Home

Caring – Mengubah folder Google Drive di PC

1 Comment


Google Drive

Google Drive

Sebagai pengguna Google Drive, yang dulu saya kenal dengan Google Docs,  berbagi file adalah salah satu opsi. File dan struktur penyimpanannya yang berada di “cloud” Google Drive dapat kita sinkronisasi secara otomatis dengan yang ada di komputer.

Kesulitan yang saya temukan saat menggunakan Google Drive di komputer adalah mengatur letak file. Lokasi default-nya adalah di C:\Users\[your name]\Google Drive. Saya tidak ingin file-file Google Drive tersimpan dalam folder tersebut dan ingin memindahkan ke folder lain untuk kerapihan penataan. Berbagai cara sudah saya lakukan tetai tetap nggak menemukan pengubahan set dari folder Google Drive.

Tapi, setelah saya ke klinik TongPang, file-file saya di Google Drive bisa saya alihkan ke folder lain…

Sebagai catatan pribadi, caranya demikian:

  1. Klik pada ikon Google Drive di kanan bawah task-bar Windows (biasanya terletak disini, kalau belum dimodifikasi).
  2. Pilih Preferences, dan pilih Disconnect account (jangan khawatir, file tetap aman).
  3. Klik ikon Google Drive lagi, lalu sign in, ikuti hingga screen ke-2, kemudian klik Advanced setup.
  4. Klik Change untuk mengubah nama folder dan lokasinya. File-file akan tersinkronisasi otomatis ke lokasi baru ini. File-file pada lokasi yang lama silakan dihapus.

Google Drive salah satu pilihan dalam bermain di-cloud.

Semoga berguna. : )

JungLeLand Adventure-Theme Park Nuansa Lokal Rasa Global

Leave a comment


The Adventure-Theme Park, JungLeLand.

The Adventure-Theme Park, JungLeLand.

Suasana liburan akan semakin dimanjakan dengan hadirnya ruang permainan petualangan. Saat ini di Sentul Nirwana, Bogor, hadir The Adventure-Theme Park dengan nama JungLeLand (atau baca dengan: Jungle-land).

Bagi penikmat permainan petualangan, hadirnya JungLeLand tentunya menjadi alternatif dari sekian banyak lokasi permainan petualangan di Indonesia dan negara tetangga. Beberapa hal “baru” yang dijanjikan di JungLeLand ini antara lain adalah:

  • Wahana Hihiberan, mengajak peserta melayang dan berputar diatas pesawat tempur seolah mengarungi celah-celah gunung yang sempit dan penuh dengan manuver tajam.
  • Wahana DiskO (baca: disko), yang merupakan piring raksasa berputar dan berayun hingga kemiringan 45 derajat. Siap-siap mual deh… :D
  • Wahana Petir, bagai naik bandul raksasa yang diayun di ketinggian 20 meter, dan katanya, swinger terbesar di Indonesia saat ini. Kuat diputar dan dilempar tinggi..?

Dari ketiga wahana tadi, jelas pemakaian teknologi terkini sangat diandalkan. Selain kenikmatan para peserta permainan juga keselamatan adalah yang utama.

Dari berbagai wahana yang disajikan, saya tertarik dengan penamaan wahana yang asik punya. Penamaan wahana dari ketiga wahana diatas saja sudah terdengar “aneh”. Pernah dengar hihiberan..?

Apalagi kalau melihat daftar wahana lainnya yang berjumlah lebih dari 50 macam, nama tiap wahana unik dan lokal banget. Contoh: “Muter-Muter” nama untuk komidi putar, “MobilJeger-Jeger” untuk boom-boom car, “Sepur Leutik” untuk kereta api mini, dan masih banyak lagi.

Jelas ini mengentalkan nuansa lokal untuk permainan petualangan internasional.

Kehadiran tempat permainan yang relatif baru ini masih belum didukung oleh kemudahan mencapainya. Lokasinya yang kurang lebih 8 kilometer dari Mal Bellanova Sentul City menjadi kesulitan tersendiri bagi penikmat petualangan yang ingin mencoba wahana-wahana baru ini. Semoga kedepannya segera ada kemudahan transportasi publik untuk mencapai lokasi ini.

Keterangan lengkap sila kunjungi situs web www.jungleland.co.id.

Beberapa foto dan video saat mengikuti soft opening pada 20 April 2013 dapat dilihat pada laman JungLeLand Adventure-Theme Park Sentul Nirwana Bogor.

Perpustakaan Dijital – Baca di Tempat atau Bawa Pulang

Leave a comment


ilustrasi

Perpustakaan adalah salah satu jendela dunia. Buku yang berada di dalamnya adalah ibarat obyek-obyek menarik yang kita amati untuk menambah pengetahuan dan keingintahuan kita. Dalam dunia dijital banyak tulisan dalam format buku atau format lainnya yang dapat diakses dan dinikmati dengan mudah, walau memahaminya tidaklah secepat “klik dan simpan”.

Saya menyimpan beberapa berkas tulisan lawas yang mungkin masih berguna bagi penikmatnya. Sebagian besar terkait dengan dunia kerja, yaitu Remote Sensing dan GIS. Ada juga bacaan yang ringan dan populer.

Baru beberapa saja yang berhasil diatur dalam rak perpustakaan dijital ini. Jika anda mau mampir silakan klik disini.

Boleh baca di tempat (versi daring) atau dibawa pulang (unduh).

Untuk “membaca di tempat” diperlukan koneksi internet yang baik alias antilelet.

Semoga berguna.

: )

Temuan di Geostech Serpong

5 Comments


Gedung Geostech tampak muka.

Gedung Geostech tampak muka.

Geostech adalah nama gedung di lingkungan Puspitek Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Bangunan ini disiapkan untuk beberapa laboratorium kebumian dan lingkungan, serta tempat staf perekayasa/peneliti.

Ada apa saja di Gedung Geostech ini. Saat saya berkunjung ke lokasi pada Selasa, 19 Februari 2013, ada beberapa temuan. Tentunya ini dari kacamata orang yang awam akan bangunan, dan hanya mengandalkan penglihatan pada rentang gelombang sinar tampak saja.

Temuan ini saya bagi saja menjadi dua kelompok, yaitu temuan positif dan negatif.

Yang positif dulu. Apa saja temuan positif di lokasi Geostech Serpong..?

  • Gedung yang dimulai pembangunannya pada April 2012 telah berdiri dengan gagah. Terdiri dari dua lantai dan banyak ruangan, berlokasi relatif di bagian depan komplek Puspitek Serpong.
  • Semua bagian sudah terwarnai (cat), dari bagian luar hingga dalam tiap ruang untuk gedung seluas ini.
  • Sebagian besar ruang telah terisi dengan furniture dan sebagian besar furniture telah terpasang sebagaimana mestinya.
  • AC dan lampu ruang utama (lobi) sudah terpasang.
  • Jalan di sekitar gedung sudah layak untuk dilalui.

Bagaimana dengan temuan negatifnya..?

  • Penyelesaian yang tidak rapi. Contoh terlihat jelas pada plafon, baik di ruang utama maupun ruang-ruang lain. AC di lobi masih terlaporkan “bocor”.
  • Kondisi dapur (pantry) yang mengingatkan saya pada masa lalu, dari sisi disainnya lho…
  • Furniture yang tidak memuaskan, ini jika dibandingkan furniture “kuno” di kantor Thamrin Jakarta. Baik dari sisi disain maupun kekuatannya.
  • Soket listrik yang terasa minim untuk beberapa ruang yang tergolong besar.
  • Belum terlihat adanya “laboratorium” dalam Geostech seperti yang diimpikan beberapa tahun terakhir ini.
  • Jalan akses dari Gedung Geostech ke jalan utama komplek Puspitek belum jadi.

Ah… hal negatif tadi termasuk yang perlu diperhatikan apa nggak ya… ehm…

Terlepas dari itu, saya melihat hal lain sebagai berikut.

Teknologi wireless

Pada ruang laboratorium (baca: peruntukan untuk laboratorium) dan ruang bersama (staf) tidak terlihat jalur untuk jejaring kabel komunikasi data. Di ruang-ruang laboratorium, untuk keperluan mesin (server, misalnya), biasanya sudah ada jalur untuk kabel. Pada pembangunan ruang lab/server masa kini biasanya sudah tersedia jalur ini, apakah itu di bawah lantai, ataupun pada lantai. Ataupun pembangunan “rise floor” untuk kondisi yang lebih baik. Tampaknya laboratorium yang telah jadi ini tidak mengakomodasi hal seperti ini.

Untuk ruang staf juga tidak terlihat jalur untuk kabel jaringan. Di ruang ini direncanakan dimana staf perekayasa/peneliti dapat menggunakan komputer laptop (milik pribadinya) untuk bekerja dengan “langsung colok”. Atau memang belum ada..?

Saya beranggapan mungkin inilah teknologi yang akan diterapkan, yaitu meminimalkan penggunaan kabel jaringan, teknologi wireless.

This slideshow requires JavaScript.

Akses jalan utama

Bagaimana dengan akses ke Gedung ini dari jalan utama dalam komplek Puspitek..? Sampai dengan saat saya datang, jalan sedang dibangun. Dari jalan utama di Puspitek ke gedung ini jalan berjarak sekitar 600 meter. Dan bagian jalan yang dibangun baru, melintasi lembah dan sungai, sekitar 300 meter (dihitung secara kasar dari Google Earth). Kondisi adalah sebagai mana gambar dibawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

Gedung pintar

Saya berharap Gedung Geostech baru ini bisa juga menjadi “Gedung Pintar” melebih “kepintaran” Gedung BPPT 2 di Jalan MH Thamrin no.8 Jakarta. Gedung BPPT 2, yang mulai digunakan tahun 1993, sempat dengar pernah berpredikat sebagai salah satu Gedung Pintar di Jakarta.

Logikanya ‘kan kalau produk tahun 1993 saja bisa menghasilkan Gedung Pintar, untuk produk bangunan di tahun 2012-2013 akan jauh lebih pintar lagi. Sekalipun lokasi bangunan “hanya” di wilayah Kota Tangerang Selatan, bukan di Ibukota Indonesia.

Rencana boyongan

Kepindahan sebagian besar staf perekayasa/peneliti BPPT ke Gedung Geostech, khususnya dari Kedeputian TPSA, tinggal menunggu hari. Kapan terjadinya..? Entahlah. Tidak pernah ada waktu yang pasti, karena mungkin “waktu” yang digunakan adalah “waktu relatif”. Katanya dalam bulan Maret 2013.

Melihat kondisi “calon kantor saya” di Gedung Geostech ini, maka tentunya saya harus bersiap banyak dari sisi fisik (siap-siap jalan kaki yang jauh karena bis kantor sangat mungkin saat ini susah mendekati Gedung), dan dari sisi mental (menghadapi ketidaksiapan sarana dan prasarana penunjang pekerjaan rutin).

Atau mungkin saya cukup berpikiran:

Don’t think too much. You will create a problem that wasn’t even there (@ThelIluminati).

Saya berharap akan ada banyak temuan lagi di Gedung Geostech ini. Jika ada temuan tentang hal yang positif dan hebat (insya Allah banyak) maka mari disyukuri dengan memanfaatkannya sebaik mungkin. Dan jika ada temuan kondisi yang tidak sehat maka sebaiknya digunakan jalur dan prosedur hukum yang telah ada.

Pembangunan gedung pemerintah ini adalah dana dari rakyat yang harus dipertanggungjawabkan oleh semua pemangku kepentingan, tentunya termasuk diantaranya adalah pengguna, perencana, dan pelaksana pembangunan.

Harapan saya ini untuk kebaikan BPPT.

I love my corps, at least, up to now

: )

Lokasi Gedung Geostech di komplek Puspitek Serpong:

Keterangan: A: Gedung DRN, P: Jalur utama komplek Puspitek, G: Gedung Geostech.

Bunga Melati Putih

1 Comment


Blog Bunga Melati Putih

Beropini dan berkisah fiksi adalah suatu yang tidak terdapat dalam blog ini. Hal ini memang disengaja sebagai batasan dari ragam penulisan yang bisa beredar melalui “Catetan kecil httsan”.

Tetapi kemudian saat mana jemari gatal untuk mengetikkan cerita hayalan dan opini, dengan tetap menjaga kebersihan Catetan kecil httsan, maka dibangunlah kanal baru yang bernama: Bunga Melati Putih.

Seperti disebutkan diatas, kanal Bunga Melati Putih (BMP), berisi tulisan fiksi dan opini akan banyak hal (rencananya demikian).

Banyak “the untold stories” yang bisa diceritakan dengan memberikan pelesetan atau perumpamaan bebas dalam BMP. Hal ini dilakukan untuk menghindari penumpukan pikiran nakal yang tak tersalurkan. Akumulasi pikiran ini, ada baiknya, kemudian dialirkan dalam bentuk tulisan asal-asalan dalam BMP.

Bagi yang ingin merasakan, silakan kunjungi Bunga Melati Putih dimulai dari… sekarang..!

: )

Kanal yang perlu dikunjungi juga:

Kepergian Orang yang Tidak Saya Kenal

Leave a comment


Pergi adalah menginggalkan suatu lokasi, sedangkan kepergian biasanya bisa berarti banyak. Kata kepergian lebih sering dibaca atau diungkapkan untuk hal yang lebih terhormat, setidaknya itu yang saya lakukan selama ini.

Awal bulan Februari tahun ini, 2013, saya merasakan kembali suatu kepergian. Kali ini adalah kepergian dari rekan, sahabat, sekaligus orang tua… yang tidak saya kenal.

Ia adalah orang yang tidak saya kenal, bagaimana bisa saya merasakan duka yang mendalam saat mendapat berita beliau telah pergi, untuk selama-lamanya..?

Saya mengetahui beliau pertama kali adalah pada 24 Agustus 2008 dalam satu pertemuan antarblogger yang sebagian besar hadirin tidak saling mengenal. Ya, karena pertemuan pertama dari orang-orang yang biasa hidup daring adalah memang demikian. Saat itu adalah pembentukan komunitas Blogger Bogor. Beliau tidak bisa mengikuti pertemuan hingga akhir, tetapi disanalah saya mulai tahu beliau.

Perjalanan hari kemudian semakin membuktikan bahwa saya tidak mengenal beliau, seperti misalnya: begitu banyak karya tulis populer yang beliau hasilkan melalui media blog yang bernama “Rona Wajah“. Saya yang mencoba mengikuti dan ikut berdiskusi pada beberapa tulisan beliau akhirnya menyerah, karena memang tidak mampu lagi menampung ide dan pemikiran sederhana yang selalu ditumpahkan pada artikel-artikelnya.

Sempat terbersit pemikiran bahwa beliau ini memang nggak punya kerjaan lain selain menulis dan menulis, tetapi pemikiran tersebut punah sejalan dengan waktu. Beliau banyak berjuta pekerjaan lain tetapi memang mempunyai hobi menulis yang luar biasa. Ia menggilai berbagi melalui segala media.

Beberapa kali saya bertemu beliau dalam acara ramah tamah luring (kopi darat) di rumah atau di kebun dan kolam pancing beliau. Gaya ramah dan rendah hati selalu ditampilkan dengan senyum dan celetukan cerdas. Ia tak kalah dengan kami, rombongan sirkus blogger, yang datang dalam pertemuan luring tersebut, canda dan tawa selalu hadir. Tiada jarak yang terlihat antara orang yang telah mencapai tingkat dan penghormatan pendidikan tertinggi (Profesor) dengan saya yang masih seperseratus air di gelas pendidikan pun belum terteguk.

Ia senang diajak berdiskusi serius “tingkat tinggi” dan tetap nyambung saat diajak bercanda ala abege. Hal ini semakin membuat saya tidak mengenal “sosok seperti apakah beliau” ini.

Dalam jejaring sosial, beliau sangat aktif dengan Facebook. Status beliau di Facebook tentang masalah aktual sering saya ikuti dengan ikut memberi komentar atau sekedar memberikan persetujuan dengan jempol. Dan seperti saat mengikuti Rona Wajah, akhirnya saya tidak sanggup lagi mengikuti status beliau, yang selalu mengalir dengan deras dan kencangnya.

Tidak semua pendapat beliau saya setujui, beberapa saya sangkal dan hebatnya beliau selalu membuka diri dengan apapun komentar yang mampir dalam statusnya.

Dalam media sosial Twitter beliau juga mempunyai akun, @SMPrawira, dan memang belum terlalu aktif di jalur ini. Saya ingat saat beliau mengutarakan keingnan bermain di jalur 140 karakter ini, sempat meminta pandangan dan keterangan saya mengenai perbedaan dengan media sosial lainnya (Facebook, atau blog). Saat beliau memulai kiprahnya di twitter, sekitar April 2012, terlihat ketidaknyamanan yang sama dengan semua orang yang terbiasa menulis panjang terpaksa hanya 140 karakter saja. Beberapa kali beliau memerhatikan tweet saya dan kemudian mendiskusikan saat pertemuan luring, dan tampaknya memang beliau belum bisa menyesuaikan kepadatan kata dalam berkicau di twitter.

Pak Sjafri, demikian nama yang biasa saya gunakan dalam menyapa beliau, akhirnya menjadi sosok yang benar-benar tidak sempat saya kenal, ketika pada hari itu, Rabu, 6 Februari 2013, hampir semua kanal daring yang saya ikuti memberitakan kepergian beliau.

Kehilangan yang sangat untuk sosok yang tidak saya kenal.

Selamat jalan pak Sjafri Mangkuprawira. Berjuta doa dari setiap kata bermakna yang telah anda bagi pada kami akan terus mengalun dan bergetar mengiringi mu ke tempat terindah yang dijanjikan Nya.

Kursi Nomor 31

Leave a comment


Kursi menjadi begitu penting saat kita ingin duduk. Normalnya memang demikian. Kecuali saat mana kita tahu bahwa di lokasi tersebut tidak mungkin ada kursi, maka kita mencari alternatif lain sebagai alas kenikmatan duduk.

Satu waktu, sebagaimana biasa saat pulang kerja, saya menuju tempat parkir bis hantaran kantor di halaman parkir. Setelah sampai saya segera naik dan mendapati ada empat rekan yang telah berada di dalam bis tersebut. Saya segera mencari tempat duduk yang akan saya duduki (tentunya) selama dalam perjalanan pulang yang akan memakan waktu panjang.

Bis ini mempunyai kapasitas penumpang, sesuai jumlah kursi, adalah 29. Satu kursi lagi, kursi ke-30, adalah kursi pak supir. Dengan kapasitas seperti ini tentunya akan sangat mudah bagi saya memilih kursi saat itu. Empat orang rekan sudah duduk, berarti masih ada 26 kursi lain yang bisa dipilih, eh, tepatnya 25 kursi.

Setelah diperhatikan tiap kursi dari belakang hingga depan, ternyata, semua kursi telah ada barang. Barang ini berupa tas, jaket, dlsb. Artinya jelas, sejelas saya melihat saat itu, bahwa semua kursi yang ada barangnya berarti tidak bisa saya duduki. Kursi yang telah diduduki oleh para barang ini memiliki arti telah ditandai oleh sang pemilik barang bahwa kursi tersebut adalah yang akan didudukinya.

Bagaimana mungkin empat orang yang terlihat tetapi semua kursi telah diokupasi semua..?

Penjelasannya mudah, karena modus operandi ini memang sudah semakin biasa dilakukan.

Kapasitas bis ini adalah 29 penumpang, sedangkan jumlah normal penumpang yang biasanya harus terangkut adalah 35 – 40 orang. Perlu diketahui bahwa bis yang berkapasitas 29 orang ini adalah bis pengganti dari bis yang lebih besar dengan kapasitas 45 orang. Kelebihan penumpang dari kapasitas tampung menimbulkan persaingan ketat untuk dapat menduduki kursi yang ter-install di bis.

Persaingan ini membuat para calon penumpang mempunyai cara untuk “tek-tekan” yaitu dengan naik bis terlebih dahulu, biasanya 45-30 menit sebelum bis berjalan, dan setelah meletakkan tanda berupa tas atau jaket atau lainnya, segera kembali ke ruang kerja. Sehingga saat waktunya pulang tiba maka tidak perlu lagi tergesa menuju ke bis, cukup jalan santai, karena kursi telah “dimiliki”.

Salahkah modus operandi ini..? Tentunya tidak, karena tidak ada konsensus ataupun peraturan tertulis mengenai aturan menempati kursi bis saat kapasitas bis tidak mencukupi. Tidak ada yang dilanggar, ‘kan..?

Saya sangat sadar dengan kondisi “persaingan” ini, dan tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Saya cukup keluar ruang atau gedung saatnya jam pulang tanpa perlu “mencari tiket” untuk mendapatkan kursi nyaman. Tanpa perlu menyalahkan siapapun, karena tidak ada yang salah, cukup naik dan menikmati “kursi bakso” yang berupa kursi plastik seperti pada gambar ilustrasi diatas, dan menikmati perjalanan dengan santai di kursi nomor 31, selama dua jam perjalanan…

Saya sadar bahwa mendapatkan “kursi nyaman” itu memang perlu usaha yang lebih, dimanapun…

: )

Gambar: ilustrasi. Sumber: http://plastik.distributor123.info

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 886 other followers