Saat raga masih dibutuhkan oleh negeri tercinta, maka banyak tempat yang telah dikunjungi. Semua dalam kerangka “pengabdian” dalam berbagai pembenarannya. Dan suatu ketika ada rekan yang bertanya: “Anda kerja dimana sih? Kok jalan-jalan aja keliatannya…” maka dengan sangat gampang bisa saya jawab: “Saya bekerja di tempat yang selalu menugaskan saya berkeliling Indonesia dan dunia…”. Jawaban yang berkesan jumawa bagi sebagian orang, tapi memang itulah yang terjadi.
Sejak menggapai status Pegawai Negeri Sipil secara resmi pada bulan Maret dua tahun sebelum tumbangnya rezim besar di negeri ini, saya telah terbawa terbang ke berbagai tempat. Negeri tercinta kita ini adalah negeri yang sangat luas, sehingga sekian belas tahun berkunjung, dan selalu berkunjung, tidak semua lokasi bisa terinjak. Ujung barat telah dikunjungi beberapa kali, yaitu Pulau Weh dengan tugu simbolisnya yang terkenal yaitu Tugu Kilometer Nol Indonesia. Sedangkan batas paling timur Indonesia telah pula terlewati dengan melangkahkan kaki di tanah Papua Nugini.
Dengan berbekal alasan tugas, pun, negeri di seberang lautan sudah terkunjungi, walau belum lebih dari selusin negeri. Dari benua Paman Sam di balik bumi “sebelah sono” hingga Karajaan Matahari Terbit yang memiliki keindahan Gunung Fuji yang kondang itu, sudah pula ternikmati. Suatu perjalanan yang tidak pernah terbayangkan, tidak pernah termimpikan, tidak pernah tercitakan… terwujud begitu saja.
Jika ada yang bertanya: “Berapa negeri yang telah kau kunjungi”, maka tidaklah susah untuk menjawabnya dengan cerita panjang lebar tentang perjalanan uniknya.
Suatu ketika seorang rekan melontarkan pertanyaan: “Saat kau melanglang buana, bisakah kau hitung jua berapa hati yang pernah kau kunjungi…?”
Mengunjungi hati..? Apa hubungannya dengan mengunjungi negeri..?
Read the rest of this entry »
Last Comments