Tags

, ,


Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah

Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah

Pertengahan Juli 2011 saya berkesempatan mendatangi suatu wilayah di lereng dan kaki Gunung Dempo. Daerah yang saya kunjungi bernama Kota Pagaralam, suatu wilayah administrasi Kota yang dibentuk berdasarkan UU No.28 tahun 2001. Sebagaimana wilayah lainnya di Indonesia, Pagaralam mempunyai “jargon” khas: “besemah“.

Kata “besemah” mempunyai arti singkatan dari: Bersih, Sejuk, Aman, dan Ramah Tamah. Hanya itu saja artinya..? Setelah mengenal lebih dalam, kata BESEMAH ternyata mempunyai arti lain, tidak sekedar singkatan dari 4 kata seperti ditulis diatas.

Besemah, berasal dari kata SEMAH yang merupakan nama sejenis ikan. Ikan ini adalah ikan khas daerah sekitar Gunung Dempo, dan diyakini saat ini menuju kepunahan. Selain berarti nama ikan, Semah juga merupakan nama sungai yang terdapat di desa Tebat Gunung, Kecamatan Dempo Selatan.

Kota Pagaralam sendiri terdiri dari lima kecamatan, yaitu: Pagaralam Utara, Pagaralam Selatan, Dempo Utara, Dempo Tengah, dan Dempo Selatan.

Di sungai Semah, diyakini merupakan tempat ikan Semah berada, yang ditemukan pertama kali oleh kakek leluhur di daerah tersebut, yaitu Puyang Atung Bungsu.

Ikan Semah ini kemudian juga ditemukan di beberapa sungai di Pagaralam, sehingga kemudian muncul sebutan Besemah, yang berasal dari Ber (mempunyai, kemudian dilafalkan: “be”) Semah: Besemah. Sehingga wilayah Pagaralam dan sekitarnya, yang ditemukan ikan semah di sungai-sungainya yang banyak itu, disebut sebagai tanah Besemah hingga sekarang.

Ada juga istilah yang sering terdengar, yaitu: Jagat Besemah. Ini adalah istilah yang diberikan untuk suatu masa kekuasaan dalam sejarah wilayah Besemah. Pemerintahan ini berpusat di Besemah Lebar atau sekarang di desa Banua Keling. Masa pemerintahan ini sekitar abad 14 Masehi, yang dipimpin oleh Puyang Atung Bungsu, dan berupa pemerintahan Keratuan.

Wilayah Jagat Besemah ini meliputi Pagaralam (sekarang), dan juga sebagian Lampung, sebagian lagi wilayah di Sumatera Selatan (sebagian dari Lahat, Muara Enim, Empat Lawang), dan sebagian lagi wilayah di Bengkulu.

Pada masa pendudukan Belanda, daerah Besemah juga dikenal sebagai basis pejuang Besemah yang merepotkan Belanda. Perang terbuka antara tentara Belanda dan pejuang Besemah terjadi pertama kali pada Juni 1866. Pertempuran ini terjadi di desa Guru Agung, tak jauh dari benteng Penandingan, yang merupakan benteng pertahanan pejuang Besemah.

Kondisi perlawanan ini terus berlanjut hingga jaman kekuasaan Jepang, hingga kemudian tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Jika kita dalam perjalanan dari Lahat menuju ke Pagaralam, maka setelah memasuki wilayah Pagaralam, dan melintasi jembatan sungai Lematang, akan kita dapati tugu Besemah. Tugu yang dipucuknya terdapat patung ikan besemah.

*/ tulisan bagian-1 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ foto-foto dapat dilihat di “Ekspedisi di Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA