Tags

, , ,


...

Tahukah kamu kekuatan sedekah..? Rasanya ini pertanyaan klise dan jika ada yang bertanya maka dalam pikiran saya adalah: paling juga yang ngomong mau minta sumbangan. Tapi prasangka saya mengenai sedekah berubah sejak bertemu dan ngobrol dengan seorang rekan dalam perjalanan.

Kisah berikut ini adalah fiksi karena diceritakan oleh orang lain pada saya kemudian saya kacaukan dengan opini ataupun penjelasan dalam kalimat yang sangat mungkin tidak pas.

Sebut saja ia namanya… bukan, bukan Fulan, itu terlalu mainstream. Okelah sebut saja namanya Fauzan.

Saya bertemu dalam satu perjalanan di kampus. Kami berkenalan dan ngobrol disiang nan sejuk sembari memakan bekal kami di taman kampus. Tiba-tiba Fauzan berkata pada saya: Tahukah kamu, yang membawa saya ke tanah “Paman Sam” ini adalah karena kekuatan dari sedekah..?

Pertama yang muncul dalam pikiran saya adalah: wah mulai nih, gaya para ustaz seleb, ngomongnya lebay melayang-layang deh. Saya berusaha menahan diri dan sambil meneruskan makan siang saya mendengarkan celoteh lanjutannya.

Fauzan memulai cerita pengalamannya saat di tanah air. Ia adalah pegawai negeri sipil golongan III dengan gaji bulanan yang besarnya separuh dari kebutuhan normal keluarganya. Untuk menghidupi keluarga ia harus berakrobat dengan melakukan “pengasongan”. Istilah mengasong ini maksudnya adalah mroyek kecil-kecilan (walau kadang besar juga) sesuai keahlian diri diluar kegiatan kantor.

Dengan tingkat hidup yang sangat biasa itu, Fauzan tidak mampu untuk memiliki rumah walau sudah mengabdi sebagai PNS sekian belas tahun (tepatnya saya lupa). Anak-anaknya yang semakin besar di sekolah menengah memerlukan biaya yang tinggi untuk mendapatkan kesempatan menimba ilmu ditahapan yang katanya “pendidikan gratis” itu.

Cerita singkat kehidupan Fauzan ini tidaklah mengherankan saya yang merasakan hal serupa. Sama-sama PNS booo…🙂

Kondisi ini kemudian membuat Fauzan tidak lagi bermimpi untuk melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi, walau ia punya modal bagus dimana strata master telah ia dapatkan dari luar negeri juga.

Satu saat ia mendengar ceramah dari ustaz kondang via radio saat ia mampir buang air kecil di SPBU dalam perjalanan pulang tugas kantor dari Sumedang mengarah ke Jakarta. Walau selintas, Fauzan rupanya terkesan dengan kata-kata ustaz tersebut yang menyebutkan, kira-kira: bersedekahlah sejumlah A maka Allah akan membalas berlipat-lipat dari A.

Ia tidak tertarik dengan kata “berlipat” yang disebutkan sang ustaz, tapi anjuran sedekah itulah yang terngiang dalam benaknya. Ia ingin sekali bisa bersedekah, dalam artian materi, dengan cara “ekstrim” artinya tanpa perlu memikirkan akibat dari sedekahnya. Ia katakan ekstrim karena selama ini kalau ada uang lebih, saat ia sedekahkan, ia selalu ingat bahwa uang sejumlah sekian telah ia berikan pada si anu dalam rangka sedekah. Fauzan ingin sekali waktu melakukannya tanpa perlu mengingat ataupun diingat oleh pihak lain. Berikan dengan tangan kanan mu tanpa tangan kiri melihatnya.

Saya sebagai pendengar setia mulai tertarik. Udara sejuk saat summer di Michigan ini membuat asik orang ngobrol…

Fauzan melanjutkan. Satu ketika ia bertugas ke pelosok Indonesia. Perjalanan survey dengan jarak yang jauh dan berdurasi lama tentunya mengasyikkan, terutama jika dihitung jumlah rupiah yang bisa didapat sebagai sisa biaya perjalanan. Ia menghitung mungkin sekitar dua juta rupiah bisa dibawa pulang, lumayan untuk menambal lubang hutang keluarga bulan lalu.

Perjalanan lancar dan sampailah di lokasi survey. Pada hari kesekian, pas hari Jumat, ia mampir ke sebuah masjid. Masjid ini bangunan tua dan cukup menariknya antara lain adalah inilah pusat dari kegiatan umat Islam pada kota kecil yang sebagian besar penduduknya adalah muslim tetapi di daerah yang nonmuslim.

Jumat itu ia sempatkan hadir dalam masjid dan megikuti prosesi sebagaimana biasa. Selesai sholat, hujan turun dengan lebatnya. Banyak peserta sholat Jumat tertahan di dalam masjid. Fauzan segera melihat ada kesibukan lain di salah satu sudut di dalam masjid tersebut. Beberapa orang tua dan muda, sepertinya mereka adalah pengurus masjid, sedang menghitung uang kencleng dari kotak yang diedarkan sebelum sholat tadi. Lembaran warna-warni dan juga beberapa keping koin dikumpulkan dan dihitung bersama.

Fauzan tercenung, ia merasakan sesuatu yang sesuatu sekali. Ditengah suara hujan lebat di luar masjid dan keramaian orang yang masih tertahan di dalam masjid, ia merasa sesuatu… (halah… sesuatu lagi…)

Tiba-tiba ia merasa ingin sekali berbuat “ekstrim” seperti yang pernah ia canangkan sekian tahun lalu, saat mendengar ceramah ustaz via radio di SPBU itu.

Ia mendekat ke para pengurus masjid yang sedang menghitung uang kencleng tadi. Setelah menyapa dengan ucapan Assalamualaikum, Fauzan bertanya: apakah saya masih boleh menambahkan sedikit..? Salah satu tetua yang duduk paling dekat dengannya menjawab: Silakan mas, seikhlasnya. Ini semua untuk pembangunan dan perawatan masjid serta untuk sekolah membaca Al Quran anak-anak disini.

Fauzan mengeluarkan dompet, tanpa melihat isinya, ia keluarkan semua isinya dan dilipat. Benar-benar hanya dengan satu tangan dan tanpa dilihat matanya sama sekali. Semua lembaran merah yang ada didompetnya digenggam dalam satu tangan dan diletakkan langsung pada tumpukan uang yang sedang dihitung. Tanpa ba-bi-bu lagi Fauzan mengucapkan salam kemudian segera keluar dari masjid.

Derasnya hujan ia lupakan, terus berjalan dan masuk mobil yang ia gunakan survey dalam kondisi kuyup. Ia meminta supir untuk segera meninggalkan lokasi. Dan karena ia masih dalam perjalanan tugas maka ia harus mampir ke ATM terdekat untuk mengambil dana agar pekerjaan dapat dilanjutkan, karen dompetnya sudah kosong. Ia tidak mau memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Dalam perjalanan tugasnya kemudian, Fauzan dapat menyelesaikan semua tugas dengan baik, dan anggaran survey dapat dipenuhi peruntukannya dengan benar. Ia baru sadar bahwa tidak ada lagi tersisa rupiah yang bisa dibawa pulang. Mmm tak apalah, katanya dalam hati. Besok ngasong lagi, insya Allah bisa mendapatkan materi.

Tiba-tiba Fauzan bertanya pada saya: apa yang kemudian terjadi beberapa waktu kemudian pada saya dan keluarga, kamu tahu..?

Ya enggak lah, saya kan bukan paranormal, kata saya becanda😀

Fauzan melanjutkan: setelah saya disini, di Amerika ini, melanjutkan program sekolah saya, semua itu baru saya sadari. Dua tahun setelah kejadian itu baru semua saya sadari..!, katanya.

Maksudloh… (kata saya dalam hati…)😀

Ia merasakan ada hal yang luar biasa ia alami, keluarganya dapatkan, yang diluar perhitungan orang normal seperti dia. Setidaknya, yang Fauzan kemudian sadari adalah: dalam dua tahun setelah kejadian di pelosok Indonesia itu, semua hil yang mustahal terjadi.

Pertama, ia ditawari sekolah oleh Profesor di Amerika yang belum lama ia kenal. Entah melalui siapa si Profesor mengetahui latarbelakang Fauzan dan tertarik untuk merekrutnya dalam kegiatan penelitian di Amerika dengan imbalan beasiswa. Kedua, pada saat bersamaan, ia (dan keluarga) berkesempatan membangun dan memiliki sebuah rumah mungil ukuran standar tipe 45 (dua kamar tanpa dapur) dengan cicilan KPR BTN terjangkau.

Semua pengurusan surat-menyurat pendukung kepergian ke Amerika sangat dimudahkan, baik surat dari kantornya, dari sekolah saat ia mengambil master di luar negeri, dan surat-surat keimigrasian, baik dari imigrasi Indonesia maupun dari imigrasi Amerika.

Tidak ada uang sogokan pada pihak siapapun dalam pengurusan surat-surat ini. Semua sesuai prosedur. Yang “kata orang” bakal sangat sulit didapat… eh… ini mudah sekali mendapatkannya.

Fauzan berangkat ke Amerika dengan keluarga dan… semua berjalan dengan mulus juga.

Semua ini ia sadari setelah lama merenung dan mengalkulasi: kenapa ia bisa ada di Amerika saat ini. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika dihitung detil semua yang ada.

Ia kemudian menggarisbawahi bahwa ia yakin ini semua adalah akibat dari sedekah “ekstrim”. Sesuatu yang ia lakukan spontan tetapi dalam kesadaran penuh bahwa yang ia berikan insya Allah tidaklah sia-sia bagi sesama. Sedekah dengan rasa ikhlas yang total tanpa perlu pikir perkalian dari sejumlah tertentu yang telah diberikan.

Allah akan memberikan yang kita perlukan, bukanlah selalu yang kita inginkan.

Maksi kami selesai, ia segera pamit, dan entah kapan lagi kami bertemu ditengah kesibukan masing-masing di kampus ini.

Fauzan membuat saya berpikir untuk berbuat “ekstrim” serupa, entah kapan… Berani gak ya…?🙂

*/ : )