Tags

, ,


Saat musim seminar dan peresmian besar maka banyaklah para wartawan datang. Yang mengasyikkan jika melihat wartawan “bodrek” (karena datang berombongan ala pasukan bodrek diiklan TV) atau ada juga yang menyebutnya dengan wartawan “muntaber” alias “muncul tanpa berita”. Wartawan jenis bodrek atau muntaber ini punya kelengkapan meyakinkan dengan tanda “pers” dan dilengkapi kartu nama dengan alamat yang mentereng. Tidak jarang diberi keterangan “wartawan istana” atau “wartawan sekneg” dsb. Sasaran utama mereka adalah panitia yang bermurah hati memberikan amplop karena “takut” diberitakan negatif oleh pasukan ini.

Saat musim perebutan kekuasaan, hal serupa muncul. Eh mungkin nggak “serupa” tapi kepalsuannya sama. Sejak setahun terakhir semakin sering menemukan koran daring muncul dengan berita-berita heboh. Nama domainnya biasanya pakai dot-com dan mempunyai standar tampilan sebagaimana surat kabar daring lainnya. Kemasan yang bagus ini membuat pembaca terbuai. Apalagi dengan foto yang entah didapat dari mana dan analisis serangan pada pihak target dengan bahasa yang aduhai.

Kemunculan yang bagaikan pasukan bodrek, berduyun-duyun disegala lini.

Koran daring ini juga mempunyai pasar yang bagus. Ada yang menjual di pasar “agama” dan ada juga di pasar “politik”. Kedua pasar ini kemudian bergabung sesuai dengan tuntutan pembaca, eh, pembina koran tersebut.

Saya pernah terpancing untuk membaca dan, sayang sekali, isinya sudah pernah saya dapatkan dari sumber lain yang anonim dikanal media sosial lain. Sumber anonim, sekali lagi sumber berita adalah anonim alias entah darimana, dan penuh dengan asumsi. Secara “reflek” saya menghindar dan menjauh dari koran daring itu.

Dengan penyajian bahasa politik-agama dan agama-politik yang sangat menarik siapa sih yang nggak tertarik. Tetapi kalau kita (mengaku) cerdas maka dengan sedikit googling (mencari via google) akan diketahui berita-berita heboh tersebut hanya bersumber dari sumber anonim. Apa yang bisa dipercaya dari sumber anonim..?

Saya menyesalkan koran-koran daring model ini begitu gampang menyebar berita2nya di media sosial. Yang menyebarkan siapa..? Ya pengguna media sosial yang juga (mungkin) mencari popularitas dari statusnya. Taut yang diberikan ditambahi dengan kata-kata: “eh bener gak nih…!”. Atau dengan menyebut nama tuhannya agar lebih impresif..! Duh… Disadari atau tidak penyebarluasan taut itu berarti menyebarkan info yang sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Yang “asik”-nya lagi para komentator langsung menyerbu dengan hanya berdasarkan judul saja tanpa perlu membaca berita ditaut.

Kata-kata: “jangan menghakimi isi buku hanya dengan melihat sampulnya” terlupakan… bablasss anginee…

Ada yang mengatakan pada saya: biarlah rakyat yang menilai, rakyat sudah cerdas melihat dan menganalisis isu…

Ooo… iya ya… sudah cerdas… (sambil celingak celinguk liat kanan-kiri…)

Jika yang melek internet dan berpendidikan masih hobi mengumbar taut berita nggak jelas, lalu rakyat mana lagi yang disebut cerdas ya…?

*/ Selamat hari Sabtu… : )