Tags

, ,


Cerita Ramadhan, masih tentang masa kecil, saat mana bulan puasa adalah bulan yang paling asik. Tapi bukan siang hari tentunya… hehe.. Cerita Ramadhan lalu adalah saat biasanya yang dilakukan saat sahur, ada keasikan tersendiri, bersama keluarga.

Hari-hari puasa, rasanya, nggak terlalu banyak libur sekolah (seperti saat ini… ehm). Jam pelajaran tetap, jam pulang juga. Sebagai anak TK dan juga saat awal-awal SD, bulan puasa saat siang hari itu nggak asik sama sekali. Ini tentunya karena keterbatasan jam main, keterbatasan lari-lari sana-sini, dan juga: nggak bisa jajan…

Saat rekan-rekan lain menghabiskan recehannya untuk makan es, gula-ali, harummanis, atau minum limun… Saya yang mencoba puasa full ya ngiler juga… Kebayang kesejukan leher dialiri air dingin yang manis…

Banyak rekan yang nggak puasa di sekolah, karena saya sekolah di TK dan SD swasta keagamaan, Xaverius. Tapi, syukurlah, mereka yg nggak puasa nggak ngegodain saya dan beberapa rekan yg puasa. Mereka mencoba menghormati.

Begitu juga guru-guru, yg semuanya adalah nonmuslim, mereka sangat memperhatikan saya dan rekan2 yg muslim dan puasa. Saat olahraga, ada ijin khusus untuk tidak melakukan kegiatan yg banyak mengeluarkan keringat.

Godaan terbesar justru saat pulang sekolah, sekitar jam 13 sudah sampai rumah, dan inilah saat haus mendera. Obat yang paling mujarab tentunya adalah tidur dan tidur. Jadi, sampai rumah bebersih dulu, sholat, terus tidur.

Saat bangun sore, sekitar jam 16, lumayan lah, nggak terlalu terasa panas dan rasa haus agak terlupa. Rasa haus bisa terlupa sejenak, karena ini adalah jam main. Biasanya segera keluar rumah bawa sepeda. Teman-teman main sepeda (mungkin) semua puasa, dan sebagai sesama pemula puasa ya punya rasa yg sama lah. Semua merasa haus, tapi kami melupakannya dengan bermain sepeda ke ujung-ujung permukiman, atau ke lapangan bola.

Saya dan teman2 biasanya memuaskan jam akhir2 puasa dengan main bebas, karena tahu waktu berbuka nggak lama lagi.

Beberapa saat sebelum buka, saya biasanya sudah harus rapi, artinya sudah selesai mandi dan pakaian rapi. Kenapa pakaian rapi..? Ini untuk menghormati makanan buka (kata Bapak). Saat itu bunyi bedug adalah yg paling ditunggu.

Di tempat saya, bunyi bedug selalu mendahului daripada suara adzan. Jadi suara beduglah yg menjadi favorit sore hari. Saat terdengar bedug, segera air mengalir ke tenggorokan. Rasanya… tak terlukiskan… Nikmaaat…

Makanan standar saat itu adalah kolak pisang. Hampir setiap hari ada kolak pisang di saat berbuka. Kurma adalah makanan mewah, juga yang lain… Jadi, untuk keragaman cuma kolak dan bubur kacang hijau. Nikmaaat… Satu mangkuk kolak pisang cukup, lalu minum susu ovaltine, dan segera membantu membereskan meja makan.

Sesi berikutnya adalah bersiap sholat maghrib. Kadang di rumah kadang di masjid. Kalau maghrib di masjid, maka sekaligus dilanjut ke Isya dan tarawih. Kalau maghrib di rumah, ke masjid menjelang Isya.

Sekian dulu Cerita Ramadhan, besok atau lusa akan dilanjut, dengan pengalaman Ramadhan di negeri nun jauh disana…

Tabiik… : )

*/ dari tweet tanggal 4 Agustus 2011  (arsip 140.hartantosanjaya.name)