Tags

, , ,


Masjid di Distrik Arso

Masjid di Distrik Arso

Semua berita tentang Papua akan selalu mengingatkan saya tentang saat berkunjung ke sana. Tahun 2007, pada bulan Agustus, saya dua kali menclok di tanah matahari terbit Indonesia. Semalaman perjalanan dari Jakarta, pagi turun di Sentani dan langsung ke Jayapura.

Banyak momen asik yang selalu saya ingat dengan jelas. Diawali dengan ini.

Percaya diri akan kemampuan “Jangkauan Luas” dari provider ponsel saya, maka saya tidak mengantisipasi apapun terkait hal ini. Turun di bandara Sentani, keluar bandara, sinyal ponsel nggak ada. Saya pikir, oh mungkin nanti juga ada, setelah dekat Jayapura. Saat mendekati Jayapura masih belum ada juga, saya tanya ke supir yang jemput: mas (dia pendatang dari Jawa) kenapa sinyal ponsel saya kok nggak ada ya? Dia balik tanya: pakai apa pak? Kata saya: yang ini mas, si “jangkauan luas”. Segera dia jawab: Ooo yang itu belum masuk Papua pak, kami juga baru liat di iklan TV aja… Saya langsung timpali: Oh kalau gitu tolong berhenti kalau ada warung pulsa ya mas, saya mau beli kartu perdana dulu…😀

Danau Sentani dilihat dari pesawat saat take-off atau landing.

Danau Sentani dilihat dari pesawat saat take-off atau landing.

Kuliner di Jayapura? Satu malam saya diajak makan di daerah Dok Dua Jayapura, tepatnya di warung tenda Duta Cafe. Hidangan yang kami santap adalah masakan khas Manado yaitu Woku Belanga dengan beberapa macam level sambel. Wuah manstapnya, sampai-sampai keringat keluar dari ubun-ubun saking mendidihnya…🙂

(Sila baca: Ikan Masak Woku di Jayapura.)

Masakan ala Manado di Jayapura...!

Masakan ala Manado di Jayapura…!

Pemandangan alam di sekitar Jayapura yang berkesan adalah saat menikmati keindahan Teluk Yotefa dari ketinggian. Teluk yang luas membiru dan asik punya deh.

Teluk Yotefa

Teluk Yotefa

Sambil menikmati air kelapa muda di pinggir tebing jalan raya, birunya air dan suasana yang nyaman semakin membuat asyik. Terlihat di tengah teluk ada perkampungan diatas air.

Menikmati air kelapa muda sambil menikmati pemandangan Teluk Yotefa.

Menikmati air kelapa muda sambil menikmati pemandangan Teluk Yotefa.

Saat ke Papua ini saya berkesempatan kenal dengan banyak rekan-rekan baru disana. Baik yang seperjalanan ataupun yang dikenal saat ngobrol di warung. Banyak pendatang di Jayapura, kebanyakan mereka berasal dari Jawa dan Sulawesi. Dan mereka lahir di bumi Papua ini. Banyak juga rekan baru saya yang berasal “asli” dari bumi Papua. Masing-masing mempunyai logat bicara yang berbeda. Satu hal yang sama adalah mereka mengakui bahwa mereka adalah orang Papua.

Bagaimana kehidupan sehari-hari di Jayapura? Dengan waktu kunjungan yang sangat singkat, tentunya saya tidak tahu detil. Walau sempat ngobrol banyak di warung ataupun pasar, saya tidak bisa menilai dengan lebih obyektif, selain bersimpulan bahwa masyarakat di Jayapura sangat membaur antara “asli” dan “pendatang” dan mereka tidak mempersoalkan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Semoga penilaian ini benar adanya.

Dari koran lokal yang saya baca pun, banyak peristiwa yang terliput, apakah itu hal yang baik atau buruk, selalu tercantum nama yang bisa diasumsikan berasal dari penduduk “asli” atau “pendatang”. Artinya adalah kehidupan di Jayapura dan sekitarnya sudah tidak dipisahkan lagi dengan SARA. Justru saat itu isu yang selalu sensitif adalah masalah OPM, yaitu hal yang lebih kental masalah politiknya daripada SARA.

Suasana perayaan Hari Kemerdekaan RI di Distrik Arso.

Suasana perayaan Hari Kemerdekaan RI di Distrik Arso.

Saat berjalan ke distrik Arso, saya sempat mampir di sebuah masjid besar disana. Arso adalah salah satu tempat transmigrasi jaman pemerintahan Orde Baru. Kehidupan masyarakatnya terlihat asik. Karena hari itu adalah tanggal 18 Agustus, masyarakat sedang menikmati perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Walaupun Arso adalah wilayah transmigrasi tapi tampak banyak sekali warga nontransmigrasi yang hadir dan bergembira bersama. Kondisi hampir serupa saya temui di distrik Waris sehari sebelumnya. Distrik Waris adalah distrik perbatasan dengan negara Papua Nugini, dan saat itu terkenal sebagai salah satu basis politik OPM.

(Baca: Ke Pekarangan Tetangga)

Di zona perbatasan Indonesia - Papua Nugini.

Di zona perbatasan Indonesia – Papua Nugini, distrik Skouw.

Selama di papua maka salah satu agenda yang tidak terlewat adalah mancing. Ini karena rekan-rekan tim saya memang para penggila mancing. Ya sudah, saya ikut aja deh jadi orang gila😀.

Dari belakang daerah Stadion Mandala, kami sewa kapal nelayan, dan meluncurlah ke tengah Teluk Yos Sudarso (atau Teluk Humbold). Sayang sekali waktu yang nggak pas dengan kehadiran ikan-ikan disana, jadi kami hanya dapat seadanya plus pemandangan gerombolan ikan yang tidak jauh dari perahu. Asik asik asik.

Tapi, dari keasyikan bermain di tengah teluk ini, kami jadi lupa untuk menyaksikan pertandingan Persipura di stadion Mandala sore itu. Sayang sekali…😀

Mancing di Teluk Yos Sudarso.

Mancing di Teluk Yos Sudarso.

Dua kali ke Papua dan mengenal rekan-rekan “grass root“, rasanya asik banget. Mereka sama dengan rekan-rekan yang saya temui di banyak Provinsi di bagian lain Indonesia. Mereka sama dengan teman-teman di Aceh, Kalimantan Timur, Lombok, Maluku Tenggara Barat, atau Banyuwangi misalnya. Sama-sama merasakan kesulitan hidup, iya. Sama-sama merasakan kebahagiaan hidup, juga iya. Sama-sama merasakan konflik horisontal, pasti adaaa… Tetapi yang pasti juga sama-sama membenci kehancuran ataupun perpecahan diantara mereka. Kehidupan yang asik-asik aja dan standar dimana-mana.

Kesamaan pendapat dari rekan-rekan saya disana adalah saat mengomentari para pemimpin wilayahnya, ataupun para priyayi yang lebih suka memikirkan diri sendiri. Kekurangpuasan akan kebijakan atau perbuatan mereka, para pimpinan, adalah keluhan yang sering muncul. Tetapi selebihnya ya mereka menerima kehidupan bersama apa adanya, tanpa banyak pusing mengenai perbedaan SARA yang ada diantara mereka. Toh mereka semua sudah mengaku berasal dari Papua yang sama.

Perjalanan dari distrik Keerom ke Waris.

Perjalanan dari distrik Keerom ke Waris.

Disitu saya merasa nyaman berteman, dan ingin sekali berjumpa dengan mereka lagi, satu saat nanti. Dalam suasana lebaran, mungkin? Kenapa tidak? Toh, lebaran bukan hal yang penting untuk diutak-atik dan dibuat santapan konflik masyarakat? Lebaran adalah salah satu momen persatuan.🙂

*/ : )