Home

Bicara Lubang Kunci

2 Comments


lubang kunci

lubang kunci

Jangan bicara jika hanya mengintip dari lubang kunci. Buka pintu untuk kondisi yang hakiki…

Menjadi Narasumber LDR

2 Comments


Presentasi LDR

Presentasi LDR

Siapa bilang LDR (Long Distance Relationship) itu susah..? Dijaman kini LDR bisa dilakukan dengan asik dengan memanfaatkan teknologi. LDR yang saya maksud disini adalah tetap menjaga hubungan baik dengan semua pihak, termasuk rekan-rekan “sealiran” dalam dunia kajian remote sensing di tanah air.

Beberapa waktu lalu saya diminta pendapat mengenai satu bentukan modul pelatihan remote sensing dalam bidang kehutanan, yang akan menjadi modul pelatihan standar di Asia Tenggara melalui suatu proyek kerjasama antarnegara. Ibu Ayun, rekan yang saya kenal dari Facebook, kontak saya untuk terlibat dalam workshop dua hari di Bogor, yang diselenggarakan oleh Balitbang Kehutanan.

Berhubung saat ini saya ada di belahan lain dunia, maka kehadiran saya di Bogor adalah hanya dalam bentuk visual dan suara. Sebagian orang menyebutnya sebagai teleconference. Tapi mungkin juga kurang tepat istilahnya.

Saya dan panitia memanfaatkan aplikasi komunikasi di internet yang cukup handal yaitu Skype. Saya di Michigan menggunakan laptop yang dilengkapi dengan kamera, mikropon dan speaker (standar laptop), sementara panitia di Bogor juga sama ditambah dengan layar monitor yang disambungkan dengan proyektor. Sehingga secara visual peserta workshop dapat melihat saya sekaligus mendengar suara dari speaker di laptop panitia yang telah disambungkan ke sistem suara di ruangan.

Suatu konfigurasi peralatan yang sederhana, tetapi memang mengandalkan koneksi internet yang baik.

Alhamdulillah saya bisa mengunjungi Bogor dimulai jam 22 EST (sama dengan jam 9 WIB) hingga acara bagian saya selesai sekitar jam 23.30 EST. Saya bersapa dengan pak Adi Susmianto (Kapus Litbang Konservasi dan Rehabilitasi, Balibang Kehutanan), Bapak I Nengah Surati Jaya (Kehutanan IPB), Bapak Projo Danudoro (PUSPIC UGM) dan peserta lain yang saya tidak ketahui karena saya tidak melihat langsung :D

Walau tidak berada langsung di ruang workshop, saya bersiap dengan pakaian seolah hadir disana, dengan hem dan jas. Tentunya hal ini sangat diperlukan dalam rangka saling menghormati even yang berlangsung.

LDR seperti ini sangat penting dijaga dalam rangka saling memberi asupan perkembangan yang ada dalam dunia remote sensing.

Terimakasih untuk bu Ayun dan panitia yang telah melibatkan saya. Semoga beberapa masukan yang saya berikan dapat berguna bagi pengembangan modul pelatihan tersebut.

Terimakasih juga untuk pasukan di rumah yang setia menemani sampai larut malam, plus foto-foto aksi di belakang laptop saat acara berlangsung :D

*/ : )

Kekuatan Sedekah

8 Comments


...

Tahukah kamu kekuatan sedekah..? Rasanya ini pertanyaan klise dan jika ada yang bertanya maka dalam pikiran saya adalah: paling juga yang ngomong mau minta sumbangan. Tapi prasangka saya mengenai sedekah berubah sejak bertemu dan ngobrol dengan seorang rekan dalam perjalanan.

Kisah berikut ini adalah fiksi karena diceritakan oleh orang lain pada saya kemudian saya kacaukan dengan opini ataupun penjelasan dalam kalimat yang sangat mungkin tidak pas.

Sebut saja ia namanya… bukan, bukan Fulan, itu terlalu mainstream. Okelah sebut saja namanya Fauzan.

Saya bertemu dalam satu perjalanan di kampus. Kami berkenalan dan ngobrol disiang nan sejuk sembari memakan bekal kami di taman kampus. Tiba-tiba Fauzan berkata pada saya: Tahukah kamu, yang membawa saya ke tanah “Paman Sam” ini adalah karena kekuatan dari sedekah..?

Pertama yang muncul dalam pikiran saya adalah: wah mulai nih, gaya para ustaz seleb, ngomongnya lebay melayang-layang deh. Saya berusaha menahan diri dan sambil meneruskan makan siang saya mendengarkan celoteh lanjutannya.

Fauzan memulai cerita pengalamannya saat di tanah air. Ia adalah pegawai negeri sipil golongan III dengan gaji bulanan yang besarnya separuh dari kebutuhan normal keluarganya. Untuk menghidupi keluarga ia harus berakrobat dengan melakukan “pengasongan”. Istilah mengasong ini maksudnya adalah mroyek kecil-kecilan (walau kadang besar juga) sesuai keahlian diri diluar kegiatan kantor.

Dengan tingkat hidup yang sangat biasa itu, Fauzan tidak mampu untuk memiliki rumah walau sudah mengabdi sebagai PNS sekian belas tahun (tepatnya saya lupa). Anak-anaknya yang semakin besar di sekolah menengah memerlukan biaya yang tinggi untuk mendapatkan kesempatan menimba ilmu ditahapan yang katanya “pendidikan gratis” itu.

Cerita singkat kehidupan Fauzan ini tidaklah mengherankan saya yang merasakan hal serupa. Sama-sama PNS booo… :-)

Kondisi ini kemudian membuat Fauzan tidak lagi bermimpi untuk melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi, walau ia punya modal bagus dimana strata master telah ia dapatkan dari luar negeri juga.

Satu saat ia mendengar ceramah dari ustaz kondang via radio saat ia mampir buang air kecil di SPBU dalam perjalanan pulang tugas kantor dari Sumedang mengarah ke Jakarta. Walau selintas, Fauzan rupanya terkesan dengan kata-kata ustaz tersebut yang menyebutkan, kira-kira: bersedekahlah sejumlah A maka Allah akan membalas berlipat-lipat dari A.

Ia tidak tertarik dengan kata “berlipat” yang disebutkan sang ustaz, tapi anjuran sedekah itulah yang terngiang dalam benaknya. Ia ingin sekali bisa bersedekah, dalam artian materi, dengan cara “ekstrim” artinya tanpa perlu memikirkan akibat dari sedekahnya. Ia katakan ekstrim karena selama ini kalau ada uang lebih, saat ia sedekahkan, ia selalu ingat bahwa uang sejumlah sekian telah ia berikan pada si anu dalam rangka sedekah. Fauzan ingin sekali waktu melakukannya tanpa perlu mengingat ataupun diingat oleh pihak lain. Berikan dengan tangan kanan mu tanpa tangan kiri melihatnya.

Saya sebagai pendengar setia mulai tertarik. Udara sejuk saat summer di Michigan ini membuat asik orang ngobrol…

Fauzan melanjutkan. Satu ketika ia bertugas ke pelosok Indonesia. Perjalanan survey dengan jarak yang jauh dan berdurasi lama tentunya mengasyikkan, terutama jika dihitung jumlah rupiah yang bisa didapat sebagai sisa biaya perjalanan. Ia menghitung mungkin sekitar dua juta rupiah bisa dibawa pulang, lumayan untuk menambal lubang hutang keluarga bulan lalu.

Perjalanan lancar dan sampailah di lokasi survey. Pada hari kesekian, pas hari Jumat, ia mampir ke sebuah masjid. Masjid ini bangunan tua dan cukup menariknya antara lain adalah inilah pusat dari kegiatan umat Islam pada kota kecil yang sebagian besar penduduknya adalah muslim tetapi di daerah yang nonmuslim.

Jumat itu ia sempatkan hadir dalam masjid dan megikuti prosesi sebagaimana biasa. Selesai sholat, hujan turun dengan lebatnya. Banyak peserta sholat Jumat tertahan di dalam masjid. Fauzan segera melihat ada kesibukan lain di salah satu sudut di dalam masjid tersebut. Beberapa orang tua dan muda, sepertinya mereka adalah pengurus masjid, sedang menghitung uang kencleng dari kotak yang diedarkan sebelum sholat tadi. Lembaran warna-warni dan juga beberapa keping koin dikumpulkan dan dihitung bersama.

Fauzan tercenung, ia merasakan sesuatu yang sesuatu sekali. Ditengah suara hujan lebat di luar masjid dan keramaian orang yang masih tertahan di dalam masjid, ia merasa sesuatu… (halah… sesuatu lagi…)

Tiba-tiba ia merasa ingin sekali berbuat “ekstrim” seperti yang pernah ia canangkan sekian tahun lalu, saat mendengar ceramah ustaz via radio di SPBU itu.

Ia mendekat ke para pengurus masjid yang sedang menghitung uang kencleng tadi. Setelah menyapa dengan ucapan Assalamualaikum, Fauzan bertanya: apakah saya masih boleh menambahkan sedikit..? Salah satu tetua yang duduk paling dekat dengannya menjawab: Silakan mas, seikhlasnya. Ini semua untuk pembangunan dan perawatan masjid serta untuk sekolah membaca Al Quran anak-anak disini.

Fauzan mengeluarkan dompet, tanpa melihat isinya, ia keluarkan semua isinya dan dilipat. Benar-benar hanya dengan satu tangan dan tanpa dilihat matanya sama sekali. Semua lembaran merah yang ada didompetnya digenggam dalam satu tangan dan diletakkan langsung pada tumpukan uang yang sedang dihitung. Tanpa ba-bi-bu lagi Fauzan mengucapkan salam kemudian segera keluar dari masjid.

Derasnya hujan ia lupakan, terus berjalan dan masuk mobil yang ia gunakan survey dalam kondisi kuyup. Ia meminta supir untuk segera meninggalkan lokasi. Dan karena ia masih dalam perjalanan tugas maka ia harus mampir ke ATM terdekat untuk mengambil dana agar pekerjaan dapat dilanjutkan, karen dompetnya sudah kosong. Ia tidak mau memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Dalam perjalanan tugasnya kemudian, Fauzan dapat menyelesaikan semua tugas dengan baik, dan anggaran survey dapat dipenuhi peruntukannya dengan benar. Ia baru sadar bahwa tidak ada lagi tersisa rupiah yang bisa dibawa pulang. Mmm tak apalah, katanya dalam hati. Besok ngasong lagi, insya Allah bisa mendapatkan materi.

Tiba-tiba Fauzan bertanya pada saya: apa yang kemudian terjadi beberapa waktu kemudian pada saya dan keluarga, kamu tahu..?

Ya enggak lah, saya kan bukan paranormal, kata saya becanda :D

Fauzan melanjutkan: setelah saya disini, di Amerika ini, melanjutkan program sekolah saya, semua itu baru saya sadari. Dua tahun setelah kejadian itu baru semua saya sadari..!, katanya.

Maksudloh… (kata saya dalam hati…) :D

Ia merasakan ada hal yang luar biasa ia alami, keluarganya dapatkan, yang diluar perhitungan orang normal seperti dia. Setidaknya, yang Fauzan kemudian sadari adalah: dalam dua tahun setelah kejadian di pelosok Indonesia itu, semua hil yang mustahal terjadi.

Pertama, ia ditawari sekolah oleh Profesor di Amerika yang belum lama ia kenal. Entah melalui siapa si Profesor mengetahui latarbelakang Fauzan dan tertarik untuk merekrutnya dalam kegiatan penelitian di Amerika dengan imbalan beasiswa. Kedua, pada saat bersamaan, ia (dan keluarga) berkesempatan membangun dan memiliki sebuah rumah mungil ukuran standar tipe 45 (dua kamar tanpa dapur) dengan cicilan KPR BTN terjangkau.

Semua pengurusan surat-menyurat pendukung kepergian ke Amerika sangat dimudahkan, baik surat dari kantornya, dari sekolah saat ia mengambil master di luar negeri, dan surat-surat keimigrasian, baik dari imigrasi Indonesia maupun dari imigrasi Amerika.

Tidak ada uang sogokan pada pihak siapapun dalam pengurusan surat-surat ini. Semua sesuai prosedur. Yang “kata orang” bakal sangat sulit didapat… eh… ini mudah sekali mendapatkannya.

Fauzan berangkat ke Amerika dengan keluarga dan… semua berjalan dengan mulus juga.

Semua ini ia sadari setelah lama merenung dan mengalkulasi: kenapa ia bisa ada di Amerika saat ini. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika dihitung detil semua yang ada.

Ia kemudian menggarisbawahi bahwa ia yakin ini semua adalah akibat dari sedekah “ekstrim”. Sesuatu yang ia lakukan spontan tetapi dalam kesadaran penuh bahwa yang ia berikan insya Allah tidaklah sia-sia bagi sesama. Sedekah dengan rasa ikhlas yang total tanpa perlu pikir perkalian dari sejumlah tertentu yang telah diberikan.

Allah akan memberikan yang kita perlukan, bukanlah selalu yang kita inginkan.

Maksi kami selesai, ia segera pamit, dan entah kapan lagi kami bertemu ditengah kesibukan masing-masing di kampus ini.

Fauzan membuat saya berpikir untuk berbuat “ekstrim” serupa, entah kapan… Berani gak ya…? :-)

*/ : )

Quick Count Niat

2 Comments


Sumber: myteacuppprayers.org

Sumber gambar: myteacuppprayers.org

Jumat kali ini saya kepikiran bagaimana menghitung cepat keberhasilan niat saya. Niat kok dihitung? Emangnya bisa?

Begini, pertama “quick count” yg saya maksud disini tidak terkait dengan ilmu statistik, apalagi terkait dgn timses tertentu. Quick count disini adalah hitung secara sederhana sehingga cepat dipahami (oleh saya) dan gak perlu proposal apalagi klarifikasi metode… :D

Kedua, ritual “jumatan” yg saya lakukan perlu ukuran “keberhasilan” dari niat awal: sholat Jumat yg bener.

Maka kemudian saya pakai ukuran:

  1. Saya mau dan datang ke Masjid saat waktu Jumat walau jalan kaki kedinginan/keujanan: 10%,
  2. Duduk di barisan depan (tanpa perlu digusah2) dan menahan diri tidak ngobrol apalagi main hp: 20%,
  3. Tidak tidur sedetikpun saat khotib berbicara walau sikon sangat kondusif untuk hal itu: 40%,
  4. Mampu menangkap (walau mungkin tdk paham secara utuh karna pikiran kadang melayang) isi dari khotbah: 30%.

Kalau dijumlahkan mudah-mudahan 100% ya. Kalau lebih dari 100% berarti “memang beda”.

Sekali lagi ini quick count dari keberhasilan niat saya dalam ritual jumatan. Nilai perhitungan sesungguhnya (real count) bukan urusan saya. Saya serahkan pada keputusan KPU (Komisi Penilai Untukniatsaya)

Demikian. Nggak perlu dibalas.

*/ jakasembung..! :D

———-

Repost dari status facebook, Jumat, 11 Juli 2014.

115 Domain Internet Baru… and counting…

1 Comment


Domain internet baru.

Domain internet baru.

Setelah dibebaskannya penamaan domain TLD (Top Level Domain) maka bermunculanlah banyak nama baru. Saat ini dibolehkan juga mempunyai TLD khusus kalangan sendiri, misalnya .google maka hanya dimiliki oleh Google. Atau bisa juga .hartanto yang hanya boleh dipakai oleh hartanto (dan turunan TLD-nya). Semua ini tentunya ada aturan main dalam pendaftarannya.

TLD yang dapat dimiliki oleh umum, dulu, hanya beberapa seperti dot-com, dot-org, dot-net, dan TLD dari masing-masing negara atau ccTLD (country-code top-level domains) di dunia seperti -.id (Indonesia), -.uk (United Kingdom), -.gl (Greenland). Kemudian ada sTLD (sponsored TLD) seperti -.travel, -.gov, -.asia, dan lain-lain.

Dengan berjalannya waktu dan berkembangnya kebijakan penamaan TLD maka telah lahir 115 domain umum baru, dan akan terus bertambah… Silakan pilih sesuai dengan yang diinginkan:

-.academy -.agency -.bargains -.bike -.blue -.boutique -.build -.builders -.buzz -.cab -.camera -.camp -.cards -.careers -.catering -.center -.cleaning -.clothing -.club -.coffee -.community -.company -.computer -.condos -.construction -.contractors -.cool -.cruises -.dance -.dating -.democrat -.diamonds -.directory -.domains -.education -.email -.enterprises -.equipment -.estate -.events -.expert -.exposed -.flights -.florist -.foundation -.futbol -.gallery -.gift -.glass -.graphics -.guitars -.guru -.holdings -.holiday -.house -.immobilien -.industries -.ink -.institute -.international -.kim -.kitchen -.kiwi -.land -.limo -.link -.luxury -.maison -.management -.marketing -.menu -.moda -.nagoya -.ninja -.partners -.parts -.photo -.photography -.photos -.pics -.plumbing -.productions -.properties -.pub -.recipes -.red -.rentals -.repair -.reviews -.sexy -.shoes -.singles -.social -.solar -.solutions -.supplies -.supply -.support -.systems -.tattoo -.technology -.tienda -.tips -.today -.tools -.trade -.training -.vacations -.villas -.voyage -.watch -.webcam -.wiki -.works -.xyz

Jadi… nggak hanya dot-com aja kaan… :-D

*/ : )

Nasib Pengendara Sepeda di Dunia

Leave a comment


Sumber foto-foto: TheGuardian.com

Sumber foto-foto: TheGuardian.com

Jika banyak pengendara sepeda di kota besar di Indonesia berteriak meminta jalur khusus, maka di negara-negara lain yang telah menerapkan jalur khusus ini mendapat halangan lain.

Di kota-kota besar seperti Marseille (Perancis), Brussel (Belgia), Brisbane (Australia), bahkan di London (Inggris) jalur sepeda banyak diganggu oleh hal lain. Pengganggu ini tidak hanya dari pengendara lain tetapi juga dari pengaturan tata letak kota yang semrawut.

Nampaknya memang perjuangan para pengendara kendaraan bebas polusi ini tetap ada sepanjang masa…

:-)

*/ Sumber gambar dari TheGuardian.com.

Maraknya Koran Daring Bodrek

Leave a comment


Saat musim seminar dan peresmian besar maka banyaklah para wartawan datang. Yang mengasyikkan jika melihat wartawan “bodrek” (karena datang berombongan ala pasukan bodrek diiklan TV) atau ada juga yang menyebutnya dengan wartawan “muntaber” alias “muncul tanpa berita”. Wartawan jenis bodrek atau muntaber ini punya kelengkapan meyakinkan dengan tanda “pers” dan dilengkapi kartu nama dengan alamat yang mentereng. Tidak jarang diberi keterangan “wartawan istana” atau “wartawan sekneg” dsb. Sasaran utama mereka adalah panitia yang bermurah hati memberikan amplop karena “takut” diberitakan negatif oleh pasukan ini.

Saat musim perebutan kekuasaan, hal serupa muncul. Eh mungkin nggak “serupa” tapi kepalsuannya sama. Sejak setahun terakhir semakin sering menemukan koran daring muncul dengan berita-berita heboh. Nama domainnya biasanya pakai dot-com dan mempunyai standar tampilan sebagaimana surat kabar daring lainnya. Kemasan yang bagus ini membuat pembaca terbuai. Apalagi dengan foto yang entah didapat dari mana dan analisis serangan pada pihak target dengan bahasa yang aduhai.

Kemunculan yang bagaikan pasukan bodrek, berduyun-duyun disegala lini.

Koran daring ini juga mempunyai pasar yang bagus. Ada yang menjual di pasar “agama” dan ada juga di pasar “politik”. Kedua pasar ini kemudian bergabung sesuai dengan tuntutan pembaca, eh, pembina koran tersebut.

Saya pernah terpancing untuk membaca dan, sayang sekali, isinya sudah pernah saya dapatkan dari sumber lain yang anonim dikanal media sosial lain. Sumber anonim, sekali lagi sumber berita adalah anonim alias entah darimana, dan penuh dengan asumsi. Secara “reflek” saya menghindar dan menjauh dari koran daring itu.

Dengan penyajian bahasa politik-agama dan agama-politik yang sangat menarik siapa sih yang nggak tertarik. Tetapi kalau kita (mengaku) cerdas maka dengan sedikit googling (mencari via google) akan diketahui berita-berita heboh tersebut hanya bersumber dari sumber anonim. Apa yang bisa dipercaya dari sumber anonim..?

Saya menyesalkan koran-koran daring model ini begitu gampang menyebar berita2nya di media sosial. Yang menyebarkan siapa..? Ya pengguna media sosial yang juga (mungkin) mencari popularitas dari statusnya. Taut yang diberikan ditambahi dengan kata-kata: “eh bener gak nih…!”. Atau dengan menyebut nama tuhannya agar lebih impresif..! Duh… Disadari atau tidak penyebarluasan taut itu berarti menyebarkan info yang sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Yang “asik”-nya lagi para komentator langsung menyerbu dengan hanya berdasarkan judul saja tanpa perlu membaca berita ditaut.

Kata-kata: “jangan menghakimi isi buku hanya dengan melihat sampulnya” terlupakan… bablasss anginee…

Ada yang mengatakan pada saya: biarlah rakyat yang menilai, rakyat sudah cerdas melihat dan menganalisis isu…

Ooo… iya ya… sudah cerdas… (sambil celingak celinguk liat kanan-kiri…)

Jika yang melek internet dan berpendidikan masih hobi mengumbar taut berita nggak jelas, lalu rakyat mana lagi yang disebut cerdas ya…?

*/ Selamat hari Sabtu… : )

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,227 other followers