Tags

, , , , ,


Buitenzorg yang kelam

Buitenzorg yang kelam (rekayasa gambar)

Ini adalah tulisan kesepuluh (akhir) dari Grup Hitam Cerita Berantai #2 dari Blogger Bogor. Tulisan sebelumnya dibuat oleh Tb. Sjafri MangkuprawiraEddy PrayitnoChandra ImanErfano NalakianoAnandita Puspitasari, Jun “Siro” Dieyna, Utami Utar, Miftah Abdillah Akhmad, dan Suria Riza.

Bogor ada karena satu alasan.

Apakah yang menjadi alasan dalam pemilihan lokasi penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja Kerajaan Pakuan, pada 3 Juni 1483, sehingga peristiwa itu terjadi di tempat yang kemudian bernama Bogor..?

Apakah pula yang menjadi alasan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Buitenzorg, nama lawas dari Istana Bogor, di lokasi ini dan menjadi kediaman resmi 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu Gubernur Jenderal Inggris..?

Buitenzorg mempunyai arti “without sorrow” atau “tanpa kesedihan”. Dalam bahasa Belanda, ada penyebutan lain terkait dengan “buiten”. Jika saya mengatakan bahwa saya mempunyai “buiten” artinya saya mempunyai rumah perisitirahatan di pedesaan.

Disatu masa, memiliki “buiten” di Buitenzorg adalah keindahan hidup. Seorang raja dapat mengendalikan pegunungan dan sekaligus daerah pesisir pantai dari lokasi yang nyaman. Perwakilan pemerintah kolonial Belanda dan Inggris pun demikian, dapat menikmati kekuasaanya sambil menghirup angin gunung yang mengalir dari Gunung Salak dan Gunung Gede dengan nyaman, dan dilimpahi hujan yang menyegarkan. Hidup tanpa kesedihan dan kekhawatiran.

Bagaimana dengan keindahan dan kenyamanan Bogor saat ini..?

Hiruk pikuk kemajuan jaman telah melanda Bogor. Kota yang (katanya pernah) indah ini menjadi tempat menginap sebagian pencari kehidupan Jakarta, dan menjadi ladang pembagian materi bagi sebagian lainnya. Kondisi kehidupan ekonomi, interaksi sosial dan budaya (sangat mungkin) telah sangat berubah dibandingkan saat Bogor masih menyandang sebutan “buitenzorg”.

Model pemerintahan saat ini yang “dipilih langsung” oleh rahayat jelata tidak mampu menjamin segalanya menjadi berpihak pada impian keindahan hidup para rahayat yang ber-KTP Bogor. Kebijakan dan peraturan dibuat dengan membawa nama “konstituen” tanpa sadar apa yang diperlukan oleh konstituen sesungguhnya.

Kesemerawutan sosial dan budaya terpampang jelas di pinggir jalan (menurut Eddy PrayitnoChandra ImanAnandita Puspitasari, dan Suria Riza). Kondisi transportasi, baik sarana maupun prasarana, yang tidak pernah terobati dengan baik (menurut Utami Utar dan Miftah Abdillah Akhmad). Pengaturan transaksi perdagangan yang buruk (menurut Erfano Nalakiano dan Jun “Siro” Dieyna). Dan antisipasi kebencanaan akibat bencana alam yang sangat memrihatinkan (menurut Tb. Sjafri Mangkuprawira).

Semua “persoalan kecil” yang telah dibahas oleh rekan-rekan diatas bagaikan kabut pekat dimalam hari. Kegelapan malam ditambah dengan kehadiran kabut akan menjadikan penghuni kota berjalan sangat lambat. Kalaupun dapat berjalan cepat maka dapat dipastikan keselamatan akan terabaikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dan kemudian ini bukanlah “persoalan kecil” lagi tentunya.

Bogor hadir bukan untuk menghambat kemajuan penduduknya, tetapi juga bukan untuk menghilangkan “keindahan buitenzorg” yang berlangsung selama berabad-abad lalu.

Kepekaan pemimpin sangat diperlukan. Dan bukan hanya kepekaan tetapi juga kemampuan dan keberanian dalam menentukan langkah (bahasa kerennya: “kebijakan”, berupa peraturan dan aksi). Masyarakat Bogor bukanlah orang yang bodoh dan hanya menyetujui apa yang telah ada dikeseharian. Masyarakat Bogor sejatinya mampu menilai dengan baik apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpinnya dalam mengolah wilayah beserta semua aset-asetnya dengan keberanian dan dilandasi kebenaran. Masyarakat Bogor mampu ikut serta membangun Bogor bersama.

Tidaklah sulit untuk mengatur (baca: membuat perda dan menjalankan bersama) transportasi, perdagangan, sosial, dan budaya. Sekali lagi: tidak sulit. Kemampuan edukasi dari para punggawa pemerintah Bogor (baik Kota maupun Kabupaten) tentunya sudah memenuhi kebutuhan dasar sebagai pemikir yang baik dan mampu bertindak dengan benar.

Demikian pula dengan “para wakil rakyat yang terhormat” di DPRD yang telah berpanjang titel kesarjanaan maupun kerohaniannya, tentunya mampu “sejenak berpikir serius” untuk Bogor dan rakyatnya. Gantungkan jas parpol anda dan bertindaklah segera, konstituen sesungguhnya tidaklah melihat warna bendera anda.

Masyarakat Bogor adalah masyarakat yang dewasa dan sangat mudah untuk digerakkan demi menjadikan Bogor yang “buitenzorg”. Kesungguhan berpolitik para pemimpin dan wakilnya menjadi salah satu kunci penting dalam menjembatani pergerakannya. Gunakanlah politik sebagai kendaraan anda memperbaiki Bogor, janganlah berlaku sebaliknya. Jika politik yang mengendarai anda, maka keturunan anda yang akan menanggung akibatnya, dijamin..!

Pemimpin adalah pelayan yang paling rendah posisinya. Niat dan janji tidaklah cukup tanpa kebersamaan aksi dari semua lini: pemimpin dan terpimpin, kita semua.

Mampukah kita menyibak kabut malam di “Buitenzorg” ini dan menjawab pertanyaan: untuk alasan apa Bogor ada..?

Demikian. : )

*/layar ditutup untuk Grup Hitam… walau rada kocar-kacir… : )