Tags

, ,


Pertanian

Petani dan pertanian.

Diskusi adalah kegiatan yang bersifat terbuka dalam mengolah buah pikir pesertanya. Diskusi kelompok terfokus, atau lebih dikenal dengan sebutan Focus Group Discussion (FGD) mempunyai bentuk menguras pemikiran peserta yang lebih efektif dibandingkan metode lainnya saat ini.

Dalam suatu kesempatan saya mengikuti sebuah FGD menarik di satu instansi pemerintah. Topik utama adalah mengenai intervensi yang dapat dilakukan untuk adaptasi pertanian terkait dengan isu perubahan iklim. Peserta hadir dari beberapa Kementerian, lembaga riset, dan lembaga swadaya masyarakat.

Isu yang diangkat dalam diskusi ini adalah dampak perubahan iklim terhadap usaha pertanian tanaman pangan padi, yang perlu dilakukan untuk aksi adaptasi, efektivitas penyebaran informasi pada pengguna akhir, dan potensi intervensi dalam mengisi kesenjangan informasi yang ada.

FGD berjalan menarik, dimana moderator dari FAO memberikan aliran diskusi yang berimbang. Informasi dari kementerian terkait, masukan dari lembaga riset, dan juga dari LSM semua diakomodir dalam satu alur yang positif. Terungkap banyak hal positif yang telah dilakukan oleh berbagai instansi di Indonesia terkait dengan isu yang diangkat dalam FGD ini. Hal negatif pun dibicarakan dan dicarikan klarifikasi dari peserta yang hadir, jika memungkinkan.

Tersebut banyak hal menarik (bagi saya), seperti dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan, target surplus beras untuk tahun 2014, keberadaan Inpres No. V Th 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim. Selain itu juga mengenai teknologi adaptasi yang diharapkan dapat dengan mudah diserap oleh para petani, atau masyarakat pertanian di Indonesia.

Adanya SLI (Sekolah Lapang Iklim) yang bertujuan memberdayakan petani sesuai dengan kondisi lokal juga sangat menarik. Dan tentunya, keberadaan SLI yang bersumber dari berbagai pihak juga menarik diperhatikan terkait dengan isu sinergi dan tumpang tindih kegiatan. SLI diadakan pada daerah endemik kekeringan/kebanjiran, sedangkan SL-PHT diadakan di daerah endemik serangan OPT.

Keberadaan varietas padi yang lebih dari 240 varietas tentunya merupakan kekayaan luar biasa bagi pertanian tanaman pangan Indonesia. Penggunaan dan distribusi varietas unggul terkait dampak atau kondisi banjir/kekeringan masih menjadi kendala.

Banyak hal teknis yang menarik perhatian saya, sebagai “bukan orang pertanian”, dalam FGD ini. Kegiatan yang terkait peningkatan produksi pertanian dan juga antisipasi dampak perubahan iklim dari berbagai pihak ternyata juga sudah sangat banyak. Simpulan dari moderator pun, sebagaimana biasa, tidak mengikat dan membuka kesempatan untuk kondisi yang lebih baik dimasa mendatang dengan kata kunci sinergi dan bla bla bla.

Sebelum simpulan diucapkan, salah satu peserta yang merupakan “orang lapangan” dunia pertanian Indonesia menjawab pertanyaan mengenai kondisi pertanian saat ini, dan poin yang saya ingat adalah: pemimpin wilayah daerah pertanian tidak mempunyai kebanggaan mengenai pertanian lagi, karena yang lebih menjadi kebanggaan saat ini adalah kemenangan politik untuk diri sendiri atau kelompoknya. Akibatnya tentunya adalah semua kebijakan tidak mencerminkan peningkatan pertanian secara keseluruhan.

Saya cukup tertegun saat mendengar sang Bapak ini membandingkan kondisi pertanian saat ini dengan jaman Presiden Soeharto.

Ah… ternyata dia lagi…