Tags

, , , ,


Menyambut LRT datang 😀 

LRT atau Light Rail Transit adalah moda baru transportasi kota di Indonesia. Jakarta dan Palembang menjadi lokasi pembangunannya, dan akhir bulan November lalu saya mencoba menikmatinya di kota Palembang. 

LRT Palembang, atau saat ini disebut sebagai LRT Sumatera Selatan, mempunyai satu rute yang menghubungkan antara Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dan Jakabaring Sport City. Terdapat 13 stasiun awal-pemberhentian-akhir antara dua titik itu, yaitu: DJKA, Jakabaring, Polresta, Ampera, Cinde, Dishub, Bumi Sriwijaya, Demang, Garuda Dempo, RSUD, Punti Kayu, Asrama Haji, dan Bandara.

Rute LRT Bandara (Barat Laut Palembang) – Jakabaring (Tenggara).

Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk berlama-lama mencoba dari ujung ke ujung, maka saya mencoba naik LRT dengan jarak yang cukup singkat. Saya coba dari stasiun terdekat tempat saya inap, yaitu stasiun Bumi Sriwijaya dengan tujuan stasiun setelah menyeberangi sungai Musi, stasiun Polresta. Ya, saya ingin merasakan LRT saat menyeberangi sungai Musi bersebelahan dengan Jembatan Ampera.

Beli karcis ke loket di lantai dua seharga Rp5000 untuk tujuan yang saya inginkan, dan diberikan sepotong kertas dengan nama stasiun awal dan akhir/tujuan dan pada karcis terdapat QR Code. Untuk masuk ke area penumpang maka QR Code pada karcis dipindai, kemudian naik ke lantai teratas atau peron. 

Penumpang dibolehkan ke lantai peron jika sudah mendekati waktu kedatangan kereta. Saat saya mencoba LRT ini, waktu kedatangan rangkaian kereta tiap 30 menit. Di lantai peron terlihat beberapa petugas KA sehingga pengawalan penumpang cukup baik, karena memang banyak penumpang yang bertujuan pariwisata belum paham dengan tatacara naik LRT ini.

Petugas PKD yang sangat membantu penumpang.

Rangkaian kereta LRT ini mempunyai tiga kereta (gerbong), saya segera naik dan memang jam 10an ini penumpangnya didominasi penikmat wisata. Penumpang yang saya temui sangat berbeda dibandingkan dengan penumpang di komuter Jabodetabek atau seputaran Yogyakarta. Kemungkinan adalah budaya komuter belumlah merasuk pada masyarakat Wong Kito yang hidup di sekitar kota Palembang ini. Transportasi lain dan bersifat personal masihlah mendominasi kehidupan sehari-hari. Perlu waktu untuk penetrasi budaya menggunakan kereta dalam aktivitas sehari-hari.

Suasana wisata di LRT Palembang.

Ohya, saya sengaja ambil rute menyeberangi Sungai Musi, dimana lajur LRT bersebelahan dengan Jembatan Ampera. Karena selama ini saya hanya melihat gambar di media sosial bagaimana kereta LRT ini berjalan bersebelahan dengan tiang tinggi jembatan ikon kota Palembang dan kayanya asik 😀

Menara jembatan Ampera difoto dari LRT.

Jadi…. saat kereta melalui jembatan bersebelahan dengan Jembatan Ampera, maka saatnya saya foto-foto sana-sini dan tentunya swafoto tak tertinggal. Saya benar-benar menikmati perjalanan sesaat di LRT ini, dan pergi-pulang dengan rute yang sama. Jembatan Ampera yang mempunyai dua menara penyangga sekaligus elevator jalan (jembatan berjenis vertical-lift bridge) ini sudah saya kenal sejak kecil dan tentunya berswafoto dari dalam LRT menjadi keasyikan tersendiri… 😀

Saat saya menulis blog ini, sudah banyak perubahan yang terjadi. Mulai 1 Desember 2018 tiket sudah menggunakan Kartu Uang Elektronik (KUE) untuk semua stasiun, dan ada perubahan jadwal operasi LRT menjadi dari jam 05.00 sd jam 19.00 (Sumber: Tribun Sumsel, 3 Desember 2018

Jangan lewatkan wisata kota dengan menaiki LRT saat kamu di kota Palembang, layanannya nyaman dan tentunya punya keasyikan tersendiri dengan pandangan pemandangan kota, pasar tradisional dan modern, dan tentunya Jembatan Ampera di sungai Musi dari ketinggian.