Tags

, , , ,


Sumber ilustrasi: gubuk-cahaya.blogspot.com

Sumber ilustrasi: gubuk-cahaya.blogspot.com

Kadang kala kita mendengar ungkapan “bagai katak hidup dalam tempurung”. Entah apa arti sesungguhnya. Mungkin saja berarti hidup dalam kondisi statis, homogen, yang dialami selalu sama selama hidup. Tiada kehidupan lain yang lebih indah, tiada yang lebih benar, tiada yang lebih asik daripada “di sini” dalam tempurung.

Ungkapan ini beberapa kali ditujukan pada saya saat saya masih “dalam tempurung” yang bernama sekolah, kampus, kantor, organisasi dan beberapa tempat lainnya. Mungkin karena saat itu saya merasa serba hebat dan selalu benar. Tidak berani melihat di luar lingkungan tempurung tersebut.

Jika saya tetap dalam tempurung, menikmati keindahan suasananya selama mungkin, maka berartikah hidup saya? Bagaimana saya mengaplikasikan keilmuan saya? Bagaimana saya ikut serta menyampaikan kedamaian yang diperintahkan oleh Nya bagi orang lain di muka dunia? Dan bagaimana saya merasakan keindahan ciptaan Nya, lalu bersyukur atas semua pemberian Nya?

Beranikah saya keluar tempurung? Tempurung yang terkadang saya ciptakan sendiri berbalut alasan klasik: suku, agama, ras, antargolongan, partai, alumni, organisasi, dan masih banyak lagi.

Jika saya masih bertahan dalam tempurung seperti itu maka semakin tebal pemisah antara mata dan hati dalam mensyukuri nikmat Nya.

*/ tulisan ini bukan surat terbuka : )