Kabut malam di Buitenzorg

Buitenzorg yang kelam

Buitenzorg yang kelam (rekayasa gambar)

Ini adalah tulisan kesepuluh (akhir) dari Grup Hitam Cerita Berantai #2 dari Blogger Bogor. Tulisan sebelumnya dibuat oleh Tb. Sjafri MangkuprawiraEddy PrayitnoChandra ImanErfano NalakianoAnandita Puspitasari, Jun “Siro” Dieyna, Utami Utar, Miftah Abdillah Akhmad, dan Suria Riza.

Bogor ada karena satu alasan.

Apakah yang menjadi alasan dalam pemilihan lokasi penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja Kerajaan Pakuan, pada 3 Juni 1483, sehingga peristiwa itu terjadi di tempat yang kemudian bernama Bogor..?

Apakah pula yang menjadi alasan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Buitenzorg, nama lawas dari Istana Bogor, di lokasi ini dan menjadi kediaman resmi 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu Gubernur Jenderal Inggris..?

Buitenzorg mempunyai arti “without sorrow” atau “tanpa kesedihan”. Dalam bahasa Belanda, ada penyebutan lain terkait dengan “buiten”. Jika saya mengatakan bahwa saya mempunyai “buiten” artinya saya mempunyai rumah perisitirahatan di pedesaan.

Disatu masa, memiliki “buiten” di Buitenzorg adalah keindahan hidup. Seorang raja dapat mengendalikan pegunungan dan sekaligus daerah pesisir pantai dari lokasi yang nyaman. Perwakilan pemerintah kolonial Belanda dan Inggris pun demikian, dapat menikmati kekuasaanya sambil menghirup angin gunung yang mengalir dari Gunung Salak dan Gunung Gede dengan nyaman, dan dilimpahi hujan yang menyegarkan. Hidup tanpa kesedihan dan kekhawatiran.

Bagaimana dengan keindahan dan kenyamanan Bogor saat ini..?

Hiruk pikuk kemajuan jaman telah melanda Bogor. Kota yang (katanya pernah) indah ini menjadi tempat menginap sebagian pencari kehidupan Jakarta, dan menjadi ladang pembagian materi bagi sebagian lainnya. Kondisi kehidupan ekonomi, interaksi sosial dan budaya (sangat mungkin) telah sangat berubah dibandingkan saat Bogor masih menyandang sebutan “buitenzorg”.

Model pemerintahan saat ini yang “dipilih langsung” oleh rahayat jelata tidak mampu menjamin segalanya menjadi berpihak pada impian keindahan hidup para rahayat yang ber-KTP Bogor. Kebijakan dan peraturan dibuat dengan membawa nama “konstituen” tanpa sadar apa yang diperlukan oleh konstituen sesungguhnya.

Kesemerawutan sosial dan budaya terpampang jelas di pinggir jalan (menurut Eddy PrayitnoChandra ImanAnandita Puspitasari, dan Suria Riza). Kondisi transportasi, baik sarana maupun prasarana, yang tidak pernah terobati dengan baik (menurut Utami Utar dan Miftah Abdillah Akhmad). Pengaturan transaksi perdagangan yang buruk (menurut Erfano Nalakiano dan Jun “Siro” Dieyna). Dan antisipasi kebencanaan akibat bencana alam yang sangat memrihatinkan (menurut Tb. Sjafri Mangkuprawira).

Semua “persoalan kecil” yang telah dibahas oleh rekan-rekan diatas bagaikan kabut pekat dimalam hari. Kegelapan malam ditambah dengan kehadiran kabut akan menjadikan penghuni kota berjalan sangat lambat. Kalaupun dapat berjalan cepat maka dapat dipastikan keselamatan akan terabaikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dan kemudian ini bukanlah “persoalan kecil” lagi tentunya.

Bogor hadir bukan untuk menghambat kemajuan penduduknya, tetapi juga bukan untuk menghilangkan “keindahan buitenzorg” yang berlangsung selama berabad-abad lalu.

Kepekaan pemimpin sangat diperlukan. Dan bukan hanya kepekaan tetapi juga kemampuan dan keberanian dalam menentukan langkah (bahasa kerennya: “kebijakan”, berupa peraturan dan aksi). Masyarakat Bogor bukanlah orang yang bodoh dan hanya menyetujui apa yang telah ada dikeseharian. Masyarakat Bogor sejatinya mampu menilai dengan baik apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpinnya dalam mengolah wilayah beserta semua aset-asetnya dengan keberanian dan dilandasi kebenaran. Masyarakat Bogor mampu ikut serta membangun Bogor bersama.

Tidaklah sulit untuk mengatur (baca: membuat perda dan menjalankan bersama) transportasi, perdagangan, sosial, dan budaya. Sekali lagi: tidak sulit. Kemampuan edukasi dari para punggawa pemerintah Bogor (baik Kota maupun Kabupaten) tentunya sudah memenuhi kebutuhan dasar sebagai pemikir yang baik dan mampu bertindak dengan benar.

Demikian pula dengan “para wakil rakyat yang terhormat” di DPRD yang telah berpanjang titel kesarjanaan maupun kerohaniannya, tentunya mampu “sejenak berpikir serius” untuk Bogor dan rakyatnya. Gantungkan jas parpol anda dan bertindaklah segera, konstituen sesungguhnya tidaklah melihat warna bendera anda.

Masyarakat Bogor adalah masyarakat yang dewasa dan sangat mudah untuk digerakkan demi menjadikan Bogor yang “buitenzorg”. Kesungguhan berpolitik para pemimpin dan wakilnya menjadi salah satu kunci penting dalam menjembatani pergerakannya. Gunakanlah politik sebagai kendaraan anda memperbaiki Bogor, janganlah berlaku sebaliknya. Jika politik yang mengendarai anda, maka keturunan anda yang akan menanggung akibatnya, dijamin..!

Pemimpin adalah pelayan yang paling rendah posisinya. Niat dan janji tidaklah cukup tanpa kebersamaan aksi dari semua lini: pemimpin dan terpimpin, kita semua.

Mampukah kita menyibak kabut malam di “Buitenzorg” ini dan menjawab pertanyaan: untuk alasan apa Bogor ada..?

Demikian. : )

*/layar ditutup untuk Grup Hitam… walau rada kocar-kacir… : )

Menikmati Uluwatu..?

Pura Uluwatu, Bali.

Pura Uluwatu, Bali.

Uluwatu, salah satu tempat eksotik di Pulau Bali dan menjadi tujuan wisata turis dari mancanegara. Lokasi yang menantang dengan tebing cadas yang tinggi menyajikan pemandangan laut yang indah. Uluwatu juga tempat turis berburu keindahan suasana matahari terbenam.

Akhir tahun 2011 saya dan keluarga menuju ke Uluwatu dengan tujuan yang pasti yaitu menikmati pemandangan tebing dan suasana matahari terbenam. Waktu telah diset sedemikian pas sehingga saat sampai di Uluwatu masih dapat menikmati keduanya. Mas Budi, sobat lama kami, membawa kami sekeluarga (saya, istri, Alta dan Qila) sesuai dengan target waktu…

Sejak di tempat parkir mas Budi, yang sudah sangat hafal dengan kondisi Uluwatu, memberikan beberapa perhatian. Terutama terkait dengan keberadaan monyet liar yang katanya “usil” terhadap barang bawaan turis yang menarik perhatian. Kami segera bersiap dengan tidak memakai pernik apapun, termasuk saya yang harus menyimpan kacamata.

Memasuki gerbang suasana nyaman terasa. Sinar matahari sore masih terang benderang. Kami segera menuju ke arah pura di ujung tebing yang terdekat. Jalan setapak yang tidak begitu lebar dan menanjak. Banyak turis lokal dan mancanegara yang tengah menikmati suasana pula.

Perjalanan menapak ke ujung tebing mulai terasa asik karena monyet-monyet liar segera hadir di antara kami. Monyet dengan badan yang besar dan kecil hilir mudik di pagar pelindung di pinggir tebing.

Kondisi yang terasa asik tiba-tiba berubah. Seekor monyet yang relatif bertubuh kecil segera turun dan menarik sendal jepit hitam di kaki kiri Qila. Tarikan yang keras sang monyet dan juga kondisi tak terduga membuat Qila segera melepas sandalnya. Dalam sekejap sandal berwarna hitam tersebut naik pohon bersama sang monyet, eh, monyet segera naik pohon dengan membawa sandal hasil rebutannya tadi.

Karena terlihat berbahaya, saya tidak berusaha “merebut kembali” sandal dari si monyet. kami biarkan dan sekitar lima menit maka sandal dibuang dari atas pohon. Saat saya ambil, kondisi sandal jepit sudah putus talinya dan rusak bolong tengahnya. Wow, begitu ganasnya si monyet tadi.

Aktivitas monyet di Uluwatu.

Aktivitas monyet di Uluwatu.

Untuk melanjutkan perjalanan sore itu, saya segera menyerahkan sandal jepit saya untuk dipakai Qila, sedangkan saya sendiri “nyeker” alias tidak pakai alas kaki. Suasana riang segera menjadi tegang karena ternyata agresifitas monyet-monyet lainnya juga tinggi. Tas punggung yang dipakai istri menjadi target para monyet selanjutnya. Mereka tampaknya tertarik dengan gantungan kunci yang ada menggantung di sana. Segera kami buka paksa gantungan kunci dan menyimpannya. Sementara aman.

Kami segera berjalan ke arah lokasi lain, mendekati lokasi dimana akan ditampilkan tari kecak yang biasanya dilaksanakan sesaat sebelum matahari terbenam. Tebing dan taman yang kami lalui cukup rapi dan pemandangan sangat indah. Ketinggian tebing menyajikan pandangan yang luas dan dapat menyaksikan gulungan ombak yang pecah di pantai dari kejauhan.

Keindahan taman dan pemandangan segera terusik lagi oleh para binatang berekor panjang, sang monyet-monyet, yang tampaknya ada beberapa kelompok. Beberapa sangat agresif mengincar barang bawaan para pelancong, dan beberapa lagi berperang antarkelompok.

Kondisi ini jelas menyurutkan langkah kami, terutama anak saya yang baru saja mengalami hal yang tidak diinginkan. Saya tetap mengondisikan agar menikmati “atraksi alam” yang ada di depan mata. Kegesitan monyet dan reaksi kewaspadaan pengunjung tampaknya justru (kemudian) menjadi hal yang lebih menarik perhatian dibandingkan lainnya.

Saya melanjutkan perjalanan ke ujung tebing lainnya, dekat dengan lokasi tari kecak. Ternyata justru kami kembali melihat “atraksi” lain antara turis dan monyet. Salah satu monyet berhasil merebut kacamata seorang turis (kelihatannya dari Taiwan). Kondisi ini tentunya membuat si turis takut tetapi juga ada keinginan untuk mengambil kembali kacamata miliknya. Tak lama muncul “pawang” dengan membawa buahan (sepertinya anggur?). Dia segera mendekati si monyet sambil memberikat beberapa tangkai anggur. Dan seperti diduga sebelumnya, si monyet “takluk” dan memberikan kacamata kepada sang “pawang”.

Atraksi "pawang" di Uluwatu.

Atraksi "pawang" di Uluwatu.

Para pemirsa segera tepuk tangan melihat atraksi menarik tersebut. Si turis segera mendekat pada “pawang”. Dan… sang pawang memberi “harga” untuk usahanya mengembalikan kacamata tersebut… waaah…

Singkat cerita, sore itu saya dan keluarga lebih “menikmati” atraksi monyet daripada keindahan alam dan suasana temaram matahari terbenam. Kekhawatiran kami (dan juga yang hadir disana) terhadap keagresifan monyet menjadi lebih dominan daripada keinginan utama kedatangan kami ke lokasi tersebut.

Saat pertama saya datang ke Uluwatu, tahun 2005, kejadian serupa juga saya lihat. Dan pada kedatangan saya kali ini justru mengalami sendiri, terjadi pada keluarga saya langsung. Hal ini (semoga tidak) akan menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak dan juga saya sendiri terhadap “keindahan” lokasi wisata Uluwatu.

Dalam benak saya, setidaknya saat ini, jika mengingat Uluwatu adalah monyet, monyet dan monyet. Bukan keindahan pemandangannya dan juga bukan keindahan suasana sunset-nya. Entah di benak keluarga saya…

Apakah Uluwatu akan menjadi tujuan saya lagi dalam menikmati sunset di Bali…? Atau menjadi tujuan “petualangan alami” jika memang mau uji nyali…? Entahlah…

: )

Plagiator melakukan plagiat demi plagiarisme

contekmencontek

Contek mencontek...

Kasus contek mencontek adalah hal biasa dalam kehidupan. Sejak kita mengenal persaingan dalam kehidupan, walau usia masih balita, maka kegiatan mencontek mulai kita lakukan. Dalam bahasa santunnya adalah meniru apa yang dilakukan oleh orang lain.

Persaingan dalam hal apapun, baik menyangkut kehidupan pribadi, SARA, maupun kehidupan antarnegara, maka kegiatan contek mencontek menjadi hal yang lumrah dilakukan. Bahkan taruhan nyawa adalah hal biasa demi bisa mencontek. Berapa banyak percontekan dilakukan oleh “Kelompok Barat” terhadap “Kelompok Timur” dan sebaliknya. Semua dilakukan dengan pembenaran sesuai posisi masing-masing.

Dalam dunia tulis menulis hal ini juga terjadi sejak jaman dulu. Karya tulis pihak lain “dicontek” demi persaingan personal. Untuk kasus ini biasanya persaingan justru bukan dengan pihak yang dicontek tetapi dengan pihak lain lagi. Karya tulis contekan tadi digunakan untuk membuat kesan bahwa “sang penulis” mempunyai kemampuan hebat dan lebih hebat dari pesaingnya, walau yang ditampilkan adalah karya orang lain.

Saat format tulisan dalam jaman dijital, maka pencontekan lebih mudah lagi. Tinggal buka dokumen, melalui dokumen langsung (misal dalam doc, pdf, atau lainnya) atau melalui laman web, lalu salin (copy) dan letakkan (paste) pada dokumen sendiri. Ubah penulisnya menjadi nama sendiri, dan publikasikan pada khalayak dan pesaing… beres…

Artikel yang paling gampang di-”copy-paste”-kan adalah artikel pada blog. Maraknya para penulis memanfaatkan blog sebagai tempat publikasi maka memudahkan para penggemar “copas” melaksanakan hasratnya. Saya yakin, diantara pembaca artikel ini ada yang pernah menjadi korban, dimana karyanya di “copas” oleh orang lain. Dan mungkin juga ada yang berbuat sebaliknya… :D

Saya pernah mengalami dimana posting saya di-copas secara bulat utuh. Salah satunya adalah tulisan yang saya posting 1 Pebruari 2006 dengan judul “Komposisi warna alami ASTER“. Tulisan ini tentang komposisi kanal citra satelit sensor ASTER yang dapat terlihat seperti tampakan warna sebenarnya di alam. Hal ini dikatuhui tanpa disengaja saat iseng memanfaatkan fasilitas “Search Google for…” (dengan cara blok alinea, klik kanan…).

Saat mengetahui, saya langsung mengunjungi dan melihat, wow, tulisan ditampilkan utuh tanpa perubahan apapun, dan tidak ada pemberitahuan sumber sama sekali.

Entah ada berapa kemungkinan lagi jumlah “postingan” yang mengalami hal serupa, saya hampir gak peduli lagi. Eh, pada September 2011 muncul lagi ping back dari pelaku serupa. Karena ada ping back maka dengan mudah saya menelusuri dengan sekali klik. Dan sama juga, tulisan plus gambar terpublikasi secara utuh dilaman blog pelaku. Ahaay…

Artikel yang dimaksud adalah “Sebaran mudik di Latitude“.

Entah apa maksud dari para pelaku ini, saya jauh dari prasangka apapun. Saya pun tidak menanyakan pada mereka apa yang mereka harap dari perbuatannya.

Sejatinya tidak ada hal yang baru di muka bumi ini, keunikan hanya terjadi pada bagaimana mengungkapkannya saja, baik berupa tulisan ataupun lainnya. Dan sebagai manusia yang beradab dan berpendidikan (ehm jadi ingat sosialita yang meributkan kebesaran gelarnya) tentunya etika selalu dijunjung tinggi.

Sebagai “kenangan”, maka laman yang menampilkan tulisan saya tanpa pemberitahuan tadi saya simpan dalam bentuk gambar (screen capture).

Apakah anda pernah mengalami hal “pencontekan” serupa..? Semoga bukan pada sisi pelakunya…

: )

The Flying Dosen – the untold stories…

The Flying Dosen

The Flying Dosen

Menjadi pengajar itu asyik, banyak hal yang dialami dalam perjalanannya… Hubungan antara pengajar dan pelajar selalu menjadi cerita yang unik.

Saya mencoba menceritakan banyak hal yang pernah saya alami saat saya berperan sebagai pengajar maupun sebagai pelajar. Banyak “the untold stories” yang akan tertulis. Dibuat dalam tulisan-tulisan ringkas yang terpisah dan tanpa kronologis.

Bagi yang mempunyai waktu, silakan mengunjungi blog yang saya beri nama “The Flying Dosen“.

Dijamin tak ‘kan banyak yang menarik bagi anda yang berprofesi pengajar, apalagi yang sedang jadi pelajar, dan, apalagi, bagi yang pernah “berurusan” dengan saya…

; )

Citra Anaglyph untuk Tampakan 3-Dimensi

Melihat tampakan 3-D pada citra anaglyph menggunakan "kacamata" 3-D biru-merah.

Tampakan 3-Dimensi adalah hal yang menarik dalam dunia spasial. Citra anaglyph dapat menghasilkan tampakan 3-D dan membuatnya pun ternyata tidak sulit. Mau mencoba..?

Bahan yang diperlukan semua “gratis” dan dengan mudah kita dapatkan. Apa yang harus disiapkan..?

Data:

  • Data citra (satelit) ter-georeferensi, didapatkan dari citra pada Google Earth, dapat di-capture menggunakan perlun SIG free.
  • Data DEM/DTM, untuk data ini bisa didapatkan dari data DEM SRTM.

Perangkat lunak dan peralatan:

  • Gunakan perangkat lunak ILWIS, yang merupakan keluarga open source dan juga free, dapat diunduh dari situs ilwis.org atau di laman unduh.
  • Kacamata 3-Dimensi, digunakan untuk melihat hasil akhir dari proses ini. Kacamata ini dapat diperoleh di Toko Buku atau dapat dibuat sendiri dengan menggunakan mika sampul berwarna (merah-biru).

Proses secara umum adalah sebagai berikut:

  • Pilih lokasi yang mempunyai kondisi topografi menarik, ada dataran tinggi dan rendah.
  • Gunakan Google Earth untuk mendapatkan citra satelit lokasi tersebut. Manfaatkan perlun free untuk meng-capture-nya dan mendapatkan koordinatnya langsung, seperti perlun SIG Elshayal.
  • DEM SRTM di-crop sesuai dengan luasan citra.
  • Simpan citra dan SRTM dalam GeoTIFF dengan dimensi spasial yang sama.
  • Import dalam format ILWIS dengan menggunakan GDAL.
  • Setelah berhasil, pastikan data citra mempunyai domain “image”
  • Jika citra masih dalam composite, lakukan “Color Sparation” (Operations -> Image Processing -> Color Sparation). Simpan kanal merah menjadi file citra baru.
  • Jalankan fungsi “Stereo Pair from DTM” untuk menghasilkan citra stereo (Operations -> Image Processing -> Stereo Pair from DTM)
  • Hasil dari proses ini berupa file data baru, tampilkan dalam citra anaglyph (Operations -> Visualization -> Stereo pair -> as Anaglyph).
  • Nikmati tampakan 3-Dimensi pada citra anaglyph dengan menggunakan kacamata 3-D anda.

Gambaran proses dapat dilihat melalui slide berikut ini:

Slide (pdf) dapat diunduh melalui laman unduh.

Contoh citra anaglyph:

Citra Anaglyph Gunung Rinjani (klik untuk memperbesar)

Selamat menikmati… : )

Kabut Kaldera Gunung Api Purba di Beratan

Danau di kaldera gunung api purba (Google Maps).

Negeri ini kaya akan gunung api dan juga gunung api purba. Salah satu gunung api purba terdapat di pulau Bali, dan kalderanya menjadi salah satu bentuk keindahan alam yang luar biasa. Kaldera gunung api purba itu menjadi tempat dari tiga buah danau, yaitu danau Beratan, danau Tamblingan, dan danau Buyan.

Akhir tahun 2011 saya berkesempatan menikmati keindahan danau di kaldera purba ini. Danau Tamblingan dan danau Buyan hanya sempat dinikmati dari jauh pada ketinggian view point dengan ditemani oleh banyak kera liar yang bersahabat. Sedangkan danau Beratan (sebagian lagi menuliskannya dengan: Bratan, tanpa huruf “e”) sempat menikmati dalam jarak dekat.

Tiap pencinta wisata nusantara pastilah sudah pernah mendengar tentang “Pura Bedugul”, dan dengan gampangnya dapat kita cari melalui images.google.com untuk mendapatkan gambarnya yang indah. Pura ini mempunyai nama “sebenarnya” adalah Pura Ulun Danu. Sebagian dari bangunan pura terletak terpisah dari daratan, pada dua buah daratan kecil, dan inilah yang selalu hadir dalam foto tentang pura ini. Dipisahkan beberapa meter dari daratan oleh air danau Beratan menjadikannya indah untuk dilihat wisatawan.

Tidak hanya keunikan itu tentunya, kondisi alam sekitar sangat membantu memperindah tampakan dari bangunan pura ini. Danau Beratan yang selalu dihadiri oleh kabut menjadikan nuansa yang sangat indah. Apalagi jika sinar matahari menerobos kabut pada waktu menjelang sore hari, keindahan tampakan pada lokasi tersebut sangat dinantikan.

Dengan ketinggian sekitar 1240-an meter dari rerata muka air laut, temperatur sekitar tentunya cukup dingin, dalam rentang belasan derajat Celcius. Kehadiran kabut yang tak henti-henti cukup mendinginkan sekaligus menghangatkan badan. Saat angin bertiup tentunya badan akan merasa dingin, sebaliknya saat tiada angin bertiup maka kabut justru menghangatkan.

Kehadiran kabut di permukaan danau menjadikannya obyek fotografi menarik sebagai “teman” dari pura yang memang sudah cantik.

Pura Ulun Danu di danau Beratan, Bedugul, Bali.

Menurut cerita penduduk sekitar, yang berjualan di pinggir jalan, Bedugul memang tidak seramai tempat wisata lainnya di Bali. Wilayah ini cenderung hanya sebagai daerah lintasan dari kota Singaraja di pantai Utara Bali, ke daerah lainnya di Selatan (atau sebaliknya). Penikmat biasanya hanya hadir dalam hitungan jam kemudian pergi. Atau bahkan hanya sekedar istirahat dan menghangatkan badan dengan makan bakso sambil menikmati pemandangan danau yang indah.

Di desa Candikuning, yang berdekatan dengan danau Beratan, banyak terdapat penginapan. Dari Hotel kelas tinggi hingga penginapan kelas melati yang cukup baik. Salah satunya adalah Ashram yang mempunyai rate sangat terjangkau dan berposisi sangat strategis dalam menikmati keindahan danau. Pun tak jauh dari pura Ulun Danu, dan juga dari lokasi penduduk atau tempat makan (restoran ataupun warung makan).

Bagi wisatawan yang beragama Islam, di desa Candikuning banyak terdapat masjid, dan tentunya tempat makan halal. Ini karena di tempat tersebut salah satu yang mempunyai komunitas muslim cukup besar. Adanya tempat makan berlabel halal ini tentunya memudahkan kaum muslim dalam menikmati makanan lokal sambil menikmati indahnya suasana dan dinginnya udara.

Menikmati suasana Bedugul...

Akhir tahun merupakan salah satu waktu yang menyenangkan bagi pencinta durian. Durian lokal (katanya sebagian besar dari daerah Singaraja), apalagi yang jatuhan, sangatlah nikmat. Beberapa menyerupai durian monthong impor dari sisi kecilnya biji dan tebalnya daging serta manisnya rasa. Walau dari segi dimensi durian lokal cenderung lebih kecil dari pada durian monthong. Tetapi untuk di desa Candikuning ini, kehadiran durian hanya bisa ditemui disiang hingga sore hari.

Menikmati durian di tengah kabut asik juga tampaknya… : )

*/—–

Terimakasih untuk Isal dan gerombolannya (hehe…) yang telah mengundang ke Bedugul.
Ohya, bagi yang akan travelling di Bali, bisa kontak mas Budi (08155744683) yang bisa antar kemana saja dengan aman dan nyaman… (iklan-dot-com).

Membangun karakter bangsat

Karakter bangsa adalah frasa yang sering terdengar beberapa tahun terakhir. Dua kata yang (mungkin) berarti membangun watak, sifat, atau tabiat bangsa ini semakin sering terdengar saat mana petinggi negeri sering mengulanginya dalam banyak pidato ataupun pertemuan dengan publik. Media massa pun berperan memopulerkannya.

Frasa menarik ini kemudian menjadi salah satu primadona dalam membuat judul kegiatan. Judul kegiatan selalu berbau “karakter bangsa” dan menjadikannya tidak tercoret dalam mata anggaran kegiatan, baik di instansi “pelat merah” ataupun “kuning”.

Apa yang menarik dari kegiatan “membangun karakter bangsa” ini..?

Yang menarik adalah banyaknya kegiatan “pembangunan” ini dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hanya dalam hitungan hari, dan kegiatan pun dapat mengusung nama “membangun karakter”. Apa saja kegiatannya..? Sebagian adalah serupa dengan kegiatan out-bond, sebagian lagi ditambahi dengan materi “kepemimpinan”, ada juga dengan bumbu team building dan games.

Dapatkah membangun karakter hanya dilakukan beberapa hari..? Apalagi dengan tambahan “bangsa” setelah frasa “membangun karakter”..?

Bagi pembaca yang terbiasa dalam dunia pendidikan, baik formal maupun nonformal, tentunya akan paham dengan jawaban dari pertanyaan diatas. Dan bagi yang berasal dari luar dunia pendidikan, tentunya juga bisa menjawab dengan logika sederhana.

Dan menurut hemat saya, membangun suatu kebiasaan baik yang kemudian dapat ditumbuhkembangkan menjadi kebiasaan kolektif suatu komunitas atau bahkan masyarakat tentunya memerlukan waktu yang tidak sehari-dua. Diperlukan waktu yang panjang dan banyak faktor yang saling terkait, baik dari sisi program, kedisiplinan dan konsistensi dalam menjalankannya, dan juga teladan dari pemimpinnya.

Rumitkah prosesnya..? Gak jugalah. Segalanya kalo dibuat rumit ya akan rumit. Kalau memang diniatkan sungguh-sungguh ya banyak cara yang bisa ditempuh.

Contohnya..? Yang paling terlihat adalah bagaimana kita mendidik anak-anak kita sendiri. Atau bagaimana orang tua kita mendidik kita dari kecil hingga sekarang. Itu adalah proses membangun karakter bangsa yang sesungguhnya.

Eh, lalu apa hubungannya dengan judul diatas..? Kenapa kata bangsa ditambahi huruf “t”..? Apakah salah tulis..?

Bukan salah tulis. Memang benar yang tertulis di judul adalah “bangsat”. Bangsat adalah kepinding atau kutu busuk yang biasa hidup di kasur atau tempat duduk kayu, dan hobinya adalah menghisap darah manusia.

Jika ada orang yang duduk atau tidur di tempat tersebut, si kutu busuk akan senang dan segera menggigit dan menghisap darah orang tersebut. Dia akan senang dalam sekejap, kemudian tidur atau berkembang biak. Selesai.

Lalu apa hubungannya “karakter bangsa” dengan “karakter bangsat”..?

Mungkin begini: Jika pendidikan atau “pembangunan” dilakukan dengan instan maka bagai memberi kesenangan sesaat tanpa hasil yang baik dan benar bagi peradaban manusia.

Demikian. : )