Tags

, , , , , ,


Lambaian Presiden SBY pada laskar merah-putih

Lambaian Presiden SBY pada laskar merah-putih.

Menghargai pemimpin adalah suatu kewajiban. Sikap penghargaan pada pimpinan adalah salah satu nilai yang harus selalu ada pada diri orang yang mau dipimpin. Masih adakah nilai tersebut pada diri anda..?

Satu siang yang terik saya melihat adegan menarik. Saat itu saya baru selesai makan soto Kudus daging sapi di warung Soto Kudus Panjunan di seberang JEC (Jogja Expo Center). Tampak “laskar merah putih” alias anak-anak Sekolah Dasar bergerombol di tepi jalan, dengan pakaian lengkap (bertopi) sambil memegang bendera merah putih yang terbuat dari “kertas minyak”.

Tak susah menebak apa yang dilakukan mereka. Anak-anak SD ini (juga terlihat ada yang dari SMP) sedang menunggu lewatnya bapak Presiden SBY. Hari itu, Selasa 23 Oktober 2012, Pak SBY membuka perhelatan internasional di JEC, The 5th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR). Acara yang dihadiri oleh Pak SBY sejak jam 9.30, akan ditinggalkan beliau sekitar jam 12.30an.

Beberapa kali anak-anak ini diminta oleh Pak Polisi yang mengatur lalulintas untuk istirahat dulu di warung, tetapi tampaknya mereka tidak sabar. Menanti sebentar di keteduhan warung dan kemudian keluar beramai ke tepi jalan. Demikian berulang kali.

Sampai akhirnya yang dinanti pun akan segera keluar gedung JEC, tentunya akan melintasi jalan dimana anak-anak SD ini berada. Mereka, sang laskar merah putih, segera berbaris di tepi jalan dengan tertib dan santai. Tidak ada komando apapun dari pengawas (guru) mereka yang ikut serta.

Pengawal rombongan presiden keluar, dan anak-anak ini sudah mulai mengibar-ngibarkan bendera kertasnya. Tak berapa jauh mobil sedan hitam berpelat INDONESIA 1 pun bergerak mendekat. Tak dinyana jendela segera terbuka dan melambailah tangan orang nomor satu Indonesia itu ke arah para laskar merah-putih ini. Tak terlalu panjang “barisan” anak-anak di pinggir jalan ini, mungkin hanya sekitar 30 meter, dan sepanjang itulah jendela mobil INDONESIA 1 terbuka dengan lambaian hangat yang ditunggu-tunggu oleh para generasi cilik ini.

Ahai, terlihat wajah-wajah yang sangat berbahagia di laskar ini..!

Walaupun di belakang sedan INDONESIA 1 kemudian melintas sedan hitam berpelat “AB 1” dan tidak sempat membuka kaca mobilnya, hal ini tidak mengurangi sama sekali wajah sumringah para pengibar bendera kertas ini.

Saya menyaksikan dengan terharu. Masih ada warga muda Indonesia yang belajar menghargai (dan mencintai) pemimpinnya. Saya yang (mungkin) sudah teracuni oleh hiruk pikuk politik (murahan) yang diumbar oleh media massa Indonesia merasa malu dengan kepolosan anak-anak ini.

Dari topi merahnya, terlihat mereka berasal dari SD Karangbendo.

“Jika anak melihat Presiden secara langsung, mereka akan punya dorongan. Itu akan memacu mereka.” kata Pak Sunadi, Kepala Sekolah SD Karangbendo bertutur pada Tribun Jogja yang saya baca sehari setelah kejadian.

“Ini pembelajaran nasionalisme kepada anak-anak.” kata Nurul, salah seorang guru yang mendampingi para laskar merah-putih ini.

Yes, pembelajaran nasionalisme, satu ungkapan yang sangat tepat.

Ini adalah hal yang telah hilang terlindas demi semangat “reformasi” dan “politik wacana” yang lebih tertelan mentah-mentah oleh publik melalui para elite yang “tak berhati elite“.

: )

This slideshow requires JavaScript.