Tags

, , , ,


Perancak

Cermin alam di estuari Perancak

Dalam kondisi normal, hampir semua mahluk hidup yang bergerak dapat melihat dirinya sendiri. Wahana yang digunakan adalah cermin atau suatu media yang bersifat seperti cermin.

Awalnya cermin dibuat oleh manusia dalam bentuk kepingan batu yang mengkilap, dan yang ditemukan di Turki (Anatolia) diperkirakan dibuat 6000 tahun sebelum masehi. Hingga jaman kini, banyak benda bisa kita gunakan sebagai cermin. Bahkan terkadang kaca mobil yang sedang terparkir di sebelah kita bisa dimanfaatkan sebagai cermin untuk melihat penampilan wajah kita.

Sudahkah anda bercermin hari ini..?

Pertanyaan ini sering terdapat pada ruang utama sebuah kantor yang mementingkan penampilan dan kerapihan dari siapapun yang memasuki ruangnya.

Kali ini saya mengajak bercermin dari sisi nonfisik. Bercermin untuk diri sendiri, dengan menganalogikan bercermin pada cermin sesungguhnya.

Saat saya melihat bayangan saya di cermin, saya melihat diri saya “di sana”. Saya melihat apa yang orang lain lihat pada diri saya, dari satu sudut pandang.

Apakah saya dapat melihat sisi lain dari tubuh saya, tentunya bisa, tinggal gerakkan badan sedikit, atau gerakkan cerminnya. Atau bisa juga dengan menggunakan bantuan dua atau tiga cermin, seperti di tempat cukur “Asgar” di kedai cukur atau salon nan harum di Mal. Tetapi apakah saya bisa melihat keseluruhan tubuh saya..? Tentunya tidak mungkin. Tetap ada sudut yang tidak memungkinkan untuk dilihat sendiri.

Dalam kehidupan pun demikian. Kita sering menilai diri kita sendiri dari “cermin” yang berupa teman atau orang yang ada di dekat kita. Bahkan untuk kasus tertentu, kita bisa menilai diri kita dari “musuh” kita. Tetapi apakah “cermin” tadi dapat berkata sebenarnya tentang kita? Sejujur-jujurnya “cermin” kita tadi, tentunya akan luput juga hal-hal tertentu tentang diri kita.

Saat saya melihat bayangan saya di cermin, saya melihat diri saya “di sana”. Saya melihat gerakan yang saya lakukan pada saat yang sama persis.

Saat saya menggerakkan tangan kanan, maka bayangan tangan kanan di cermin juga bergerak pada waktu dan kecepatan yang “relatif” sama. Tidak mungkin saat tangan kanan bergerak, maka bayangan tangan kiri yang bergerak. Tapi pernahkah kita sadari bahwa ada yang berbeda dari gerakan tadi..?

Saat tangan bergerak ke kanan, maka bayangan kita akan bergerak “ke arah kiri”. Benar demikian kah..? Artinya adalah bayangan di cermin melakukan semua gerakan secara terbalik terhadap arah gerak kita sesungguhnya. Benar demikian kah..?

Saya mengartikan bahwa apa yang saya lakukan belumlah tentu dilihat sesuai dengan yang saya inginkan, bahkan oleh saya sendiri. Saat saya melakukan “kebaikan” maka dapat terlihat saya melakukan “ketidakbaikkan”. Begitu juga saat saya berbuat “tidak baik” maka dapat terlihat “perbuatan mulia”.

Saat saya melihat bayangan saya di cermin, saya melihat diri saya “di sana”. Saya dapat melihat bentuk badan saya kurus, gemuk, tinggi, pendek, atau meliuk.

Bisakah terjadi demikian..? Kenapa tidak..? Kita mengenal adanya cermin cembung, dan cekung, serta berpermukaan campuran. Semua akan membuat efek bayangan yang berbeda-beda. Untuk mudahnya, saat kita melihat wajah kita di kaca spion maka akan tampak “rada lucu”, atau saat kita bercermin di permukaan melengkung seperti kap mobil atau tangki sepeda motor bentuk bayangan akan berubah lagi.

Wajah yang terlihat tampan dapat terlihat berubah saat kita melihat di cermin yang berbeda. Itulah kita bukan..? Sebaik-baiknya (penampilan) kita maka dapat terlihat berbeda oleh orang yang berbeda pula. Tidak ada yang dapat menyimpulkan tentang diri kita pada kesimpulan detil yang sama.

Jika demikian pemahaman saya (dan mungkin anda sependapat juga) tentang cermin diri, maka:

Sudah sepantasnya kah kita menganggap diri kita paling sempurna saat mana kita tidak bisa mengetahui semua tentang diri sendiri..?

Sudah patutkah kita bersenang dan bertenang diri saat kita merasa “telah berbuat kebaikan” tanpa terus waspada dalam menjaga “kebaikan itu berjalan”..? Bukankah keberlanjutan tentang kebaikan adalah penting untuk dijaga..?

Dan sudah tenangkah kita saat merasa diri terlihat paling baik, tanpa perlu lagi bersikap rendah hati terhadap orang lain, terhadap orang di sekitar kita..?

Bercermin diri tidaklah cukup bagi orang yang mencari hal terbaik. Memahami cermin diri adalah penting untuk kita sadari dan pahami.

Sudah bercerminkah anda hari ini..?

*/ renungan diri saat menjelang 17 Ramadhan 1432 H.