Tags

, , , ,


Pura Uluwatu, Bali.

Pura Uluwatu, Bali.

Uluwatu, salah satu tempat eksotik di Pulau Bali dan menjadi tujuan wisata turis dari mancanegara. Lokasi yang menantang dengan tebing cadas yang tinggi menyajikan pemandangan laut yang indah. Uluwatu juga tempat turis berburu keindahan suasana matahari terbenam.

Akhir tahun 2011 saya dan keluarga menuju ke Uluwatu dengan tujuan yang pasti yaitu menikmati pemandangan tebing dan suasana matahari terbenam. Waktu telah diset sedemikian pas sehingga saat sampai di Uluwatu masih dapat menikmati keduanya. Mas Budi, sobat lama kami, membawa kami sekeluarga (saya, istri, Alta dan Qila) sesuai dengan target waktu…

Sejak di tempat parkir mas Budi, yang sudah sangat hafal dengan kondisi Uluwatu, memberikan beberapa perhatian. Terutama terkait dengan keberadaan monyet liar yang katanya “usil” terhadap barang bawaan turis yang menarik perhatian. Kami segera bersiap dengan tidak memakai pernik apapun, termasuk saya yang harus menyimpan kacamata.

Memasuki gerbang suasana nyaman terasa. Sinar matahari sore masih terang benderang. Kami segera menuju ke arah pura di ujung tebing yang terdekat. Jalan setapak yang tidak begitu lebar dan menanjak. Banyak turis lokal dan mancanegara yang tengah menikmati suasana pula.

Perjalanan menapak ke ujung tebing mulai terasa asik karena monyet-monyet liar segera hadir di antara kami. Monyet dengan badan yang besar dan kecil hilir mudik di pagar pelindung di pinggir tebing.

Kondisi yang terasa asik tiba-tiba berubah. Seekor monyet yang relatif bertubuh kecil segera turun dan menarik sendal jepit hitam di kaki kiri Qila. Tarikan yang keras sang monyet dan juga kondisi tak terduga membuat Qila segera melepas sandalnya. Dalam sekejap sandal berwarna hitam tersebut naik pohon bersama sang monyet, eh, monyet segera naik pohon dengan membawa sandal hasil rebutannya tadi.

Karena terlihat berbahaya, saya tidak berusaha “merebut kembali” sandal dari si monyet. kami biarkan dan sekitar lima menit maka sandal dibuang dari atas pohon. Saat saya ambil, kondisi sandal jepit sudah putus talinya dan rusak bolong tengahnya. Wow, begitu ganasnya si monyet tadi.

Aktivitas monyet di Uluwatu.

Aktivitas monyet di Uluwatu.

Untuk melanjutkan perjalanan sore itu, saya segera menyerahkan sandal jepit saya untuk dipakai Qila, sedangkan saya sendiri “nyeker” alias tidak pakai alas kaki. Suasana riang segera menjadi tegang karena ternyata agresifitas monyet-monyet lainnya juga tinggi. Tas punggung yang dipakai istri menjadi target para monyet selanjutnya. Mereka tampaknya tertarik dengan gantungan kunci yang ada menggantung di sana. Segera kami buka paksa gantungan kunci dan menyimpannya. Sementara aman.

Kami segera berjalan ke arah lokasi lain, mendekati lokasi dimana akan ditampilkan tari kecak yang biasanya dilaksanakan sesaat sebelum matahari terbenam. Tebing dan taman yang kami lalui cukup rapi dan pemandangan sangat indah. Ketinggian tebing menyajikan pandangan yang luas dan dapat menyaksikan gulungan ombak yang pecah di pantai dari kejauhan.

Keindahan taman dan pemandangan segera terusik lagi oleh para binatang berekor panjang, sang monyet-monyet, yang tampaknya ada beberapa kelompok. Beberapa sangat agresif mengincar barang bawaan para pelancong, dan beberapa lagi berperang antarkelompok.

Kondisi ini jelas menyurutkan langkah kami, terutama anak saya yang baru saja mengalami hal yang tidak diinginkan. Saya tetap mengondisikan agar menikmati “atraksi alam” yang ada di depan mata. Kegesitan monyet dan reaksi kewaspadaan pengunjung tampaknya justru (kemudian) menjadi hal yang lebih menarik perhatian dibandingkan lainnya.

Saya melanjutkan perjalanan ke ujung tebing lainnya, dekat dengan lokasi tari kecak. Ternyata justru kami kembali melihat “atraksi” lain antara turis dan monyet. Salah satu monyet berhasil merebut kacamata seorang turis (kelihatannya dari Taiwan). Kondisi ini tentunya membuat si turis takut tetapi juga ada keinginan untuk mengambil kembali kacamata miliknya. Tak lama muncul “pawang” dengan membawa buahan (sepertinya anggur?). Dia segera mendekati si monyet sambil memberikat beberapa tangkai anggur. Dan seperti diduga sebelumnya, si monyet “takluk” dan memberikan kacamata kepada sang “pawang”.

Atraksi "pawang" di Uluwatu.

Atraksi "pawang" di Uluwatu.

Para pemirsa segera tepuk tangan melihat atraksi menarik tersebut. Si turis segera mendekat pada “pawang”. Dan… sang pawang memberi “harga” untuk usahanya mengembalikan kacamata tersebut… waaah…

Singkat cerita, sore itu saya dan keluarga lebih “menikmati” atraksi monyet daripada keindahan alam dan suasana temaram matahari terbenam. Kekhawatiran kami (dan juga yang hadir disana) terhadap keagresifan monyet menjadi lebih dominan daripada keinginan utama kedatangan kami ke lokasi tersebut.

Saat pertama saya datang ke Uluwatu, tahun 2005, kejadian serupa juga saya lihat. Dan pada kedatangan saya kali ini justru mengalami sendiri, terjadi pada keluarga saya langsung. Hal ini (semoga tidak) akan menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak dan juga saya sendiri terhadap “keindahan” lokasi wisata Uluwatu.

Dalam benak saya, setidaknya saat ini, jika mengingat Uluwatu adalah monyet, monyet dan monyet. Bukan keindahan pemandangannya dan juga bukan keindahan suasana sunset-nya. Entah di benak keluarga saya…

Apakah Uluwatu akan menjadi tujuan saya lagi dalam menikmati sunset di Bali…? Atau menjadi tujuan “petualangan alami” jika memang mau uji nyali…? Entahlah…

: )