Tags

, ,


Siapa yang tidak mengenal internet saat membaca tulisan ini? 99% kemungkinan pembaca tulisan ini telah mengenalnya. Sadarkah kita saat membaca ini seolah melihat dari jendela kecil yang besar..?

Jendela kecil yang dimaksud adalah layar monitor atau hape atau tablet anda. Dari jendela ini kita bisa melihat banyak hal dalam beragam bentuk. Kita bisa melihatnya dalam format teks, gambar, ataupun film. Semua bisa dinikmati sesuai dengan keinginan.

Kehadiran aplikasi media sosial semacam Friendster, Facebook, Twitter, LinkedIn, dan lain-lain menambah kekayaan konten jendela kita tadi.

Dan mulailah kita menaruh banyak properti pribadi menjadi bagian dari konten jendela. Pertama-tama adalah nama kita atau sebutan keren atau sebutan diri supaya keren yang kita tampilkan. Lalu sejarah singkat kita dimulai dari kelahiran hingga pendidikan terakhir. Juga kesukaan kita akan buku, film, dan lain-lain kita tampilkan semua.

Dalam perjalanannya, kita dengan suka hati menyatakan pada “dunia” mengenai status kita. Status dapat berisi pendapat, uneg-uneg, berita bahagia, kemarahan, bahkan makian. Tidak jarang juga hanya diisi dengan satu kata yang tidak bisa dimengerti artinya.

Kitapun dengan sukahati ikutserta memperkaya jendela orang lain. Kita memberikan kata-kata berupa ucapan, pendapat, atau kadang respon yang “gak jelas”. Sering juga kita memberikan tautan film atau laman yang kita anggap (tidak) perlu tampil di jendela teman.

Semua itu kita lakukan tanpa lagi dibatasi waktu yang berjatah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Kapanpun kita sempat “membuka jendela” maka segeralah kita menambahkan kontennya. Begitu perhatiannya kita akan perubahan dan penambahan konten jendela kita.

Lalu, bagaimana sebenarnya yang kita lakukan saat kita tidak sedang “membuka jendela” alias berada dalam dunia nyata..? Apakah yang kita lakukan serupa dengan saat menatap “dunia lain” di seberang “jendela” tadi..?

Apakah kita dengan sukarela memberitahukan pada teman dan tetangga tentang aktivitas yang sedang kita lakukan..?

Saat ada tetangga lewat depan rumah, apakah kita memberitahu: “gw lagi nunggu kereta”, pasti yang lewat tadi bingung: emangnya lu di stasiun..?

Saat ada teman datang, langsung ngomong: “gw lg ng*pil nih…”, pasti si teman langsung menjauh.

Saat ada orang yang belum dikenal tanya nama kita, bukannya langsung jawab tapi pasti kita langsung berpikir: siapa lu nanya2 nama gw..?

Kalau dia langsung tanya tanggal lahir, maka kita pasti akan cuekin sambil ngedumel: emangnye lagi ada sensus penduduk.. pake nanya nama ama tanggal lahir segala.

Saat ada tetangga yang intip dalam rumah kita, pasti kita langsung usir sambil nyentak: ngapain lu intip rumah gw..

Begitulah…

Semua yang kita lakukan pada kehidupan nyata banyak sekali yang berbanding terbalik dengan kehidupan di balik jendela monitor kita.

Semua yang kita tutupi dengan rapi dan rapat, dapat seketika kita umbar lewat jendela “media sosial” dengan harapan semua friends dan followers kita tahu segera. Bahkan mengharap mereka merespon dengan segera. Semakin heboh semakin membuat kita senang.

Yang kita lakukan adalah ibarat sedang duduk dalam ruang yang gelap sambil melihat bola dunia yang terang di depan kita. Kita tidak ingin dilihat oleh orang lain di sekitar kita, tetapi kita ingin tampil di dunia dengan wujud yang kita inginkan.

Sudah terlepaskah kepercayaan diri untuk menjadi diri sendiri..?

Jawabannya ada pada perilaku kita masing-masing tentunya.
: )

*/ belajar nulis di dalam bis saat kemacetan pagi memasuki ibukota Jakarta.