Tags

, , , , ,


Enschede, Idul Adha 1423 H, 11 Februari 2003.

Idul Adha 1423 H, 11 Februari 2003, di kota Enschede, Belanda. Keberagaman dalam kesatuan yang indah.

Melihat beberapa tweet dan berita di koran kertas atau dijital, tampaknya masih ramai tentang “pertempuran” Syiah dan Sunni. Hal ini tentunya masih terfokus pada kejadian yang belum lama ini di Sampang, Madura. Perselisihan pemahaman yang telah berlangsung ratusan tahun ini, sangat disayangkan, meledak secara negatif di negeri kita tercinta.

Sebagai orang yang awam akan kedua paham tersebut, dan juga tidak mengerti sejarah terbentuk keduanya, hal ini cukup membingungkan. Apalagi hal ini terjadi di negeri dengan masyarakat sangat majemuk dari segala sisi, baik suku, agama, dan keyakinan lainnya. Masyarakatnya pun mempunyai nilai toleransi apapun yang tinggi.

Pengalaman saat saya tinggal di kota kecil di Belanda, dengan penduduk muslim yang berasal dari “beragam aliran”, akan coba saya ceritakan secara ringkas.

Di negeri Belanda yang mayoritas penduduknya adalah nonmuslim memberi pengalaman menarik bagi saya. Penganut Islam adalah minoritas. Juga demikian di kota tempat saya tinggal, Enschede.

Ada dua masjid besar di Enschede, satu dikelola turunan dari Maroko, yang lain dikelola turunan dari Turki. Aliran apa yang dianut mereka? Saya tidak tahu.

Tiap hari Jumat pada masjid keduanya (plus beberapa masjid lebih kecil) dipenuhi umat Islam yang berasal dari berbagai negeri. Hal ini mudah terlihat dari beragam warna kulit dan juga gaya berpakaiannya.

Saat sholat mereka mempunyai “gaya” yang bermacam-macam. Ada yang kedua tangannya sedakep (seperti kita lakukan di Indonesia), ada yang lurus saja tangannya kebawah. Cara dudukpun beragam. Semua keberagaman “gaya” ini ditemui dalam masjid yang sama.

Sholat dilakukan dalam masjid yang sama, imam sholat yang hanya satu, tetapi dengan “gaya” yang berbeda. Perbedaan juga terlihat setelah sholat selesai (salam) maka sebagian ada yang melanjutkan dengan ritual gerakan “tambahan”, seperti tangan yang dikibaskan dan kepala yang digelengkan.

Dalam keberagaman “gaya” ini ternyata tidak membuat kegaduhan di dalam masjid tersebut. Tidak pernah ada makmum (pengikut sholat) yang berantam, berbaku pukul, apalagi berbunuhan. Semua prosesi berjalan dengan semestinya dan… indah.

Dalam skup yang lebih kecil: di sekolah saya (ITC, www.itc.nl) muslimnya cukup banyak, walau tetap saja minoritas dibandingkan keseluruhan siswa. Para mahasiswa berasal dari seluruh belahan dunia.

Saat sholat lima waktu di musholla kampus, yang menjadi imam selalu bergantian, kadang “Sunni” lainwaktu “Syiah”. Begitupula saat sholat Jumat. Salah satu “imam” kami adalah pak Yusuf Husein, seorang dosen, beliau asli dari Iraq (yang saat itu sedang digempur oleh Amerika, 2003). Beliau penganut Syiah.

Beberapa mahasiswa berasal dari Iran, merekapun “Syiah”, dan selalu sholat bersama kami yang “Sunni”. Noproblemo.

Imam kami lainnya adalah seorang dari UEA, ia Sunni, sangat fanatik dan keras tentang agama, tetapi sangat bijak dalam berlaku. Ia sangat teduh dalam berkata-kata. Kami semua beranggapan: Noproblemo. Saat kami semua mengikuti “kultum” tak ada pertentangan terjadi. Semua dibahas dengan bijak siapapun yang bicara atau yang hadir. Suasana yang indah tentunya.

Saya merasakan “bhinneka tunggal ika” yang indah. Keberagaman yang tidak dipertentangkan. Keberagaman yang menyejukkan. Umat Islam yang selalu bersama walau berbeda warna kulit, suku, ras, golongan, dan aliran. Kami berasal dari benua Amerika, Afrika, Eropa, Asia. Tidak pernah dipersoalkan asal-usul dan, apalagi, keyakinan dalam aliran masing-masing.

Lalu bagaimana hubungan “kelompok minoritas muslim” dengan nonmuslim yang notabene “pemilik kampus”?

Dalam kampus yang berujud gedung megah itu, ada satu kelas “yang dikorbankan” untuk menjadi musholla, dan ini hanya terjadi untuk “muslim”. Tidak ada kelas/ruang lain yang dipergunakan untuk ritual khusus agama lainnya.

Kelas diubah sedemikian dengan fasilitas wudhu air biasa dan air panas, dan saat rehab ruang tersebut kami dilibatkan untuk memberikan masukan. Saya sempat ikut sebagai salah satu perwakilan yang memberikan masukan mengenai musholla baru yang akan dibuat di apartemen/hotel tempat tinggal mahasiswa.

Bagaimana saat hari Idul Fitri dan Idul Adha? Masyarakat muslim biasanya berkumpul di satu tempat, Patmoshall namanya, sebuah gedung yang besar. Di gedung itu (saat ini sdh menjadi masjid besar), lebih terlihat lagi keberagaman “aliran” yang hadir. Saya sampai terheran-heran.

Heran pertama: kok maunya kumpul jadi satu tempat padahal “alirannya berbeda”? Kan gampang saja untuk mengadakan sholat dimanapun bersama kelompoknya? Lha, ini kok malah kumpul.

Heran berikutnya: kok nggak ada perbedaan hari lebaran ya? Cukup menunggu keputusan masjid besar, dan “semua aliran” setuju, beres.

Tidak perlu berolok metode, berolok organisasi, ataupun berolok aliran. Semua dapat berjalan harmoni tanpa saling merusak. Indah.

Hal-hal diatas adalah merupakan pengalaman indah bagi saya, dan akan menjadi pelajaran sangat berharga, yang harus saya tularkan pada anak, keluarga, dan siapapun.

Akankah (kelak) saya alami di negeri sendiri yang “mayoritas Islam” dan berjargon “Bhinneka Tunggal Ika” ini..?

Err.., antara Belanda dan Indonesia, bagi muslim, Tuhan-nya masih sama kan?

: )

———-

*/ tulisan ini pengembangan dari tweet pada tanggal 31 Agustus 2012 melalui @httsan, yang digabungkan pada Chirpstory (klik disini)