Tags

, , ,


Sumber: Olaus Magnus Historia om de nordiska folken.

Sumber: Olaus Magnus Historia om de nordiska folken.

Bencana yang paling dekat dengan kita, di Indonesia, dan selalu terasa langsung adalah bencana alam. Akhir-akhir ini adalah saatnya kita melihat dan sebagian mengalami “ganas”-nya bencana alam. Gunung Sinabung di Sumatera Utara menggugah ribuan penduduk, memaksa menjadi pengungsi. Curah hujan yang tinggi menyebabkan longsor, banjir, dan kerusakan hasil budaya manusia. Tak terhindar korban jiwa.

Beberapa rekan saya berkata: ini sudah kehendak yang maha kuasa. Bencana adalah kemarahan Nya atas ulah manusia yang negatif dalam kehidupan. Segeralah kita minta ampun pada Nya.

Selesai… dan kembali hening…

Simpulan yang menenangkan, karena cukup ditebus dengan “meminta ampun” dan selesailah perkara. Apa susahnya..?

Mmmm…, setelah sedikit merenung, ingat-ingat kembali, kayanya ada yang terlupa. Ya, ada yang terlupa dibenak saya.

Saat pertama Ia memberikan kata-katanya adalah perintah untuk membaca. Bacalah. Artinya saya harus membaca, membaca, dan membaca.

Kenapa gunung meletus, apa yang mengakibatkannya, apa yang akan diakibatkan, dan bagaimana mengurangi dampaknya terhadap kehidupan. Itu harus dibaca, dibaca, dan dibaca.

Kenapa air meluap, keluar dengan leluasa dari wadahnya. Membanjiri semua yang ada. Bagaimana bisa terjadi, bagaimana mengatasi, dan bagaimana memitigasi. Itu harus dibaca, dibaca, dan dibaca.

Semua peristiwa alam ada “bacaan”-nya. Ia telah menciptakan perpustakaan komplit yang harus saya baca. Beragamnya ilmu yang tersedia di perpustakaan ini bukan hanya untuk “saya” tetapi “kita”. Masing-masing membaca kemudian memadukannya dalam aksi dan usaha bersama. Bukanlah dalam “padhu” dan “memaki” bersama.

: )

*/ dari status Facebook Catetan Jumat 17 Januari 2014

Sumber gambar: Olaus Magnus