Tags

, ,


Kali ini ingin bercuit-cuit tentang pengalaman perjalanan saat bulan puasa. Kejadian pada Desember tahun 2000. Kala itu saya dan 3 orang rekan sedang bertugas di Lombok Timur. Tepatnya tanggal 12 bulan 12 tahun 2000.

Saat itu bulan puasa, dan menjadi tugas yg berat saat mana menahan haus-lapar sekaligus menyusuri pantai yg panas. Kami berempat hari itu harus mendatangi beberapa desa nelayan sepanjang pantai Timur Lombok, terutama daerah Sambelia. Juga beberapa pulau kecil di selat antara Lombok dan Sumbawa.

Sahur di penginapan, lalu pagi hingga siang kami mendatangi beberapa desa nelayan, mapping dan mendata beberapa hal.

#Foto perjalanan – saat mampir di desa nelayan di Sambelia. Lombok Timur. http://j.mp/oG2neN

Siang hari, setelah dzuhur, kami mencari perahu motor untuk mencapai pulau. Kami sewa perahu motor beserta motorisnya. Start dari desa, dekat dengan Pelabuhan Lombok, tempat Ferry penyeberangan Lombok – Sumbawa. berlima di kapal. Kapalnya relatif kecil, bercadik kanan-kiri, dan bermotor (tentunya). kami start dgn senang hati, walau mulai letih.

#Foto perjalanan – suasana yang menyenangkan saat start… http://j.mp/qDA6L5

Kami mendatangi pulau kecil terdekat, dan ketika perahu mendekat pulau tersebut, bencana mulai datang. Perahu berjalan melambat, dan segera berhenti. Kami menurunkan sauh. Motoris cek mesin. Ah ternyata propeler rusak. Gigi propeler hancur, dan perahu tidak bisa jalan. Ini di tengah selat…

Motoris menenangkan kami, dan segera memperbaiki propeler tersebut. Gak lama perahu jalan lagi pelan. Sesampai di pulau, kami segera turun dan melakukan tugas mapping, sementara motoris melanjutkan perbaikan.

Panas dan hujan bergantian, kondisi yg aneh. Tidak ada pepohon besar di pulau kecil itu. Hanya padang rumput. Selesai dgn tugas kami, segera kembali ke perahu. Motoris mengatakan, tim tdk bisa jalan jauh lagi… ahhh…

Kami masih di tengah selat, bagaimana bisa pulang..? Motoris menenangkan kami, perahu dijalankan pelan. Tidak jauh dari pulau, kapal kembali berhenti, propeler sudah benar-benar jebol. saat itu sekitar jam 5 sore. Motoris mencoba dan mencoba… sementara ombak selat menguat dan semakin meninggi… Kami lempar sauh.

Ombak semakin kuat, dari satu meter semakin naik dan naik. Perahu semakin digoyang tinggi…

Maghrib tiba, mmm perasaan saja, karena kami jauh dari mana-mana, pantai tdk terlihat. Motoris msh berusaha. Ombak semakin tinggi, mungkin sudah dua meter lebih. Perahu semakin kritis, sauh diputuskan segera diangkat. Jika sauh nggak diangkat maka kapal bisa tenggelam, karena tertarik oleh sauh itu sendiri… Motoris dan satu rekan berada di belakang, saya dan dua teman di depan, berusaha menarik sauh.

Hari sudah gelap, goyangan kapal semakin kuat karenaombak yg tinggi. kami pasrah… Sudah tdk terpikir lagi waktu buka, pasti sudah lewat daritadi. Kami tanpa makanan dan minuman. Sauh terangkat, kami segera melepas beberapa bambu panjang di kapal, untuk menjaga keseimbangan.

Saat ombak mereda sedikit, kami sempat istirahat, menyaksikan bulan yg sudah bulan di angkasa.

Mendekati jam 8 malam, ombak semakin menguat. Kami kembali waspada. Dan pasrah tentunya. Arus sangat kuat. Perahu hanya jalan mengikuti arus, kami mencoba mengarahkan ke pantai, dengan harapan tentunya.

Saat mendekati jam 9 malam, pantai terlihat, tapi ada buih di dekat pantai… itu artinya… karang..!!! Kami harus melewati karang itu, ya Allah, mungkinkah..? Kalau gagal, maka perahu pasti hancur…

Perahu terus diayun gelombang 2 meter, dan mendekat ke karang tersebut. Kami terus berusaha sambil pasrah. Tenaga sudah habis, tapi kami masih bersemangat tinggi. Ini masalah hidup-mati…

Ombak semakin tinggi, dan kami terhempas ke arah karang…

Ahhh… perahu kami melewati karang… ternyata ombak yg tinggi menyelamatkan perahu kami.

Tidak lama kami terhempas di pasir pantai, segera kami turun dan berusaha menyelamatkan perahu kami. Kami dorong sekuat tenaga perahu ke pasir, dan segera ikat perahu dengan tali tambang ke pohon kelapa terdekat.

Kami buka motor perahu, lalu kami gotong berlima ke daratan, agak jauh dari pantai. Dengan sisa-sisa tenaga… Setelah selesai, kami baru berjalan mencari desa terdekat, dan minta bantuan…

Jam sudah menunjukkan sekitar 9:30 malam, kami menemukan desa terdekat, dan “berbuka puasa” dgn minum air putih. Karena ketiadaan, maka kami minum dari gayung yg ada, entah air matang atau mentah… Kami minum dg “lahap”.

Setelah itu kami mengajak penduduk untuk melihat perahu kami di pantai… Dan sesampainya di pantai… Ternyata perahu kami sudah hancur… hancur terhantam ombak dipantai… Seandainya…

#Foto perjalanan – kondisi perahu motor yg hancur terhantam ombak di pantai Lombok… http://j.mp/oHY2lm

Tiada yg bisa kami pikirkan saat itu…, kami hanya terucap syukur kepada Pencipta, masih diberikan keselamatan.

Singkat cerita, kami akhirnya mencapai Pelabuhan Lombok lagi melalui darat, untuk makan malam sekaligus sahur. Tim semua lelah fisik dan mental, semua merasa syok dengan kejadian yg baru dialami. Pengalaman yg membuat saya trauma melihat air laut malam hari. Ramadhan yang mendatangkan pengalaman hidup-mati.

Alhamdulillah, banyak hal yg akhirnya dapat saya cerna dari segala yg diberikan Nya malam itu.

Sekian dulu Cerita Ramadhan, salam.

*/ dari tweet tanggal 5 Agustus 2011  (arsip 140.hartantosanjaya.name)
*/ salam hangat untuk Laju “lajung” Gandharum, Samsul “cacul” Bahri Agus, dan Opan Lombok.