adalah pengalaman pertamanya. Tahun berikutnya ia sudah menginjak Afganistan, kemudian mulailah menembus negara-negara lain seperti Iran, Tibet, Nepal, India, Pakistan, Tajikistan, Kirghiztan, Kazahstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Beragam pengalaman ia alami dalam penjelajahan di negeri “antah-berantah” itu. Negeri-negeri yang kitapun ragu menunjuk lokasinya dalam peta dunia. Dan dengan kemampuan jurnalisnya, ia berbagi pada kita semua melalui bukunya: “Selimut Debu” dan “Garis Batas”.

Mengenal berbagai ragam manusia dengan segala perangainya, kebudayaannya, agama dan kekhasannya, menjadikan mas Agus menemukan batas-batas yang ada dalam kehidupannya. Hal ini mengingatkan akan kemampuan berpikir yang luas dihasilkan dari pengalaman keberagaman yang luas pula. Kemampuan beradaptasi pada berbagai situasi dan kondisi suku dan bangsa yang sangat berbeda dengan tempat dimana ia dilahirkan menjadikannya mampu melihat adanya benang merah tentang kehidupan bertoleransi dan kekayaan hati dari tiap masyarakat pada lokasi yang berbeda.

Pelajaran moral yang saya dapat adalah: pertama, mimpi selalu dapat diwujudkan dengan semangat juang yang tinggi.

Yang kedua adalah bawalah kamera dan buku catatan dalam setiap perjalanan. Jadikanlah segala detil keindahan perjalanan dalam untaian kata-kata, kemudian berbagilah pada orang lain. Keindahan dunia tidak akan habis mendahului habisnya kehidupan ini sendiri.

Terimakasih mas Agus atas cerita-cerita petualangannya.

Mari kita terbang tinggi menjelajah keindahan bumi dengan kelapangan hati…

: )

*/ Blog: agustinuswibowo.wordpress.com 
*/ Album foto: avgustin.net