Tags


Pojok Samber

Pojok Samber

Jurnalisme warga adalah tren yang menyertai era keterbukaan informasi. Semua orang dapat menyampaikan apa yang dilihat, didengar, bahkan menyuarakan opininya sendiri pada dunia melalui media daring. Pojok Samber, tampaknya, memanfaatkan ini untuk mengolah idealisme yang tumbuh di para pendirinya sekaligus menggalang publik lokal untuk menyemarakkannya.

Saya belum pernah menguliti isi dari situs Pojok Samber, saya hanya akan menuliskan bagaimana pertemuan saya dengan media jurnalisme warga ini.

(Baca: Menjelajah Nusantara dengan Tulisan)

Dua tahun lalu, 2014, saya mulai mencanangkan pada diri sendiri untuk menulis pada situs warga berskala atau berorientasi lokal. Mengapa mencari yang lokal..? Karena disinilah informasi sebenarnya diperlukan. Sebagai contoh, warga di kota Metro (Lampung) tidak memerlukan informasi biasa-biasa saja yang terjadi di Tangerang (Banten). Atau warga di kota Sabang (Aceh) tidaklah tertarik dengan berita keseharian yang terjadi di kota Tomohon (Sulawesi Utara). Mereka pastilah mencari berita-berita seputaran kota atau tempat tinggalnya sendiri.

Lalu apa yang bisa saya tulis untuk informasi lokal sedangkan saya tidak tinggal di tempat tersebut? Saya justru tidak ingin mencampuri urusan lokal, tetapi memperkaya dengan tulisan lain yang sekiranya berguna untuk rekan-rekan pembaca di “lokalan”. Dan akhirnya saya bertemu dengan Pojok Samber, setelah googling untuk daerah dimana saya pernah hidup dimasa kecil, Metro Lampung.

Untuk usaha saya keliling Nusantara melalui tulisan, tidak hanya Pojok Samber yang berhasil saya datangi, tetapi ada dua lagi yaitu Lintas Gayo (media daring di Aceh) dan Kulkul Bali (media daring di Bali).

(Baca: Jelajah Nusantara dengan Cerita)

Seperti yang pernah saya tulis, maka keinginan saya untuk mengunjungi media daring lokal adalah:

  • Menyumbangkan tulisan dengan isi “rasa baru” (karena bukan orang lokal), hal ini akan menambah warna dari komunitas jurnalisme warga tersebut.
  • Memberikan semangat pada penyedia fasilitas dan pembentuk komunitas untuk membesarkan komunitas tersebut. Hal ini bisa terbentuk lambat laun, karena frekuensi pendatang pada situs tersebut akan semakin tinggi jika banyak hal baru dan berguna.
  • Banyaknya kunjungan disitus tersebut akan memancing semangat penulis-penulis lokal untuk memulai tulisan-tulisan mereka. Untuk hal ini memang bukanlah efek domino, tetapi saya meyakini hal tersebut akan terjadi.

Kembali ke Pojok Samber, saya beberapa kali (dengan frekuensi yang sangat kecil) berhasil mengirimkan tulisan dan dimuat di Pojok Samber. Selain itu, mas Oki Hajiansyah Wahab, salah satu pengelola, juga beberapa kali menuliskan kembali tulisan dari blog saya pada Pojok Samber, terutama dari blog Coming to America. Terimakasih mas Oki…🙂

Tanggal 28 Oktober 2016, Pojok Samber berulang tahun ke-2. Usia yang masih muda dan telah berhasil menggalang banyak pihak untuk menulis pada portal warga Metro. Tentunya ini suatu pencapaian yang sangat bagus. Warga Metro dan sekitarnya akan terus tertantang untuk berbagi informasi melalui alternatif media daring yang lebih pas untuk semua orang, dan berita-beritanya tentunya lebih mengena.

Selamat untuk Pojok Samber, tetaplah berdiri dan berkembang walau tantangan semakin berat kedepan. Jagalah independensi dalam mengawal dan menyampaikan informasi.

Salam dari balik bumi…😀


Terkait: tulisan saya yang ada di Pojok Samber: