Tags

, , , ,


...

Hari itu, Selasa, 28 Desember 2004, sekitar jam 11:30 WIB saya menerima telepon dari sahabat saya di Sabang, Aceh. Sebentar… telepon dari Sabang…?! Semua orang tahu bahwa pada tanggal 26 Desember pagi daratan Aceh dan juga pulau Sabang dilanda tsunami akibat gempa berskala besar. Lalu siapa yang menelepon saya..?

Sejak hari Minggu (26/12) saya tidak mendapat kabar apapun dari Banda Aceh dan Sabang. Banyak sekali sahabat saya yang tinggal di kedua kota itu. Tsunami terjadi, semua hubungan telepon putus, dan televisi hanya menyiarkan kejadian di beberapa kota di Aceh Utara dan Timur, bukanlah berita di Banda Aceh apalagi Sabang yang terletak di pulau Weh, sekitar 20 km dari pantai Banda Aceh.

Harapan saya pada kondisi sahabat-sahabat di Sabang hampir punah. Saya tahu pasti, beberapa orang mempunyai rumah di pinggir pantai. Apa yang bisa diharapkan dari jarak sekitar 50 meter dari pantai jika tsunami menghantam.

Saya dan keluarga baru saja mengunjungi Sabang pada awal Desember 2004. Masih teringat jelas semua pantai indah yang kami kunjungi, dan tentunya kekeluargaan yang hangat dari sahabat-sahabat kami penduduk Sabang. Berita tsunami yang didengar anak-anak kami, saat itu si kakak berumur enam tahun dan adiknya dua tahun setengah, menimbulkan banyak pertanyaan dari mereka tentang kondisi Sabang yang tidak bisa saya jawab. Kami semua sedih.

Dalam benak saya, Sabang mungkin saja telah hilang tersapu tsunami.😥

Selasa siang itu saya menerima telepon dari 0652, ini kode telepon Sabang. Suara diseberang sana sangat saya kenal. Ini adalah suara bang Azwar. Seringnya bertemu sepanjang tahun 2004, terutama saat saya survey di pulau Weh beberapa kali yang mendampingi ya si abang ini, pastilah saya tidak akan lupa suaranya.

“Bang, alhamdulillah, kami semua selamat di Sabang. Aku mau minta tolong abang di Jakarta, untuk coba kontak saudara saya di Banda Aceh. Kami tak bisa kontak dari Sabang sejak hari Minggu”. Demikianlah kira-kira suara diseberang sana.

Tanpa banyak tanya ini itu, saya sanggupi untuk mencoba telepon ke Banda Aceh. Segera saya catat beberapa nomor dan kemudian telepon kami putus. Ia akan mencoba telepon saya kembali sekitar jam 12:00, artinya saya harus mencoba sekarang untuk kontak ke Banda Aceh.

Selesai bicara, saya baru menyadari… Siapa yang tadi bicara ditelepon..? Ya, saya yakin itu adalah suara bang Azwar..! Tetapi… bukankah… kota Sabang yang berada di pinggir pantai dan berhadapan langsung dengan kedatangan gelombang tsunami… kemungkinan besar telah habis…

Sepanjang tahun 2004 saya memetakan pulau Weh dengan cukup detil, sehingga saya tahu semua lokasi yang ada, dan tentu posisinya terhadap laut. Tsunami datang, pastilah sebagian besar kota Sabang akan hancur, terutama rumah-rumah yang dekat pantai. Dan bang Azwar rumahnya hanya 50 meter dari bibir pantai.

Siapa yang menelepon tadi..?😐

Okelah, saya coba kesampingkan semua pertanyaan ini. Saya coba menelepon beberapa nomor yang diberikan oleh “suara bang Azwar” tadi.

Negatif, Banda Aceh masih hilang dari peta komunikasi pada hari kedua setelah terhantam tsunami. Semua nomor yang saya telepon tidak bisa terhubung.

Beberapa kali saya coba dan tetap negatif. Jarum jam semakin mendekat ke angka 12. Artinya… jika benar tadi adalah suara asli bang Azwar maka telepon saya akan berdering kembali. Jika tidak maka… entahlah…

Jam 12 lewat sedikit telepon berdering. Saya angkat dengan berdebar…

Suara yang terdengar diseberang sana… sama dengan suara yang tadi menelepon saya. Alhamdulillah..!

Ternyata ini adalah suara asli bang Azwar..!

Segera kami ngobrol singkat, dan tidak lupa saya kabarkan bahwa kontak ke Banda Aceh masih negatif, dan saya tidak bisa mengetahui kondisi apa yang terjadi di Banda Aceh. Tidak lupa saya titip salam hangat dan hormat untuk sahabat-sahabat di Sabang.

Suatu kebahagiaan yang luar biasa mengetahui semua sahabat-sahabat saya di kota Sabang semua dalam kondisi selamat tidak kurang apapun. Selintas yang saya tahu dari bang Azwar adalah rumahnya utuh tak tersentuh air laut sedikitpun, tetapi ada beberapa rumah yang rusak dibagian Utara dari rumahnya.

Ternyata telepon Selasa siang itu mementahkan perkiraan saya akan kondisi kota Sabang. Terutama adalah kondisi sahabat-sahabat saya disana.

Dan telepon itu adalah telepon sungguhan..!😀

*/ : )

Pertanyaan saya kemudian adalah: Mengapa Sabang selamat dari hantaman tsunami yang dahsyat..? Keesokan harinya, Rabu 29 Desember 2004, saya mendapatkan jawabannya. Silakan baca di: Kota Sabang Diselamatkan Benteng Alam.