Tags

, , , , ,


Cak Agus sedang beraksi.

Cak Agus, pencukur dari Madura, sedang beraksi.

Cukur adalah salah satu kata yang saya kenal sejak kecil. Bercukur adalah kata kerja, sedangkan “cukurlah kamu sekarang” adalah kalimat perintah yang paling tidak disuka.

Yah demikianlah, salah satu yang tidak saya suka adalah saat mana Bapak atau Ibu sudah menyuruh saya segera merapikan rambut. Artinya adalah harus segera ke tukang pangkas rambut dan itu artinya adalah siap dengan segala risiko.

Risiko yang paling menyebalkan adalah saat alat cukur si pemangkas, yang berbunyi kres kres kres dan jelas bukan elektrik seperti masa kini,  tidaklah licin pada pisau potongnya. Akibat dari hal ini adalah tercerabutnya rambut, bukan terpotong. Dan hal ini adalah gatal dan menyakitkan, saudara-saudara…

Kegiatan cukur mencukur terjadi hampir di seluruh dunia. Eh, mungkin di seluruh dunia. Karena, sepertinya, tidak ada satu kelompok manusiapun yang tidak berambut. Selama ada rambutnya pasti perlu pencukuran kan..?

Saat bertugas di Yogyakarta, dan tinggal di dekat kali Code, maka saya pun memerlukan jasa pencukur. Sore, sepulang kerja seharian (ehm), maka saya segera menyusuri kali Code. Setelah bertanya dengan beberapa orang maka sampailah saya di ruang kerja Cak Agus.

Antri sebentar, kemudian giliran saya. Masuk ruang dengan melepas sendal, agaknya begitulah peraturannya. Duduk di kursi dan segera Cak Agus memulai tugasnya.

Cak Agus berasal dari Madura. Sudah beberapa tahun bertahan di Yogyakarta dan menekuni profesi dengan hebat. Ia bisa mempunyai kantor di salah satu jalan utama di kota Yogyakarta, dan sepertinya menjadi satu-satunya pencukur di seputaran kali Code. Menurut Cak Agus, rekan seperjuangan seperantauan dari Madura banyak yang mempunyai profesi yang sama dengan dirinya di kota Yogyakarta ini.

Cak Agus sangat rapi kerjanya, dan hasilnya memang oke punya. Model apapun cukurannya, tarifnya hanya satu… Rp. 5.000 saja.

Saat bertugas di Banyuwangi, saya juga memanfaatkan jasa pencukur profesional. Mas Effendy merupakan pencukur handal yang melanjutkan profesi utama dari ayahnya. Mas Effendy adalah asli Lare Osing (Banyuwangi asli). Ia mempunyai tiga saudara lelaki dan semuanya berprofesi sama, pencukur profesional. Saat saya datang ke kantornya di kelurahan Singotrunan (daerah belakang kantor BAPPEDA), ia sebenarnya tidak sedang bertugas. Tapi karena “panggilan tugas” maka ia segera membuka kembali jam kerjanya. Hasilnya… rapi..!!! Terimakasih untuk Pak Bibit yang memperkenalkan saya pada kemampuan mas Effendy.

Cak Agus dan mas Effendy adalah sosok penentu ke-PD-an kita. Dengan keterampilan mereka mengolah panjang rambut kita maka kita segera bisa tampil beda.

: )