Tags

, , , , , , , , , ,


disconnecting people

disconnecting people

Berapa banyak temanmu di Facebook..? Berapa banyak pula follower mu di twitter..? Dan juga, berapa banyak rekan mu di grup komunikasi seperti BBM atau WhatsApp..?

Jika kita mengikuti Facebook, twitter, BBM, WhatsApp (plus grup lainnya) pernahkah kita menghitung total jumlah “teman” kita itu..? Maka berbahagialah kita karena mempunyai teman yang (sangat) banyak dan selalu rajin menyapa kita selama 24 jam 7 hari seminggu. Semua “teman” tadi dapat terus terhubung dari alat komunikasi yang kita miliki saat ini, yaitu dapat berupa hape biasa ataupun hape pintar.

Sadarkah kita bahwa kemampuan berkomunikasi ini juga mengubah perilaku kita..? Terutama tentunya dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Saya mengalaminya.

Saat saya memasuki bis kantor pada sore hari dan mengambil posisi tempat duduk paling belakang biasanya telah hadir rekan-rekan yang memang terbiasa duduk di bagian belakang ini. Kami biasanya saling menyapa akrab dan berbicara ngalor-ngidul sebelum kemudian masuk alam mimpi setelah bis berjalan mengarungi kemacetan lalu-lintas Jakarta. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama ini lambat laun ternyata berubah.

Kini, sesaat sampai di kursi, dan saling menyapa, maka aksi berikutnya adalah tidak ngobrol ngalor-ngidul lagi tetapi masing-masing mengeluarkan hape-nya dan segera meluncur di dunia maya. Semua tertunduk dengan hape di tangan dan memerhatikan semua tulisan, ehm… status, yang berada di Facebook, twitter, atau asik ber-BBM atau WhatsApp-an. Semua menyapa dan ngobrol di dunia maya. Semua saling peduli dan perhatian melalui “status” dan “comments” atau “tweet”, atau asik dengan suara “ping!!!” yang keras (ping: suara khas dari BBM saat ada message masuk).

Tidak ada lagi ngobrol penuh canda atau serius yang terjadi. Tidak ada lagi saling bertanya kabar keluarga. Keakraban berlangsung di dunia maya. Dan tidak jarang yang duduk bersebelahan saling mengisi comments di salah satu status Facebook mereka. Saya juga melakukan hal yang sama…😀

Hari ini saya mengalami hal serupa juga. Tapi kali ini sebagai orang yang mengamati apa yang terjadi pada orang lain. Kejadiannya saat di salah satu gerbong kereta api Commuter Line jurusan Bogor, saat pulang kerja.

Terlihat dua orang yang ngobrol dengan akrab di peron stasiun. Saat kereta datang, maka masuklah kedua orang tadi ke dalam gerbong, berdiri dekat saya. Terlihat salah seorang dari keduanya segera mengeluarkan BB dan mulai cek sana-sini. Saya tidak tahu apa yang dicek, apakah BBM atau messenger yang lainnya pada BB-nya.

Yang jelas kedua tangannya segera menari di tuts QWERTY tanpa perlu pegangan pada gantungan penumpang. Kesibukannya terlihat luar biasa. Saya memerhatikan dengan seksama, dan timbul dalam pikiran bahwa ia sedang ada urusan yang penting sekali.

Perlahan saya perhatikan rekan seperjalanannya, yang bersamanya saat naik gerbong kereta tadi. Ow… dia tampaknya tidak siap dengan hapenya, bahkan tidak mengeluarkan gadget apapun untuk “dimainkan”. Ia hanya terdiam dan sesekali memerhatikan rekannya yang asik dengan BB.

Kejadian di depan hidung itupun segera mengingatkan saya akan komunikasi dunia maya yang mengubah cara orang berkomunikasi. Bagi si pemegang BB, ia segera memasuki dunianya dan menemukan “hal yang lebih penting” untuk dikomunikasikan melalui BB-nya. Entahlah ia sedang ngobrol apa tapi yang pasti asyiknya luar biasa. Sementara bagi rekannya, yang tadi bersama dan akrab ngobrol bersama, terlihat sekali merasakan kondisi ini adalah memutus hubungan seketika ia dan rekannya. Terlihat sekali ketersisihan yang dirasakan olehnya. Tersisih oleh keasyikan rekannya terhadap “benda mati”, dan kemudian justru menjadikannya “seperti benda mati”, tersisihkan seakan tanpa ada pernah bersama.

Saya mengamatinya hingga akhirnya mereka turun di tempat berbeda. Terlihat si pemegang BB turun terlebih dulu dengan menyapa “ramah” pada rekannya tadi, dan menghilang…

Saya yakin, kejadian yang saya lihat pastilah banyak juga terjadi pada fragmen yang serupa. Seseorang yang segera tenggelam pada “gadget”-nya dan tega melupakan yang ada di samping atau sekelilingnya. Rekan yang berada di sekelilingnya seakan benda tak pernah dikenal…

Kecanggihan alat komunikasi dan tersedianya fasilitas berteman “hingga ribuan teman” membuat kita lupa ada teman sesungguhnya di samping kita. Ada orang lain di sekeliling kita. Orang yang, walaupun hanya satu, tetapi nyata dan yang lebih pantas diajak berkomunikasi saat jalan bersama.

Pernahkah anda mengalaminya juga..? Sebagai yang mana nih..?

: )