Tags

, , ,


Ramadhan BlogorSuatu siang menjelang sore, saatnya jam pulang kantor, semua karyawan bergegas menuju ke mobil bus hantaran. Jam pulang memang lebih cepat satu jam karena jam istirahat siang dihilangkan dlm bulan puasa ini. Hari itu hari ke-3. Dan semua kursi di bus segera terisi oleh keryawan lain dengan tujuan yang sama tentunya. Segera penuh semua.

Seorang ibu yg sedang hamil naik melalui pintu depan bus, dan malang, semua kursi sudah penuh. Yang tersisa hanya kursi plastik (biasa disebut “kursi bakso”), untuk antisipasi jika kelebihan penumpang.

Setengah berharap, si Ibu melihat ke seluruh penumpang, yg adalah koleganya juga di kantor. Ah, semua tak acuh.

Saat puasa, dan saat pulang kerja, tentunya saat yang lelah (dan mengantukkan), paling enak memang duduk dan tidur. Apalagi bis memakai AC, jadi semilir angin dan dingin pasti membuat nikmat untuk tidur selama dlm perjalanan. Mmm… memberikan kursi nyaman dan posisi enak kepada orang yang “terlambat” naik bus, ya… nggak lah ya…

Salah seorang karyawan wanita, Bunga, sudah menempati tempat duduk di bus, di belakang kursi supir. Bunga sadar ada ibu yg baru naik dan memerlukan tempat duduk, dan yg tersisa hanya “kursi bakso” saja… Tanpa pikir panjang, ia bangkit dari duduknya, dan memberikan tempat duduk nyamannya pada si ibu.

Tidak ada tepuk tangan ataupun acungan jempol dari penumpang lain. Hanya ucapan terimakasih dari si ibu. Bunga tidak bermaksud menjadi pahlawan bagi si ibu hamil itu, tidak juga untuk pujian dari siapapun.

Ia mengambil risiko untuk “duduk tidak nyaman” selama 2 jam perjalanan, dg memberikan tempat duduknya. Padahal ia juga lelah, letih, karena puasa dan pekerjaan yg banyak sejak pagi ia tiba di kantor.

Rupanya, pengalaman lah yg membuat Bunga memilih hal ini. Ia pernah merasakan betapa beratnya saat ia hamil dahulu. Saat ia mengandung anak yg pertama dan kedua, ia juga mengalami hal serupa dlm kendaraan umum, dicuekin penumpang lain. Ia hanya berpikir sederhana: tidak ingin orang lain menderita sama dgn yg ia alami dulu di bis atau kereta api.

Kenikmatan dalam perjalanan itu perlu, tapi jika ada yg lebih membutuhkan, sebaiknya kita berikan segera, kata Bunga.

Ah indahnya…, memberikan kenikmatan yang kita miliki dgn ikhlas… Suatu hal yang masih sulit saya sendiri lakukan. Saat di bus atau kereta api, saya cenderung “berpura-pura tidur”, daripada memerhatikan penumpang yg lain. Jadi malu…

Alhamdulillah, Bunga telah memberi saya pelajaran yg “tajam” tentang memberi, bukan sekedar berbagi.

Hal nyata yg ia lakukan, bukan sekedar katakan.

Sekian Cerita Ramadhan, salam… : )

*/ dari tweet tanggal 5 Agustus 2011  (arsip 140.hartantosanjaya.name)