Tags

, ,


Bersama orang kampung yang nggak kampungan.

Saya beruntung bertemu dengan Pak Rahmad, pensiunan nelayan, di pantai kota Krui, Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Dan satu lagi adalah pak Zul, seorang petani nanas dan mantan nelayan di Sungai Apit, Siak, Provinsi Riau.

Pak Rahmad bercerita tentang perjalanan hidupnya menjadi nelayan. Yang mengesankan saya bukan suka-dukanya menjadi nelayan (yang tak beda jauh dengan suka-duka jadi PNS, ups…), tetapi kemampuan ia menerangkan tentang tsunami. Iya, tentang tsunami, mengapa terjadi dan apa akibatnya bagi nelayan. Ia banyak cerita saat tsunami dari gempa Aceh 2004, yang terasakan juga di Krui.

Ia bukan lulusan dari mana-mana, hanya seorang yang cerdas hasil pendidikan gelombang-gelombang ganas di Samudra Hindia. Ia paham hukum alam dan bagaimana mensyukurinya dalam langkah hidupnya. Pagi itu menjadi obrolan berdua yang sangat menarik di tepi pantai Krui. Bertambahlah kenalan dan ilmu kehidupan saya.

Sekitar 780 km dari Krui, saya bertemu dengan pak Zul. Saat itu air hujan sedang menghujam ladang nanas di tanah gambut yang saya kunjungi, Pak Zul menawarkan singgah di rumahnya, tak jauh dari kebun nanasnya. Pekarangan dan rumah yang rapi dan sangat sederhana, tapi jangan salah, dilengkapi dengan panel surya dan parabola, disanalah pak Zul tinggal. Ia mengolah kebun nanas untuk dijual ke pengepul yang selalu datang menjemput ke desa ini.

Kopi dan buah naga terhidang menjadi plus nikmatnya, bukan hanya karena hangat kopi dan manis buahnya, tetapi karena kehebatan tuan rumah. Pak Zul mengaku asli dari kampung itu, dan selalu melempar canda yang cerdas. Saya dan tim pun sering terkena tikaman tajam dari canda pak Zul yang membuat kami semua tergelak. Hebat, pak Zul mampu berkomunikasi dengan menarik sembari menceritakan kehidupannya yang keras. Pelajaran tambahan bagi saya dari orang kampung satu ini.

Pak Rahmad dan Pak Zul, keduanya adalah orang profesional, menguasai bidang kerjanya dan mampu berbuat banyak bagi sekitar. Mereka berdua adalah orang yang cerdas. Saya beruntung sempat bertemu dan mengenal mereka.

Mereka adalah orang kampung, “pribumi asli”, tanpa retorika kampungan…

Advertisements