Tags

, , , ,


Karakter bangsa adalah frasa yang sering terdengar beberapa tahun terakhir. Dua kata yang (mungkin) berarti membangun watak, sifat, atau tabiat bangsa ini semakin sering terdengar saat mana petinggi negeri sering mengulanginya dalam banyak pidato ataupun pertemuan dengan publik. Media massa pun berperan memopulerkannya.

Frasa menarik ini kemudian menjadi salah satu primadona dalam membuat judul kegiatan. Judul kegiatan selalu berbau “karakter bangsa” dan menjadikannya tidak tercoret dalam mata anggaran kegiatan, baik di instansi “pelat merah” ataupun “kuning”.

Apa yang menarik dari kegiatan “membangun karakter bangsa” ini..?

Yang menarik adalah banyaknya kegiatan “pembangunan” ini dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hanya dalam hitungan hari, dan kegiatan pun dapat mengusung nama “membangun karakter”. Apa saja kegiatannya..? Sebagian adalah serupa dengan kegiatan out-bond, sebagian lagi ditambahi dengan materi “kepemimpinan”, ada juga dengan bumbu team building dan games.

Dapatkah membangun karakter hanya dilakukan beberapa hari..? Apalagi dengan tambahan “bangsa” setelah frasa “membangun karakter”..?

Bagi pembaca yang terbiasa dalam dunia pendidikan, baik formal maupun nonformal, tentunya akan paham dengan jawaban dari pertanyaan diatas. Dan bagi yang berasal dari luar dunia pendidikan, tentunya juga bisa menjawab dengan logika sederhana.

Dan menurut hemat saya, membangun suatu kebiasaan baik yang kemudian dapat ditumbuhkembangkan menjadi kebiasaan kolektif suatu komunitas atau bahkan masyarakat tentunya memerlukan waktu yang tidak sehari-dua. Diperlukan waktu yang panjang dan banyak faktor yang saling terkait, baik dari sisi program, kedisiplinan dan konsistensi dalam menjalankannya, dan juga teladan dari pemimpinnya.

Rumitkah prosesnya..? Gak jugalah. Segalanya kalo dibuat rumit ya akan rumit. Kalau memang diniatkan sungguh-sungguh ya banyak cara yang bisa ditempuh.

Contohnya..? Yang paling terlihat adalah bagaimana kita mendidik anak-anak kita sendiri. Atau bagaimana orang tua kita mendidik kita dari kecil hingga sekarang. Itu adalah proses membangun karakter bangsa yang sesungguhnya.

Eh, lalu apa hubungannya dengan judul diatas..? Kenapa kata bangsa ditambahi huruf “t”..? Apakah salah tulis..?

Bukan salah tulis. Memang benar yang tertulis di judul adalah “bangsat”. Bangsat adalah kepinding atau kutu busuk yang biasa hidup di kasur atau tempat duduk kayu, dan hobinya adalah menghisap darah manusia.

Jika ada orang yang duduk atau tidur di tempat tersebut, si kutu busuk akan senang dan segera menggigit dan menghisap darah orang tersebut. Dia akan senang dalam sekejap, kemudian tidur atau berkembang biak. Selesai.

Lalu apa hubungannya “karakter bangsa” dengan “karakter bangsat”..?

Mungkin begini: Jika pendidikan atau “pembangunan” dilakukan dengan instan maka bagai memberi kesenangan sesaat tanpa hasil yang baik dan benar bagi peradaban manusia.

Demikian. : )