Home

Dari Sony ke OnePlus: Pindah Kelain Hati

Leave a comment


Dari Sony ke OnePlus

Dari Sony ke OnePlus

Bagi pencinta produk ponsel Sony, ini adalah perpindahan “berat”. Sekian tahun bertahan dengan kenyamanan Sony, yang dimulai dari Ericsson lalu menjadi Sony Ericsson kemudian menjadi Sony, saat ini berpindah kelain hati… :-)

Sila baca: HP Dari Masa Kemasa: Ericsson, Sony Ericsson, Sony…

Saya pergi ke negeri Paman Sam berbekal senjata Sony Xperia-C. Ponsel dengan layar lebar dan ber-SIM dua. Niatnya adalah menggunakan dua kartu SIM, satu kartu tetap kartu dari Indonesia sedangkan kartu lain adalah kartu SIM lokal Amerika. Hal ini sempat berjalan delapan bulan di tanah rantau, dan mulai terasa keperluan yang mendesak tetapi tidak terdukung oleh kemampuan Sony Xperia-C.

Xperia-C mempunyai 2G dan 3G Network. Sayang sekali 3G Network (HSDPA 900/2100) tidak masuk pada network provider yang saya pakai. Jadi komunikasi data hanya di 2G Network padahal disini sudah tersedia 4G LTE… berasa so yesterday:D

Saat sedang sounding ponsel kelas menengah menjadi tahu ternyata Sony adalah nama yang tidak terdengar di pasar ponsel Amerika. Tetiba muncul nama baru OnePlus One, ponsel yang tidak ada dipasaran. Lho kok..?

OnePlus One adalah ponsel produk Tiongkok yang menawarkan kemampuan prima dengan harga biasa-biasa saja. Pemasarannya tidak melalui toko daring apalagi toko konvensional seperti produk lainnya. Tidak ada iklan di Televisi atau media lain. Pengenalannya hanyalah melalui “dari mulut ke mulut” didunia maya. Pesan dan belipun secara daring melalui undangan (invitation).

Para penghobi teknologi ponsel menyandingkan OnePlus One dengan Samsung Galaxy S5, Nexus 5Oppo Find 7, Xperia Z2, maupun HTC One dan beberapa yang sekelasnya. Saya malah nggak terlalu tau kemampuan pembanding-pembanding ini, hanya tahu dari Youtube… :D

Entahlah, bagi saya yang penting sesuai dengan budget gadget dan punya kemampuan yang sesuai keperluan hidup disini. Cukup.

Salah satu video tentang review OnePlus One bisa dilihat berikut ini.

Review OnePlus One oleh akun Youtube Android Authority:

Sumber terkait:

Artikel ini terkait dengan blog tematik saya: Coming to America.

Monograf Model Alometrik untuk Pendugaan Biomassa di Indonesia

Leave a comment


Monograf ini merupakan hasil kajian peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan terhadap hasil-hasil penelitian terkait dengan model-model alometrik biomassa dan volume pohon yang sudah dikembangkan pada berbagai jenis pohon dan tipe ekosistem hutan di Indonesia. Monograf ini diharapkan akan menjadi input yang sangat penting bagi pengembangan Sistem Perhitungan Karbon Nasional Indonesia (Indonesian National Carbon Accounting System/INCAS).

Model alometrik pendugaan biomassa merupakan komponen dasar dalam sistem perhitungan karbon nasional dan perhitungan faktor emisi gas rumah kaca, terutama karbondioksida. Biomassa hutan perlu diukur karena perubahan biomassa dan stok karbon hutan berpengaruh terhadap konsentrasi karbondioksida di atmosfer.

—–

Buku dapat diunduh:

Memotret Dengan Rule of Thirds

3 Comments


Rule of Thirds

Rule of Thirds

Bagi fotografer, the Rule of Thirds bukanlah barang baru, bahkan mungkin sudah tergolong pemahaman kuno atau sangat mendasar. Bagi saya yang menyukai fotografi, dan bukanlah fotografer, rule of thirds tetaplah menjadi pegangan yang asik dalam membidikkan kamera semipoket atau bahkan kamera dari ponsel.

Rule of Thirds adalah salah satu prinsip komposisi dalam meletakkan obyek pada layar bidikan kamera. Prinsip dasarnya adalah dengan membayangkan pembagian bidang bidik pada layar kamera (LCD display ataupun tempat mata mengintip obyek) menjadi tiga bagian kolom dan tiga bagian baris. Layar menjadi sel dengan ukuran tiga kali tiga (seperti gambar diatas).

Peletakkan obyek ini mungkin akan berbeda saat mana kita bermain dengan bidikan makro ataupun permainan fokus, misalnya dengan obyek tajam tetapi latar belakang yang kabur. Berhubung senjata saya adalah bukan kamera SLR apalagi DSLR, maka prinsip komposisi rule of thirds menjadi andalan. :D

Bagaimana cara kita menggunakan rule of thirds ini..?

Obyek utama atau yang akan diunggulkan kita letakkan pada pertemuan/persimpangan garis (saya beri lingkaran hijau pada gambar diatas). Menurut rule of thirds, obyek tidak diletakkan pas ditengah bidang bidik, tetapi di salah satu atau lebih titik pertemuan itu. Atau jika obyek cenderung memanjang vertikal atau horisontal maka peletakkan adalah pada garis yang membagi bagian-bagian tersebut.

Saya mencoba dengan beberapa foto dibawah ini:

1. Posisi tanpa menggunakan rule of thirds, obyek unggulan saya adalah bangunan rumah, dan saya foto dengan meletakkan di tengah bidang bidik. Hasilnya adalah:

Tanpa menggunakan rule of thirds.

Tanpa menggunakan rule of thirds.

2. Pada foto berikut, dengan obyek utama yang sama, yaitu bangunan rumah, saya letakkan pada garis atas, sesuai pembagian bidang hayal dalam rule of thirds.

Menggunakan rule of thirds. Obyek pada garis atas.

Menggunakan rule of thirds. Obyek pada garis atas.

3. Foto ketiga berikut ini, saya meletakkan obyek utama pada garis rule of thirds bawah.

menggunakan rule of thirds, obyek di garis bagian bawah.

Menggunakan rule of thirds, obyek di garis bagian bawah.

Dari contoh tiga hasil bidikan diatas maka kita bisa menemukan keasyikkan dalam melihat. Silakan dibandingkan. Fokus pandangan kita akan lari kemana dan obyek apa yang diinginkan oleh si pemotret akan dengan mudah terjadi begitu saja pada foto yang mana. Lebih impresif yang mana. :-)

Dengan berbekal prinsip komposisi pembidikan ini maka kamera yang “biasa-biasa saja” dapat menghasilkan gambar yang lebih menarik, dengan penonjolan obyek tertentu yang lebih berhasil.

Dalam pengolahan foto dijital, terutama dalam melakukan crop, maka prinsip inipun bisa kita pakai. Demikian semoga berguna.

*/ : )

Bicara Lubang Kunci

2 Comments


lubang kunci

lubang kunci

Jangan bicara jika hanya mengintip dari lubang kunci. Buka pintu untuk kondisi yang hakiki…

Menjadi Narasumber LDR

2 Comments


Presentasi LDR

Presentasi LDR

Siapa bilang LDR (Long Distance Relationship) itu susah..? Dijaman kini LDR bisa dilakukan dengan asik dengan memanfaatkan teknologi. LDR yang saya maksud disini adalah tetap menjaga hubungan baik dengan semua pihak, termasuk rekan-rekan “sealiran” dalam dunia kajian remote sensing di tanah air.

Beberapa waktu lalu saya diminta pendapat mengenai satu bentukan modul pelatihan remote sensing dalam bidang kehutanan, yang akan menjadi modul pelatihan standar di Asia Tenggara melalui suatu proyek kerjasama antarnegara. Ibu Ayun, rekan yang saya kenal dari Facebook, kontak saya untuk terlibat dalam workshop dua hari di Bogor, yang diselenggarakan oleh Balitbang Kehutanan.

Berhubung saat ini saya ada di belahan lain dunia, maka kehadiran saya di Bogor adalah hanya dalam bentuk visual dan suara. Sebagian orang menyebutnya sebagai teleconference. Tapi mungkin juga kurang tepat istilahnya.

Saya dan panitia memanfaatkan aplikasi komunikasi di internet yang cukup handal yaitu Skype. Saya di Michigan menggunakan laptop yang dilengkapi dengan kamera, mikropon dan speaker (standar laptop), sementara panitia di Bogor juga sama ditambah dengan layar monitor yang disambungkan dengan proyektor. Sehingga secara visual peserta workshop dapat melihat saya sekaligus mendengar suara dari speaker di laptop panitia yang telah disambungkan ke sistem suara di ruangan.

Suatu konfigurasi peralatan yang sederhana, tetapi memang mengandalkan koneksi internet yang baik.

Alhamdulillah saya bisa mengunjungi Bogor dimulai jam 22 EST (sama dengan jam 9 WIB) hingga acara bagian saya selesai sekitar jam 23.30 EST. Saya bersapa dengan pak Adi Susmianto (Kapus Litbang Konservasi dan Rehabilitasi, Balibang Kehutanan), Bapak I Nengah Surati Jaya (Kehutanan IPB), Bapak Projo Danudoro (PUSPIC UGM) dan peserta lain yang saya tidak ketahui karena saya tidak melihat langsung :D

Walau tidak berada langsung di ruang workshop, saya bersiap dengan pakaian seolah hadir disana, dengan hem dan jas. Tentunya hal ini sangat diperlukan dalam rangka saling menghormati even yang berlangsung.

LDR seperti ini sangat penting dijaga dalam rangka saling memberi asupan perkembangan yang ada dalam dunia remote sensing.

Terimakasih untuk bu Ayun dan panitia yang telah melibatkan saya. Semoga beberapa masukan yang saya berikan dapat berguna bagi pengembangan modul pelatihan tersebut.

Terimakasih juga untuk pasukan di rumah yang setia menemani sampai larut malam, plus foto-foto aksi di belakang laptop saat acara berlangsung :D

*/ : )

Kekuatan Sedekah

8 Comments


...

Tahukah kamu kekuatan sedekah..? Rasanya ini pertanyaan klise dan jika ada yang bertanya maka dalam pikiran saya adalah: paling juga yang ngomong mau minta sumbangan. Tapi prasangka saya mengenai sedekah berubah sejak bertemu dan ngobrol dengan seorang rekan dalam perjalanan.

Kisah berikut ini adalah fiksi karena diceritakan oleh orang lain pada saya kemudian saya kacaukan dengan opini ataupun penjelasan dalam kalimat yang sangat mungkin tidak pas.

Sebut saja ia namanya… bukan, bukan Fulan, itu terlalu mainstream. Okelah sebut saja namanya Fauzan.

Saya bertemu dalam satu perjalanan di kampus. Kami berkenalan dan ngobrol disiang nan sejuk sembari memakan bekal kami di taman kampus. Tiba-tiba Fauzan berkata pada saya: Tahukah kamu, yang membawa saya ke tanah “Paman Sam” ini adalah karena kekuatan dari sedekah..?

Pertama yang muncul dalam pikiran saya adalah: wah mulai nih, gaya para ustaz seleb, ngomongnya lebay melayang-layang deh. Saya berusaha menahan diri dan sambil meneruskan makan siang saya mendengarkan celoteh lanjutannya.

Fauzan memulai cerita pengalamannya saat di tanah air. Ia adalah pegawai negeri sipil golongan III dengan gaji bulanan yang besarnya separuh dari kebutuhan normal keluarganya. Untuk menghidupi keluarga ia harus berakrobat dengan melakukan “pengasongan”. Istilah mengasong ini maksudnya adalah mroyek kecil-kecilan (walau kadang besar juga) sesuai keahlian diri diluar kegiatan kantor.

Dengan tingkat hidup yang sangat biasa itu, Fauzan tidak mampu untuk memiliki rumah walau sudah mengabdi sebagai PNS sekian belas tahun (tepatnya saya lupa). Anak-anaknya yang semakin besar di sekolah menengah memerlukan biaya yang tinggi untuk mendapatkan kesempatan menimba ilmu ditahapan yang katanya “pendidikan gratis” itu.

Cerita singkat kehidupan Fauzan ini tidaklah mengherankan saya yang merasakan hal serupa. Sama-sama PNS booo… :-)

Kondisi ini kemudian membuat Fauzan tidak lagi bermimpi untuk melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi, walau ia punya modal bagus dimana strata master telah ia dapatkan dari luar negeri juga.

Satu saat ia mendengar ceramah dari ustaz kondang via radio saat ia mampir buang air kecil di SPBU dalam perjalanan pulang tugas kantor dari Sumedang mengarah ke Jakarta. Walau selintas, Fauzan rupanya terkesan dengan kata-kata ustaz tersebut yang menyebutkan, kira-kira: bersedekahlah sejumlah A maka Allah akan membalas berlipat-lipat dari A.

Ia tidak tertarik dengan kata “berlipat” yang disebutkan sang ustaz, tapi anjuran sedekah itulah yang terngiang dalam benaknya. Ia ingin sekali bisa bersedekah, dalam artian materi, dengan cara “ekstrim” artinya tanpa perlu memikirkan akibat dari sedekahnya. Ia katakan ekstrim karena selama ini kalau ada uang lebih, saat ia sedekahkan, ia selalu ingat bahwa uang sejumlah sekian telah ia berikan pada si anu dalam rangka sedekah. Fauzan ingin sekali waktu melakukannya tanpa perlu mengingat ataupun diingat oleh pihak lain. Berikan dengan tangan kanan mu tanpa tangan kiri melihatnya.

Saya sebagai pendengar setia mulai tertarik. Udara sejuk saat summer di Michigan ini membuat asik orang ngobrol…

Fauzan melanjutkan. Satu ketika ia bertugas ke pelosok Indonesia. Perjalanan survey dengan jarak yang jauh dan berdurasi lama tentunya mengasyikkan, terutama jika dihitung jumlah rupiah yang bisa didapat sebagai sisa biaya perjalanan. Ia menghitung mungkin sekitar dua juta rupiah bisa dibawa pulang, lumayan untuk menambal lubang hutang keluarga bulan lalu.

Perjalanan lancar dan sampailah di lokasi survey. Pada hari kesekian, pas hari Jumat, ia mampir ke sebuah masjid. Masjid ini bangunan tua dan cukup menariknya antara lain adalah inilah pusat dari kegiatan umat Islam pada kota kecil yang sebagian besar penduduknya adalah muslim tetapi di daerah yang nonmuslim.

Jumat itu ia sempatkan hadir dalam masjid dan megikuti prosesi sebagaimana biasa. Selesai sholat, hujan turun dengan lebatnya. Banyak peserta sholat Jumat tertahan di dalam masjid. Fauzan segera melihat ada kesibukan lain di salah satu sudut di dalam masjid tersebut. Beberapa orang tua dan muda, sepertinya mereka adalah pengurus masjid, sedang menghitung uang kencleng dari kotak yang diedarkan sebelum sholat tadi. Lembaran warna-warni dan juga beberapa keping koin dikumpulkan dan dihitung bersama.

Fauzan tercenung, ia merasakan sesuatu yang sesuatu sekali. Ditengah suara hujan lebat di luar masjid dan keramaian orang yang masih tertahan di dalam masjid, ia merasa sesuatu… (halah… sesuatu lagi…)

Tiba-tiba ia merasa ingin sekali berbuat “ekstrim” seperti yang pernah ia canangkan sekian tahun lalu, saat mendengar ceramah ustaz via radio di SPBU itu.

Ia mendekat ke para pengurus masjid yang sedang menghitung uang kencleng tadi. Setelah menyapa dengan ucapan Assalamualaikum, Fauzan bertanya: apakah saya masih boleh menambahkan sedikit..? Salah satu tetua yang duduk paling dekat dengannya menjawab: Silakan mas, seikhlasnya. Ini semua untuk pembangunan dan perawatan masjid serta untuk sekolah membaca Al Quran anak-anak disini.

Fauzan mengeluarkan dompet, tanpa melihat isinya, ia keluarkan semua isinya dan dilipat. Benar-benar hanya dengan satu tangan dan tanpa dilihat matanya sama sekali. Semua lembaran merah yang ada didompetnya digenggam dalam satu tangan dan diletakkan langsung pada tumpukan uang yang sedang dihitung. Tanpa ba-bi-bu lagi Fauzan mengucapkan salam kemudian segera keluar dari masjid.

Derasnya hujan ia lupakan, terus berjalan dan masuk mobil yang ia gunakan survey dalam kondisi kuyup. Ia meminta supir untuk segera meninggalkan lokasi. Dan karena ia masih dalam perjalanan tugas maka ia harus mampir ke ATM terdekat untuk mengambil dana agar pekerjaan dapat dilanjutkan, karen dompetnya sudah kosong. Ia tidak mau memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Dalam perjalanan tugasnya kemudian, Fauzan dapat menyelesaikan semua tugas dengan baik, dan anggaran survey dapat dipenuhi peruntukannya dengan benar. Ia baru sadar bahwa tidak ada lagi tersisa rupiah yang bisa dibawa pulang. Mmm tak apalah, katanya dalam hati. Besok ngasong lagi, insya Allah bisa mendapatkan materi.

Tiba-tiba Fauzan bertanya pada saya: apa yang kemudian terjadi beberapa waktu kemudian pada saya dan keluarga, kamu tahu..?

Ya enggak lah, saya kan bukan paranormal, kata saya becanda :D

Fauzan melanjutkan: setelah saya disini, di Amerika ini, melanjutkan program sekolah saya, semua itu baru saya sadari. Dua tahun setelah kejadian itu baru semua saya sadari..!, katanya.

Maksudloh… (kata saya dalam hati…) :D

Ia merasakan ada hal yang luar biasa ia alami, keluarganya dapatkan, yang diluar perhitungan orang normal seperti dia. Setidaknya, yang Fauzan kemudian sadari adalah: dalam dua tahun setelah kejadian di pelosok Indonesia itu, semua hil yang mustahal terjadi.

Pertama, ia ditawari sekolah oleh Profesor di Amerika yang belum lama ia kenal. Entah melalui siapa si Profesor mengetahui latarbelakang Fauzan dan tertarik untuk merekrutnya dalam kegiatan penelitian di Amerika dengan imbalan beasiswa. Kedua, pada saat bersamaan, ia (dan keluarga) berkesempatan membangun dan memiliki sebuah rumah mungil ukuran standar tipe 45 (dua kamar tanpa dapur) dengan cicilan KPR BTN terjangkau.

Semua pengurusan surat-menyurat pendukung kepergian ke Amerika sangat dimudahkan, baik surat dari kantornya, dari sekolah saat ia mengambil master di luar negeri, dan surat-surat keimigrasian, baik dari imigrasi Indonesia maupun dari imigrasi Amerika.

Tidak ada uang sogokan pada pihak siapapun dalam pengurusan surat-surat ini. Semua sesuai prosedur. Yang “kata orang” bakal sangat sulit didapat… eh… ini mudah sekali mendapatkannya.

Fauzan berangkat ke Amerika dengan keluarga dan… semua berjalan dengan mulus juga.

Semua ini ia sadari setelah lama merenung dan mengalkulasi: kenapa ia bisa ada di Amerika saat ini. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika dihitung detil semua yang ada.

Ia kemudian menggarisbawahi bahwa ia yakin ini semua adalah akibat dari sedekah “ekstrim”. Sesuatu yang ia lakukan spontan tetapi dalam kesadaran penuh bahwa yang ia berikan insya Allah tidaklah sia-sia bagi sesama. Sedekah dengan rasa ikhlas yang total tanpa perlu pikir perkalian dari sejumlah tertentu yang telah diberikan.

Allah akan memberikan yang kita perlukan, bukanlah selalu yang kita inginkan.

Maksi kami selesai, ia segera pamit, dan entah kapan lagi kami bertemu ditengah kesibukan masing-masing di kampus ini.

Fauzan membuat saya berpikir untuk berbuat “ekstrim” serupa, entah kapan… Berani gak ya…? :-)

*/ : )

Quick Count Niat

2 Comments


Sumber: myteacuppprayers.org

Sumber gambar: myteacuppprayers.org

Jumat kali ini saya kepikiran bagaimana menghitung cepat keberhasilan niat saya. Niat kok dihitung? Emangnya bisa?

Begini, pertama “quick count” yg saya maksud disini tidak terkait dengan ilmu statistik, apalagi terkait dgn timses tertentu. Quick count disini adalah hitung secara sederhana sehingga cepat dipahami (oleh saya) dan gak perlu proposal apalagi klarifikasi metode… :D

Kedua, ritual “jumatan” yg saya lakukan perlu ukuran “keberhasilan” dari niat awal: sholat Jumat yg bener.

Maka kemudian saya pakai ukuran:

  1. Saya mau dan datang ke Masjid saat waktu Jumat walau jalan kaki kedinginan/keujanan: 10%,
  2. Duduk di barisan depan (tanpa perlu digusah2) dan menahan diri tidak ngobrol apalagi main hp: 20%,
  3. Tidak tidur sedetikpun saat khotib berbicara walau sikon sangat kondusif untuk hal itu: 40%,
  4. Mampu menangkap (walau mungkin tdk paham secara utuh karna pikiran kadang melayang) isi dari khotbah: 30%.

Kalau dijumlahkan mudah-mudahan 100% ya. Kalau lebih dari 100% berarti “memang beda”.

Sekali lagi ini quick count dari keberhasilan niat saya dalam ritual jumatan. Nilai perhitungan sesungguhnya (real count) bukan urusan saya. Saya serahkan pada keputusan KPU (Komisi Penilai Untukniatsaya)

Demikian. Nggak perlu dibalas.

*/ jakasembung..! :D

———-

Repost dari status facebook, Jumat, 11 Juli 2014.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,284 other followers