Tags

, , ,


Sirene

Sirene..??? : )

Suatu ketika saya membawa rombongan workshop menuju ke satu lokasi yang cukup jauh. Peserta yang cukup banyak menyebabkan diperlukan beberapa mobil untuk mengangkutnya. Karena saya koordinator merangkap penunjuk jalan maka saya menaiki mobil terdepan.

Mobil ini adalah dari instansi kebencanaan provinsi, yang dilengkapi dengan asesoris lampu dan sirene khusus. Perjalanan dimulai, dan mas sopir segera menghidupkan sirene yang beragam macam bunyinya. Rasa risih mulai menghampiri saya yang duduk dikursi depan, di samping pak sopir yang sedang bekerja.

Saat baru beberapa kilometer dari sekitar 30 kilometer jarak tempuh yang mengarah ke pegunungan, saya akhirnya tak tahan lagi dengan bunyi nguing-nguing yang nyaring itu. Saya minta mas sopir mematikan sirene, karena memang konvoi tidak banyak, hanya sekitar 4 mobil, dan tidak terlalu diburu waktu.

Saya katakan pada mas sopir, bahwa sebaiknya dimatikan saja sirenenya, karena rombongan tidak dalam keadaan darurat. Saya khawatir dengan dibiasakannya membunyikan sirene untuk hal “biasa-biasa saja” akan menjadikan masyarakat pengguna jalan lainnya menjadi tidak peduli lagi dengan tujuan awal dibunyikannya sirene. Akibat ketidakpedulian ini bahaya, karena saat memang diperlukan (dalam kondisi bencana, dll) maka pengguna jalan lain sudah tidak menghiraukan lagi alias tidak peduli dengan bunyi sirene tersebut.

Saya beruntung, mas sopir mengerti yang saya maksudkan, sirene segera dimatikan, ia tidak marah/dongkol dan kami pun ngobrol banyak hal terkait dengan kondisi darurat kebencanaan, dengan logowo.

Meng-copy dari situs berita TMC Metro mengenai penggunaan sirene:

Mengacu pada UU Nomor 14 Tahun 1992 dan Pasal 72 PP Nomor 43 Tahun 1993 , tentang Prasarana dan Lalu lintas, bahwa isyarat peringatan dengan bunyi yang berupa sirene hanya dapat digunakan oleh:
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas termasuk kendaraan yang diperbantukan untuk keperluan pemadam kebakaran.
b. Ambulans yang sedang mengangkut orang sakit.
c. Kendaraan Jenazah yang sedang megangkut Jenazah.
d. Kendaraan petugas penegak hukum tertentu yang sedang melaksanakan tugas.
e. Kendaraan petugas pengawal kendaraan Kepala Negara atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu negara.

Perlu ditekankan: Orang penting (VIP) pun hanya petugas pengawal Kepala Negara atau Pemerintah Asing (tamu negara) yang dibolehkan. Anda kalo masih level Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Lurah, Ketua RT, ya mbok gak usahlah nyuruh pengawalnya pake sirene. Apalagi level kacungnya… hehehe…

: )